Alumni Erasmus+ dorong penyebaran pesan peduli lingkungan

Alumni Erasmus+ dorong penyebaran pesan peduli lingkungan

Suasana sosialisasi peduli lingkungan di acara Erasmus Days 2019 di Jakarta, Sabtu (12/10/2019). (ANTARA/Aria Cindyara)

Jakarta (ANTARA) - Sejumlah alumni penerima beasiswa Erasmus+ asal Indonesia melakukan sosialisasi untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya upaya pelestarian lingkungan, terutama di tengah tantangan global terkait perubahan iklim.

Sosialisasi tersebut digelar melalui acara Erasmus Days 2019 di Jakarta, Sabtu, yang mengangkat tema ‘Today for Tomorrow’ dan fokus pada pemeliharaan lingkungan untuk keberlanjutan. Erasmus+ sendiri merupakan program beasiswa yang disediakan oleh Uni Eropa bagi mahasiswa di berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk menempuh pendidikan di berbagai negara di Eropa.

Presiden Alumni Erasmus+ Indonesia, Hanif Falah, mengatakan masalah perubahan iklim adalah isu yang paling menekan untuk generasi muda dan dia mendesak seluruh lapisan masyarakat, utamanya generasi muda, untuk berpartisipasi dalam aksi menyelamatkan lingkungan.

“Pesan yang ingin disampaikan adalah kami ingin isu lingkungan tidak menjadi isu yang sophisticated dan ekslusif. Semua orang, tanpa peduli latar belakang profesi dan pendidikan, kami ingin mereka peduli terhadap isu ini,” jelasnya.

Kesadaran akan ancaman kerusakan lingkungan dianggap begitu penting karena menurut Hanif, siapapun dapat terkena dampaknya.

Sejalan dengan semangat untuk membumikan permasalahan lingkungan, salah satu alumni lain memilih untuk membawa isu penyelamatan lingkungan melalui permainan papan atau ‘board game’.

Stan sosialisasi permainan papan edukatif bertema lingkungan 'Ecofunopoly' di acara Erasmus Days 2019 di Jakarta, Sabtu (12/10/2019). (ANTARA/Aria Cindyara)
Erik Mulyana, salah satu alumni Erasmus+ yang juga merupakan relawan untuk permainan edukasi lingkungan ‘Ecofunopoly’ mengatakan permainan tersebut bertujuan untuk mengenalkan dunia lingkungan kepada anak-anak dan membentuk perilaku ramah lingkungan sejak dini.

“Kami mengangkat isu pengelolaan sampah, kabut asap, emisi karbon dan perubahan iklim. Bentuk permainannya kurang lebih sama dengan monopoli, namun semua aksinya mengarah ke lingkungan,” katanya.

Permainan yang digagas oleh salah seorang alumni lain, yakni Annisa Hasanah, tersebut telah mendapat berbagai penghargaan internasional, termasuk diantaranya Global Climate Sheroes 2019 dari Human Impact Institute dan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan juara pertama ASEAN Youth Innovation Challenge United Nations Volunteers Asia Pacific 2017.

Sementara itu, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Vincent Piket mengatakan peran anak muda dalam upaya penyelamatan lingkungan sangatlah penting. Ia pun berharap agar program belajar ke Eropa dapat memberikan pengalaman bagi mahasiswa Indonesia terkait isu tersebut, begitu pula dengan mahasiswa di Eropa yang dapat mempelajari berbagai isu yang dihadapi di Indonesia.

“Mahasiswa Indonesia dapat belajar tentang kehidupan sehari-hari di negara-negara Eropa dan bagaimana masalah sampah dan perubahan iklim dihadapi,” kata Dubes Piket.

Sementara pelajar Eropa, menurut dia, dapat belajar mengenai tantangan yang dihadapi oleh negara seperti Indonesia dan bagaimana Indonesia mencari keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan permasalahan lingkungan.

Baca juga: Erasmus Huis gelar pameran foto bertajuk Glam Seekers
Baca juga: Erasmus Huis gelar pertunjukan wayang boneka Belanda
Baca juga: "Trashed" film sampah yang bikin berhenti nyampah

 

Pewarta: Aria Cindyara
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kemenkominfo lepas 18 penerima beasiswa S2 ke China dan India

Komentar