counter

Tokoh Muda Sulut : Habibie bukti kecerdasan intelektual

Tokoh Muda Sulut : Habibie bukti kecerdasan intelektual

FILE FOTO: Presiden ketiga RI BJ Habibie (kiri) usai melakukan pertemuan tertutup di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (24/5/2019). Dalam pertemuan tersebut BJ Habibie mengucapkan selamat atas terpilihnya kembali Presiden Joko Widodo untuk periode 2019-2024 berdasarkan hasil rekapitulasi KPU, serta berpesan agar proses pemilu tidak membuat bangsa pecah dan menghambat pembangunan. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/wsj/am.

Manado (ANTARA) - Tokoh muda Sulawesi Utara Piet H Pusung mengatakan Presiden ketiga RI BJ Habibie adalah bukti kecerdasan intelektual yang diakui di mata dunia.
RI"BJ Habibie adalah bukti bahwa kecerdasan intelektual dan cinta sejati bisa berjalan beriringan," kata Piet di Manado, Rabu.

Ia mengatakan teknologi pesawat N-250 hasil karya Habibie yang menunjukkan teknologi dirgantara Indonesia maju di kancah internasional.

"Saya masih ingat tahun 2005, saya kelas 1 SMP menyaksikan lewat televisi di kantin sekolah, penerbangan pertama N250 Gatotkaca, pesawat pertama Indonesia karya BJ Hbibie," katanya.

Waktu itu, katanya, semua yang menyaksikan momentum itu berdiri dan bertepuk tangan, sekaligus percaya bahwa anak Indonesia bisa melakukan hal yang luar biasa, asalkan mau percaya dan berusaha sama seperti yang di lakukan Habibie.

Baca juga: Habibie wafat akan dimakamkan di TMP Kalibata

Baca juga: Habibie wafat - Klub-klub sepak bola sampaikan duka cita


"Inspirasi yang sangat besar untuk anak muda saat ini, agar terus berusaha dan jangan menyerah," katanya.

Tokoh Pemuda Kakas Minahasa Juddy Maindoka mengatakan Almarhum bukan hanya sekadar  tokoh nasional, tetapi adalah seorang presiden yang mampu memberi teladan dengan bukti-bukti yang dihasilkan lewat ketekunan dan keuletan di negeri orang.

BJ Habibie, Presiden ke-3 RI, meninggal dunia jam 18.05 WIB, di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, Rabu (11/9).

Baca juga: BJ Habibie wafat, Australia dan Denmark sampaikan duka cita
 

Pewarta: Nancy Lynda Tigauw
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar