counter

This is April targetkan miliki toko di Singapura dan Brunei

This is April targetkan miliki toko di Singapura dan Brunei

Pendiri sekaligus CEO This is April (TIA) Maria Anggriani saat menghadiri acara Exabytes eCommerce Conference (EEC) 2019 di Citywalk Sudirman, Jakarta, Rabu (14/8/2019). ANTARA/A Rauf Andar Adipati

Saat ini sedang diprospek untuk toko di Brunei dan Singapura
Jakarta (ANTARA) - Salah satu jenama atau merek busana wanita papan atas Indonesia, This is April (TIA), menargetkan pada 2020 memiliki 100 toko fisik.

"Targetnya pada 2020 kami memiliki 100 toko (fisik), saat ini sedang diprospek untuk toko di Brunei dan Singapura," kata pendiri merangkap CEO This is April Maria Anggriani setelah menjadi pembicara Exabytes eCommerce Conference (EEC) 2019 di Jakarta, Rabu.

Saat ini TIA telah memiliki 65 toko fisik di berbagai daerah seluruh Indonesia, dengan  satu toko berada di luar negeri yakni  Malaysia.

Perempuan dengan latar belakang pendidikan perhotelan itu membagikan tipsnya untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar dapat bertahan di tengah persaingan bisnis.

Maria menuturkan bahwa pada tahun-tahun pertama, para pengusaha yang sedang merintis harus mampu menahan godaan untuk menggunakan keuntungan sebesar-besarnya dan fokus untuk memutar yang ada.

Maria juga bersyukur bahwa saat ini masyarakat semakin melek teknologi, sehingga terjadi pergeseran pola pikir, yakni sebelumnya para pembeli pakaian harus melihat barang yang ingin dibeli secara langsung, namun kini para pembeli berani bertransaksi melalui toko dalam jaringan (daring).

Ia mengakui bahwa saat ini mayoritas transaksi masih didominasi pembelian konvensional, namun menurut Maria keberadaan toko fisik di suatu daerah berdampak signifikan terhadap transaksi daring di daerah tersebut. TIA sendiri saat ini rata-rata menjual 350 barang setiap harinya.

Selain menargetkan memiliki 100 toko pada tahun depan, Maria memiliki mimpi besar agar produk-produk busananya dapat menancapkan kuku di Asia.

Tanpa ragu, ia menyampaikan mimpi agar TIA suatu saat dapat menjadi trend setter di Asia, menandingi jenama-jenama asal luar negeri yang telah eksis terlebih dahulu.

Baca juga: Giordano gandeng ilustrator lokal kampanyekan "Irreplaceable Pride"
Baca juga: Bambang Brodjonegoro ingin industri fesyen Indonesia saingi Uniqlo

Baca juga: Tiga merek fesyen Indonesia pameran di Paris

SLTA di Serang Siap Menghadapi UNBK

Pewarta: A Rauf Andar Adipati
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar