Operasi TMC basahi lahan dengan hujan lebih dari 3 miliar meter kubik

Operasi TMC basahi lahan dengan hujan lebih dari 3 miliar meter kubik

Dokumentasi - Sejumlah petugas memasukkan alat penyemaian awan cumulus untuk membuat hujan buatan ke dalam Pesawat milik TNI-AU di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya, Rabu (18/9/19). ANTARA/Rendhik Andika/aa.

Jakarta (ANTARA) - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengatakan dalam masa operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) pada 17 September hingga 3 Oktober 2019, hujan dengan volume lebih dari 3 miliar meter kubik telah membasahi seluruh daerah operasi hujan buatan yang mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap.

"TMC mampu menghasilkan air dalam jumlah yang sangat banyak sampai jutaan meter kubik per hari dengan cakupan wilayah hujan sangat luas jika dilakukan pada saat yang tepat dan bergantung pada ketersediaan awan," kata Kepala BPPT Hammam Riza dalam pertemuan dengan awak media di Kantor BPPT, Jakarta, Jumat.

Operasi TMC masih akan terus berlanjut untuk memadamkan api akibat karhutla di lima provinsi operasi TMC yakni di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

Baca juga: Wiranto: Hujan buatan cepat kurangi titik api karhutla

Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) BPPT Tri Handoko Seto menuturkan dengan operasi TMC dalam periode 17 September sampai 3 Oktober 2019, hujan buatan dengan volume 1 miliar meter kubik membasahi Kalimantan Tengah, 1,5 miliar meter kubik volume hujan membasahi Kalimantan Barat, 600 juta meter kubik volume hujan membasahi Riau dan Jambi, serta 40 juta meter kubik volume hujan membasahi Sumatera Selatan.

Operasi TMC tersebut dilaksanakan di empat posko yakni Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

"Sejak pelaksanaan TMC di wilayah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, hampir setiap hari terjadi hujan yang mampu membasahi lahan dalam rangka memadamkan api," kata sETO.

Operasi TMC semakin signifikan dilakukan sejak arahan Presiden RI Joko Widodo dalam rapat terbatas di Pekanbaru, Riau, pada 16 September 2019. Dengan arahan tersebut, BPPT didukung Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Tentara Nasional Indonesia, Badan Meterorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bekerjasama melakukan TMC dalam mengendalikan karhutla di Provinsi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah yang hampir serentak pada 17 September 2019.

Baca juga: TMC BPPT klaim berhasil turunkan hujan di wilayah Kalteng

Pada rapat itu, Presiden Joko Widodo memberi arahan kepada Panglima TNI, Kepala BNPB dan Kepala BPPT untuk menanggulangi atau mengendalikan karhutla di Sumatera dan Kalimantan melalui hujan buatan.

Pada pertengahan Februari hingga akhir Maret 2019, terjadi peningkatan titik panas (hotspot) di Kalimantan dan Sumatera akibat angin dingin kering dari Asia Timur. Berdasarkan pantauan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), titik panas di Sumatera dan Kalimantan mengalami peningkatan yang signifikan, yang mana dari Agustus 2019 di Sumatera tercatat 1.876 titik panas menjadi 4.612 titik panas pada September 2019.

Sedangkan di Kalimantan pada Agustus 2019 tercatat 4.430 titik panas menjadi 11.031 titik panas pada September 2019. Kondisi ini juga mengakibatkan bencana asap yang berbahaya bagi kesehatan dan mengganggu aktivitas penduduk dan penerbangan.

"Strategi kami membasahi lahan selama musim kekeringan agar lahan tidak mudah terbakar, selain tetap menekan jumlah hotspot," ujar Seto.

Baca juga: Hujan buatan diperkirakan kurangi asap pada akhir September
Baca juga: Pakar sebut untuk padamkan karhutla tetap memerlukan hujan
Baca juga: Hujan buatan guyur sejumlah daerah, asap karhutla teratasi

Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BNPB akui water bombing dan hujan buatan tak selalu efektif

Komentar