Jumat, 22 September 2017

Napak Tilas Proklamasi (2) - Kekecewaan pemuda dan rencana menculik Soekarno-Hatta

| 11.130 Views
Napak Tilas Proklamasi (2) - Kekecewaan pemuda dan rencana menculik Soekarno-Hatta
Tiga anak bermain di bawah diorama proklamasi di Monumen Kebulatan Tekad di Rengasdengklok, Karawang, Sabtu (17/8). Monumen tersebut adalah bekas markas PETA dan menjadi saksi bahwa pada 16 Agustus 1945, sehari sebelum proklamasi kemerdekaan, sudah dilangsungkan upacara pengibaran bendera merah putih di tempat itu. (ANTARA FOTO/Paramayuda)
Setidaknya terdapat dua situs peringatan sejarah Rengasdengklok di Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, yaitu Monumen Kebulatan Tekad dan Rumah Bersejarah Rengasdengklok.

Dari Kantor Camat Rengasdengklok, Monumen Kebulatan Tekad yang ada di Jalan Tugu Proklamasi hanya berjarak tidak lebih dari 1,5 kilometer. Sedangkan Rumah Bersejarah Rengasdengklok hanya berjarak tidak sampai 150 meter dari Monumen Kebulatan Tekad.

Monumen Kebulatan Tekad berupa sebuah tugu putih kecil yang berdiri di atas undakan yang terdiri atas lima trap berwarna kemerahan. Tubuh tugu berbentuk limas segi empat dengan bagian muka terdapat gambar peta Kepulauan Indonesia dan tulisan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Di atas tubuh tugu terdapat bola berwarna putih bertuliskan "17.AUG.1945" yang merupakan tanggal Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dengan puncak sebuah tangan kiri mengepal berwarna keemasan.

"Monumen itu didirikan di lokasi markas Pembela Tanah Air (PETA) di Rengasdengklok. Sekarang markasnya sudah tidak ada," kata Lanny Yanto Djoewari, ahli waris pemilik Rumah Bersejarah Rengasdengklok.

Lanny mengatakan tugu yang ada pada Monumen Kebulatan Tekad merupakan perlambang bahwa Soekarno dan Mohammad Hatta dengan kelompok pemuda sudah memiliki kebulatan tekad yang sama tentang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Rengasdengklok merupakan salah satu lokasi penting dalam sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Bisa dikatakan, Soekarno-Hatta akhirnya bersepakat dengan kelompok pemuda tentang pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di tempat itu.

Pikiran di kepala pun mencoba membayangkan situasi di Jakarta pada malam 15 Agustus 1945. Setelah "bertengkar" dengan Soekarno-Hatta di rumah Soekarno, Wikana dan Darwis kemudian menuju Jalan Cikini 71, salah satu markas kelompok pemuda.

Sejarawan Rusdhi Hoesein menuturkan, kelompok pemuda kemudian mengadakan rapat di Jalan Menteng 31 yang tempatnya lebih luas. Rapat juga diikuti oleh kelompok Soekarni dan PETA.

Rapat itu membicarakan perbedaan pendapat dengan Soekarno-Hatta. Menurut Rusdhy, kelompok pemuda menganggap posisi Soekarno-Hatta sangat mudah dipengaruhi dan terpengaruh Jepang.

"Salah satu pemuda, yaitu Johar Noor, kemudian mengusulkan untuk menculik Soekarno-Hatta. Pemuda yang lain setuju. Kemudian dipilih Rengasdengklok yang menjadi salah satu markas PETA," katanya.

Sutan Syahrir, yang tidak ikut rapat, akhirnya mendengar rencana tersebut dari Soebadio pada tengah malam. Dia sendiri tidak setuju dengan rencana tersebut. Namun, karena sudah menjadi keputusan rapat, dia tidak bisa berbuat apa-apa.

Rusdhy mengatakan saat itu markas PETA di Rengasdengklok dipimpin oleh Soebeno dan terdiri dari tiga peleton. Rengasdengklok dipilih karena sudah dikuasai sepenuhnya oleh PETA.

Akhirnya, 16 Agustus 1945 pagi, sekitar pukul 04.30, Soekarno-Hatta dijemput oleh kelompok pemuda dari rumahnya masing-masing. Sebagian pemuda yang sudah menjemput Hatta, kemudian bergabung dengan pemuda lain yang menjemput Soekarno di rumahnya.

"Bung Karno tidak melawan saat dia dan keluarganya dibawa. Bung Hatta yang sempat marah-marah dan menyindir para pemuda `Mana revolusi yang akan dilakukan?`," kata Rusdhy.

Agar tidak dicurigai tentara Jepang yang berjaga-jaga di Jakarta, Soekarno-Hatta memakai seragam PETA saat dibawa. Menurut Rusdhy, itu untuk memberikan kesan bahwa mereka adalah rombongan PETA yang akan berangkat latihan.

Soekarno sekeluarga; istrinya, Fatmawati, dan putranya, Guntur; naik mobil yang dikemudikan Winoto Danu Asmoro. Sedangkan Hatta satu mobil dengan Soekarni dan Yusuf Kunto. Selain itu masih ada satu mobil lain yang berisi anggota PETA yang dipimpin Singgih yang bertugas mengawal rombongan Soekarno-Hatta.

Soekarno-Hatta tiba di Rengasdengklok sekitar pukul 07.00 dan disambut gembira oleh seluruh anggota PETA.

Dalam "Seputar Proklamasi Kemerdekaan" (2015) yang diterbitkan "Penerbit Buku Kompas", Latief Hendraningrat mengatakan Soekarno-Hatta bukan diculik, melainkan dijauhkan dari Jakarta agar tidak dipengaruhi pimpinan militer dan pemerintahan Jepang.

Menurut Latief, tentara Jepang secara "de facto" tetap berkuasa di Indonesia, atas perintah Sekutu, untuk memelihara ketertiban. Apalagi, tentara Jepang masih memiliki senjata lengkap.

Saat kejadian itu, Latief merupakan anggota PETA berpangkat "cudanco" yang berada di bawah "Jakarta-syoo Dai Ichi Daidan" pimpinan "Daidanco" Kasman Singodimedjo.

Karena semua "daidanco" harus ke Bandung untuk mengikuti sebuah pertemuan, maka Latief sebagai "cudanco" yang paling tua mengepalai "daidan" tersebut. Latief pula yang menyediakan segala keperluan untuk membawa Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok.



Mencari Soekarno-Hatta

Menurut buku komik "Peristiwa Sekitar Proklamasi" yang diterbitkan Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Ahmad Soebardjo baru mengetahui Soekarno-Hatta hilang dari Jakarta setelah mendapat laporan dari sekretaris pribadinya sekitar pukul 08.00.

Soebardjo, yang bekerja di Kantor Penghubung Angkatan Laut Jepang, kemudian menelepon Markas Angkatan Laut Jepang. Dia meminta berbicara dengan Shigetada Nishijima, salah seorang penerjemah bagi Laksamana Muda Tadashi Maeda, untuk memberitahukan Soekarno-Hatta hilang.

Setelah itu, Soebardjo juga menemui Maeda secara pribadi di rumahnya untuk membicarakan keberadaan Soekarno-Hatta. Soebardjo khawatir Soekarno-Hatta diculik penguasa militer Jepang dan keselamatannya terancam, karena itu dia meminta bantuan Maeda.

Pada saat itu, Angkatan Laut Jepang memang memiliki sikap yang berbeda dengan Angkatan Darat Jepang. Angkatan Laut terlihat lebih simpati dengan usaha kemerdekaan Indonesia, daripada Angkatan Darat yang lebih keras.

Maeda juga terkejut dengan Soekarno-Hatta yang dinyatakan hilang. Dia sendiri khawatir hal itu akan menyebabkan keresahan besar di antara orang-orang Indonesia. Maeda berjanji akan membantu mencari Soekarno-Hatta dan memerintahkan Nishijima mencari informasi.

Maeda kemudian pergi ke markas penguasa militer Jepang untuk menanyakan keberadaan Soekarno-Hatta. Ternyata mereka juga tidak tahu di mana Soekarno-Hatta.

Dalam "Seputar Proklamasi Kemerdekaan" (2015) pada bagian "Kesaksian Shigetada Nishijima", setelah mendengar dari Soebardjo tentang Soekarno-Hatta yang hilang, Nishijima kemudian melapor kepada Maeda.

Nishijima kemudian mencari informasi keberadaan Soekarno-Hatta sesuai perintah Maeda. Dia mendatangi Wikana, yang juga bekerja di Kantor Penghubung Angkatan Laut Jepang, di rumahnya untuk menanyakan apakah dia tahu keberadaan Soekarno-Hatta.

Wikana menjawab tidak tahu. Namun, Nishijima menangkap kegugupan dan kegelisahan Wikana, sehingga terus mendesaknya.

Akhirnya Wikana mengatakan gerakan kemerdekaan harus diperjuangkan, bukan sebagai upah yang diterima dari orang lain, meskipun harus dicapai dengan kekerasan.

Tentang Wikana sendiri, Nishijima menuturkan dia merupakan mantan anggota Partai Nasional Indonesia (PNI) yang pada masa pendudukan Belanda beberapa kali ditangkap pemerintah Hindia Belanda.

Wikana adalah salah satu tokoh pemuda yang dapat dipandang revolusioner nasionalis sehingga memiliki keberatan-keberatan terhadap orang-orang Jepang.

Nishijima takut Wikana dan kelompoknya akan melakukan pemberontakan karena dia mengisyaratkan mereka berniat menduduki pemancar radio dan menyiarkan ke seluruh dunia bahwa Indonesia telah merdeka.

Setelah terus didesak, Wikana akhirnya mengatakan tidak bisa berbuat apa-apa karena dia tidak bergerak sendiri. Setelah lama bercakap-cakap, Wikana berjanji akan bertanya terlebih dahulu kepada kawan-kawannya.

Mereka kemudian berpisah. Setelah mendapat kabar dari Wikana, Nishijima kembali menemuinya. Wikana menyatakan dia dan kelompoknya memutuskan tidak akan berbicara dengan para militer Jepang karena mereka selalu berbohong.

Namun, Wikana menyatakan dapat mendatangkan Soekarno-Hatta asalkan keselamatan mereka dijamin Maeda. Soekarno-Hatta dapat berbicara dengan militer Jepang di bawah perlindungan Maeda.

Nishijima kemudian pergi untuk menemui Maeda. Kepada Maeda, Nishijima melaporkan hasil pembicaraannya dengan Wikana termasuk kemungkinan pemberontakan yang akan dilakukan para pemuda revolusioner yang memiliki pengaruh terhadap PETA dan Heiho yang masih menguasai senjata.

Maeda kemudian menyatakan sanggup menjamin keselamatan Soekarno-Hatta. Dia juga akan menginformasikan kemungkinan pemberontakan itu kepada staf militer sehingga pemancar radio kemudian dijaga 300 hingga 500 tentara Jepang.

Sementara itu, dari rumah Maeda, Soebardjo menuju kantornya dan memanggil Wikana untuk menanyakan keberadaan Soekarno-Hatta. Tidak lama kemudian, datang Nishijima yang menyatakan Maeda akan mendukung proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Kemudian datang Yusuf Kunto. Soebardjo kemudian membujuk dua pemuda itu untuk mengembalikan Soekarno-Hatta ke Jakarta serta memberikan jaminan bahwa kemerdekaan Indonesia akan segera terlaksana.

Akhirnya, Wikana, ketua pemuda revolusioner, mau menunjukkan di mana Soekarno-Hatta berada. (bersambung)

Napak Tilas Proklamasi (8-habis) - Penyebarluasan berita proklamasi ke seluruh dunia

Editor: Unggul Tri Ratomo

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga