counter

SDM Unggul Indonesia Maju

Kemenristekdikti: SCKD "jembatan" bagi peneliti pemula bermitra

Kemenristekdikti: SCKD "jembatan" bagi peneliti pemula bermitra

Konferensi pers yang dihadiri oleh Sesditjen SDID Kemenristekdikti, Prof Anandho Wijanarko (paling kiri),di Jakarta, Sabtu (24/8/2019). (ANTARA/Indriani)

Ada keinginan pemerintah untuk menyekolahkan sebanyak 200 putra-putri terbaik di kampus top luar negeri. Dalam hal ini peran dari diaspora sendiri sangat diperlukan dalam mewujudkan hal itu.
Jakarta (ANTARA) - Sekretaris Jenderal Ditjen Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID) Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Anandho Wijanarko mengatakan Simposium Cendikia Kelas Dunia (SCKD) merupakan "jembatan" bagi peneliti pemula untuk bermitra dengan peneliti luar negeri.

"Kami berharap dengan SCKD terus berlanjut, karena ini merupakan jembatan bagi peneliti pemula untuk bermitra dengan peneliti luar negeri," ujar Anandho usai penutupan SCKD di Jakarta, Sabtu.

Menurut dia, jejaring yang dimiliki para diaspora sangat diperlukan untuk membantu peneliti muda dalam mengembangkan karirnya. Oleh karena itu, pihaknya akan mengupayakan agar pelaksanaan SCKD terus berlanjut setiap tahunnya. Tahun ini merupakan tahun keempat pelaksanaan SCKD.

"Kami berharap para peneliti muda di Tanah Air bisa menjalin komunikasi yang baik dengan para senior di luar negeri."

Baca juga: Menristekdikti dukung ilmuwan diaspora ikut serta bangun SDM

Baca juga: Kemenristekdikti: SCKD forum diaspora bangun bangsa


Ketua Akademi Ilmuwan Muda Indonesia, Alan Koropitan, mengatakan apa yang dilakukan para diaspora ini sejalan dengan pidato Presiden mengenai sumber daya manusia (SDM) unggul.

"Ada keinginan pemerintah untuk menyekolahkan sebanyak 200 putra-putri terbaik di kampus top luar negeri. Dalam hal ini peran dari diaspora sendiri sangat diperlukan dalam mewujudkan hal itu," katanya.

Ke depan, kata Alan, pihaknya berupaya untuk membuat basis data siswa-siswa berbakat untuk menjadi peneliti, yang kemudian akan disekolahkan ke luar negeri.

Dari hasil SCKD 2018 lalu, kolaborasi antara ilmuwan diaspora Indonesia dengan ilmuwan dalam negeri telah menghasilkan 25 jurnal yang sedang dikaji, 30 jurnal yang sudah didaftarkan, 18 jurnal manuskrip, 35 jurnal yang sudah diterima, 28 prosiding, 90 jurnal yang sudah publikasi,dan 18 konferensi hingga kursus pendek di universitas terbaik dunia.*

Baca juga: SCKD akan dihadiri 55 ilmuwan diaspora

Baca juga: Kemenristekdikti ajak 57 ilmuwan diaspora bangun SDM

Pewarta: Indriani
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Prioritaskan SDM, skema Manajemen Talenta Indonesia segera dirampungkan

Komentar