counter

Ayah terduga teroris Cilincing mengaku trauma

Ayah terduga teroris Cilincing mengaku trauma

Abdul Gani (kanan) ayah terduga teroris MA berjalan menuju masjid Al Barkah di Kapling Tipar Timur, RT 13 RW 4, Kelurahan Semper Barat, Cilincing, Jakarta Utara, Senin (23/9/2019) malam.. (ANTARA/Laily Rahmawaty)

Memang dia (MA) jarang bergaul, agak pendiam dari saudara yang lainnya, kata Abdul
Jakarta (ANTARA) - Ayah terduga teroris di Cilincing, Abdul Gani (69) mengaku trauma dengan kejadian yang menimpa anak serta keluarganya yang dicap sebagai teroris.

"Orang-orang mungkin akan melihat saya sebagai bapaknya teroris. Jujur saya trauma dengan kejadian begini," kata Abdul Gani saat ditemui Antara di depan tempat tinggalnya di Kapling Tipar Timur, Jalan Belibis V, Kelurahan Semper Barat, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, Senin malam.

Abdul mengaku benar-benar tidak menyangka kalau anak nomor sembilannya itu tersangkut kasus terorisme.

Ayah 11 orang anak itu mengatakan, MA adalah sosok anak yang pendiam, tidak neko-neko, bertingkah seperti anak pada umumnya.

"Memang dia (MA) jarang bergaul, agak pendiam dari saudara yang lainnya," kata Abdul.

Baca juga: Terduga teroris Cilincing dikenal pemuda berprestasi bidang olahraga

Kebiasaan paling menonjol terduga adalah pendiam, kalau mau makan pun juga tidak ngomong-ngimong, tidak banyak menuntut apapun, katanya.

Abdul juga tidak menyangka kalau anaknya menyimpan bahan peledak di dalam rumah yang ditempatinya bersama anak menantunya serta cucu-cucunya.

Ia mengaku sempat meminta kepada petugas polisi untuk dilibatkan saat menggeledah kamar anaknya guna memastikan apa betul bahan peledak disimpan di kamar yang ada di lantai dua tersebut.

Upaya ini dilakukan untuk memastikan apa betul ada bahan peledak di rumahnya. Bahkan kakak kandung terduga juga meminta petugas untuk tidak membawa peralatan service ponsel milik adiknya.

"Saya enggak yakin anak saya teroris, saya sampai mastiin apa betul di kamarnya ada bahan peledak, kalau memang dia merakit di kamar itu, mungkin saya duluan yang mati," kata Abdul.

Baca juga: Teroris MA diduga belajar rakit bom di Jawa Timur

Abdul mengaku memang tidak pernah mengecek isi kamar anaknya, karena berada di lantai dua. Begitu juga dengan paket belanja online yang datang ke rumah setiap kali anaknya berbelanja, tidak pernah diperiksa karena ukurannya kecil-kecil dan tidak ada benda mencurigakan.

Menurut keterangan kakak terduga, M Arfan (37) tidak melihat adanya benda-benda mencurigakan di kamar adiknya.

Arfan yang tinggal di Tanggerang mengatakan, setiap pekan selalu pulang ke Cilincing dan menginap di kamar adiknya.

"Minggu lalu saya nginap di kamarnya, saya tidak liat ada benda-benda mencurigakan, kebanyakan peralatan service ponsel, waktu penggeledahan semua peralatan itu dibawa polisi," kata Arfan.

MA merupakan anak kesembilan dari 11 bersaudara. Sejak lulus SMK bekerja sebagai juru parkir. Karena kondisi kesehatan tidak memungkinkan, MA berhenti bekerja selama beberapa bulan.

Baca juga: Terduga teroris MA masuk JAD

Pada pertengahan 2018, MA sempat pergi dari rumah tanpa kabar. Sekitar sebulan lamanya baru mengabari keluarga sedang berada di Kediri, Jawa Timur belajar di sebuah padepokan.

MA mengabari keluarga untuk pulang ke rumahnya di Cilincing. Setelah pulang, MA juga meminta keluarga untuk menikahkannya dengan perempuan yang dikenalnya di kereta saat perjalanan menuju padepokan di Kediri.

Pernikahan MA hanya berlangsung selama beberapa bulan, setelah itu istrinya yang berusia dua tahun lebih muda darinya pergi meninggalkannya kembali ke rumahnya.

Pihak keluarga sempat meminta MA menyusul sang istri yang pergi, setelah disusul, Istri sudah tidak ingin pulang, dan menikah lagi dengan pria lain.

Sejak pulang dari Kediri, MA sering menghadiri pengajian di Bekasi, pergi membawa tas ransel dan pulang beberapa hari sekali.

Baca juga: Terduga teroris Cilincing rakit bom daya ledak tinggi

MA juga sudah bekerja di pabrik sabun di wilayah Marunda. Selama ini MA juga masih mengkonsumsi obat-obataan, karena sejak kecil sudah menderita sakit paru-paru.

MA juga pernah khursus service ponsel, biaya khursus senilai Rp5 juta dibiayai oleh kakak kandungnya yang bekerja di pelayaran. Selain bekerja di pabrik sabun, MA juga menerima permintaan service ponsel dari sejumlah pelanggan.

Sebelumnya, anggota Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri dan Polres Metro Jakarta Utara menangkap seorang terduga teroris berinisial MA (21) di Kamplingan Tipar Timur RT03/04, Cilincing, Senin (23/9).

Dari tangan terduga teroris, polisi menyita sejumlah barang bukti berupa bahan peledak berdaya ledak tinggi jenis TATP.

Polisi menyebutkan MA merupakan anggota jaringan teroris yang juga ditangkap lebih dulu di wilayah Bekasi. Total ada delapan tersangka yang ditangkap bersama dengan MA.

Pewarta: Laily Rahmawaty
Editor: Edy Supriyadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kabupaten PPU siap gantikan Jakarta sebagai Ibu Kota

Komentar