Minggu, 24 September 2017

Hukuman belum cukup untuk lindungi orangutan, perlu apalagi?

| 5.667 Views
Hukuman belum cukup untuk lindungi orangutan, perlu apalagi?
Anggota SHARP Greenerator berdiskusi untuk memecahkan misi dan tantangan dari Yayasan Borneo Orangutan Survival di Kebun Binatang Ragunan, Jakarta, Kamis (27/7/2017). (HO/Sharp)
Jakarta (ANTARA News) - Peraturan dan hukuman nampaknya belum cukup untuk melindungi keberadaan orangutan.

Penyebaran informasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat melindungi orangutan menjadi hal penting yang tak boleh terlupakan. 

Atas dasar itulah, SHARP bersama Yayasan Borneo Orangutan Survival mengajak anak-anak mempelajari mengenai karakteristik spesies orangutan dan pemberian materi mengenai tahapan-tahapan kegiatan konservasi orangutan (khususnya orangutan Borneo) dan habitatnya. 

"Kami mengharapkan agar anak-anak ini mengerti dan mampu menyebarkan informasi jika kehidupan orangutan sudah terancam keberadaannya. Hilangnya populasi orangutan dapat berakibat terhadap keberadaan jenis pohon dan hutan juga,” ungkap Herdiana Anita Pisceria, selaku General Manager Brand Strategy Group PT Sharp Electronics Indonesia dalam keterangan tertulisnya, Kamis. 

Dalam kegiatan yang berlangsung di Pusat Primata Schmutzer, Kebun Binatang Ragunan, Jakarta itu dijelaskan bahwa orangutan adalah spesies kera besar satu-satunya di Asia, terbagi dalam dua spesies generik, yaitu Pongo pygmaeus dan Pongo abelii. 

Sebesar 90 persen dari populasi orangutan ini hidup di Indonesia, sementara 10% sisanya dapat ditemukan di Sabah dan Sarawak, Malaysia. 

Di Indonesia, orangutan hanya hidup di Pulau Kalimantan yang tersebar di Kalimantan Barat, Tengah dan Timur sedangkan di Sumatra, populasi terbesar ditemukan di ekosistem Leuser.

Orangutan Sumatra maupun orangutan Borneo terancam oleh kepunahan, oleh karena itu, di Indonesia dan Malaysia, orangutan sudah dilindungi secara hukum.

World Conservation Union (Daftar Merah IUCN 2016 / IUCN Red List 2016) mengklasifikasikan orangutan Borneo dan Sumatera sebagai spesies yang sangat terancam punah (critically endangered).

Sementara di Sumatra telah diklasifikasikan sebagai spesies yang sangat terancam punah (critically endangered). Kedua spesies orangutan ini pun telah tercantum dalam Lampiran I Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Langka Fauna dan Flora Liar (CITES). 

Kebakaran hutan, konversi lahan, pembalakan liar, sampai dengan perburuan dan perdagangan liar orangutan untuk dijadikan hewan peliharaan masih sering terjadi sampai saat ini.

Saat ini populasi orangutan di Indonesia hanya menyisakan sekitar 54,000 ekor orangutan Borneo dan 6,500 ekor orangutan Sumatra, menurun 82 persen sejak 75 tahun yang lalu. 

Dalam kesempatan itu, Fundraising Coordinator Yayasan Borneo Orangutan Survival, Yeni Novitasari menjelaskan bahwa orangutan merupakan penyebar benih yang efektif dan berperan penting dalam menstabilkan hutan hujan.

Mereka merupakan hewan arboreal yang hidup dan beraktifitas diatas pohon, kemampuannya bergelantungan di ketinggian untuk membuat sarang secara tidak langsung membantu proses potosintesis dalam hutan yaitu dengan cara mematahkan dahan dan ranting hingga sinar matahari mampu masuk kedalam hutan. 

"Jadi sudah sepatutnya kita menjaga keberadaan orangutan agar hutan hujan di Indonesia tetap terjaga kelestariannya dan juga berdampak pada hewan lain yang tinggal di dalamnya,” jelas dia.

Editor: Gilang Galiartha

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga