counter

Harga minyak naik di Asia menyusul serangan fasilitas minyak Saudi

Harga minyak naik di Asia menyusul serangan fasilitas minyak Saudi

Ilustrasi harga minyak naik. (ANTARANEWS/Ardika)

Harga naik setelah serangan pesawat tak berawak oleh kelompok Houthi Yaman di ladang minyak di Arab Saudi timur pada Sabtu (17/8/2019) ...
Singapura (ANTARA) - Harga minyak mentah naik di perdagangan Asia pada Senin pagi, menyusul serangan akhir pekan terhadap fasilitas minyak Saudi oleh separatis Yaman, meskipun kenaikan harga dibatasi oleh laporan OPEC yang suram luar biasa, memicu kekhawatiran tentang pertumbuhan permintaan.

Minyak mentah Brent naik 45 sen atau 0,8 persen menjadi diperdagangkan di 59,09 dolar AS per barel pada pukul 00.35 GMT (07.35 WIB). Sementara itu minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bertambah 39 sen atau 0,7 persen menjadi diperdagangkan pada 55,26 dolar AS per barel.

Harga naik setelah serangan pesawat tak berawak oleh kelompok Houthi Yaman di ladang minyak di Arab Saudi timur pada Sabtu (17/8/2019) menambah ketegangan Timur Tengah. Serangan itu menyebabkan kebakaran di sebuah pabrik gas, tetapi Saudi Aramco yang dikelola pemerintah mengatakan produksi minyak tidak terpengaruh.

Namun, kekhawatiran tentang resesi ekonomi dan dampaknya terhadap pertumbuhan permintaan minyak menekan harga.

Dalam laporan bulanan, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) memangkas perkiraan pertumbuhan permintaan minyak global pada 2019 sebesar 40.000 barel per hari (bph) menjadi 1,10 juta barel per hari dan mengindikasikan pasar akan sedikit surplus pada 2020.

Jarang bagi OPEC untuk memberikan pandangan ke depan yang bearish pada prospek pasar.

Presiden AS Donald Trump dan pejabat tinggi Gedung Putih menepis kekhawatiran bahwa pertumbuhan ekonomi mungkin goyah, dengan mengatakan pada Minggu (18/8/2019) mereka melihat sedikit risiko resesi dan bersikeras perang dagang mereka dengan China tidak merusak Amerika Serikat.

Trump kurang optimis dibandingkan para pembantunya dalam mencapai kesepakatan perdagangan dengan China, mengatakan bahwa meskipun dia yakin China siap untuk mencapai kesepakatan, "Saya belum siap untuk membuat kesepakatan."

Juga membebani harga, perusahaan-perusahaan energi AS minggu ini meningkatkan jumlah rig minyak yang beroperasi untuk pertama kalinya dalam tujuh minggu, meskipun ada rencana oleh sebagian besar produsen untuk memotong pengeluaran untuk pengeboran baru tahun ini.

Perusahaan menambahkan enam rig minyak dalam seminggu hingga 16 Agustus, kenaikan terbesar sejak April, menjadikan jumlah rig yang beroperasi sebanyak 770 rig, kata perusahaan jasa energi General Energy Co, Baker Hughes pada Jumat (16/8/2019).
Baca juga: Harga minyak naik didukung berkurangnya kekhawatiran resesi
Baca juga: Harga minyak Asia naik seiring berkurangnya kekhawatiran resesi global

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar