Jiuquan (ANTARA News) - China akan meluncurkan laboratorium antariksa Tiangong-2 dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan di Gurun Gobi yang ada di bagian barat negeri itu pada Kamis pukul 22.04 waktu setempat sebagai bagian dari program antariksa ambisius yang ditujukan untuk membangun stasiun antariksa berawak sekitar tahun 2022.

Para perekayasa sudah mulai menyuntikkan bahan bakar ke roket Long March-2F T2 yang akan membawa Tiangong-2 ke antariksa menurut Wu Ping, deputi direktur kantor rekayasa luar angkasa berawak pada Rabu petang (14/9).

"Seluruh sistem sudah siap untuk lepas landas," katanya sebagaimana dikutip kantor berita Xinhua.

"Peluncuran Tiangong-2 akan meletakkan dasar solid bagi pembangunan dan operasi stasiun ruang angkasa permanen di masa depan," katanya.

Setelah berada di antariksa, Tiangong-2 yang beratnya 8,6 ton akan mengatur siasat menuju orbit sekitar 380 kilometer di atas Bumi untuk uji orbit awal.

Selanjutnya Tiangong-2 akan bergerak ke orbit lebih tinggi sekitar 393 kilometer di atas permukaan Bumi sebelum pesawat antariksa berawak Shenzhou-11 membawa dua astronot ke antariksa untuk merapat ke laboratorium tersebut.

Kedua astronot akan bekerja di Tiangong-2 selama 30 hari, sebelum kembali memasuki atmosfer Bumi.

Pada April 2017, pesawat kargo pertama China, Tianzhou-1, juga akan dikirim ke orbit untuk merapat ke Tiangong-2 dan menyediakan bakar serta pasokan lainnya.

Wu mengatakan para ahli akan memeriksa dan mengevaluasi teknologi utama yang terlibat dalam pemasokan kembali bahan bakar di orbit dan perbaikan peralatan yang berkaitan dengan masa tinggal lama astronot di antariksa.

Mereka juga akan menggunakan laboratorium yang dirancang beroperasi selama sedikitnya dua tahun itu untuk menjalankan penelitian ilmiah antariksa dalam skala yang relatif lebih besar dibandingkan dengan upaya China sebelumnya.

Dengan panjang 10,4 meter dan diameter maksimum 3,35 meter, Tiangong-2 mirip dengan pendahulunya Tiangong-1, yang diluncurkan tahun 2011 dan mengakhiri layanan datanya tahun ini, namun ruang tinggal dan pendukung hidupnya telah diperbaiki untuk memungkinkan para astronot tinggal lebih lama di antariksa.

Tiangong-2, yang semula dibuat sebagai cadangan Tiangong-1, bisa menampung dua astronot sampai 30 hari dan bisa menerima pesawat kargo dan pesawat berawak.

Setelah berada di dalam Tiangong-2, kedua astronot akan melakukan penelitian ilmiah terkait pengobatan dalam kedirgantaraan, fisika dan biologi antariksa dan perbaikan perlengkapan di orbit.

Lebih dari 40 penelitian ilmu antariksa dan terapannya akan dijalankan di dalam Tiangong-2, yang muatannya meliputi POLAR, kolaborasi lembaga Swiss, Polandia dan China untuk mempelajari ledakan sinar gamma.

Bersama Tiangong-2, juga akan dibawa satelit mikro yang akan mengorbit dekat dengan laboratorium antariksa itu.


Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2016