Mendag targetkan perjanjian dagang pasar nontradisional rampung 2020

Mendag targetkan perjanjian dagang pasar nontradisional rampung 2020

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (kanan) saat berjabat tangan dengan peserta Trade Expo Indonesia di ICE BSD, Tangerang, Banten, Rabu (16/10/2019). ANTARA/Dewa Wiguna/am.

Tangerang, Banten (ANTARA) - Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menargetkan sebanyak 12 perjanjian dagang termasuk delapan di antaranya dengan pasar nontradisional akan rampung tahun 2020 sebagai salah satu strategi mendongkrak ekspor.

"Negara-negara nontradisional itu di antaranya Eurasia, Bangladesh dan negara di Afrika," katanya dalam Trade Expo Indonesia di ICE BSD Tangerang, Banten, Rabu.

Mendag menyebutkan delapan negara dan kawasan tujuan ekspor di luar pasar utama Indonesia itu yakni Maroko, Bangladesh, Tunisia, Turki, Djibouti, Pakistan, Iran dan negara di kawasan Eurasia.

Baca juga: Pengusaha nilai perjanjian dagang Mozambik dorong ekspor ke Afrika

Eurasia terdiri dari lima negara, yakni Armenia, Belarusia, Kirghizstan dan Rusia, yang memiliki potensi pasar besar bagi Indonesia.

Selain delapan pasar non-tradisional itu, juga ada perjanjian dagang dengan Uni Eropa dan ASEAN ekonomi raksasa Asia seperti China, India, Jepang dan Korea Selatan (RCEP).

Mendag menambahkan ada juga dua peninjauan ulang perjanjian dagang sebelumnya yakni perdagangan bebas ASEAN-Australia dan Selandia Baru (AANZFTA) serta perdagangan bebas ASEAN (AFTA).

Menurut Mendag, diversifikasi pasar ekspor mengarah non tradisional penting dilakukan mencermati situasi ekonomi dunia saat yang semakin tidak menentu, yang melibatkan negara tujuan ekspor utama Indonesia.

Baca juga: Pengamat: penguatan ekspor ke negara Afrika sangat diperlukan

China dan Amerika Serikat merupakan dua negara tujuan ekspor RI, saat ini terlibat perang dagang.

Belum usai dengan China, baru-baru ini, lanjut dia, Amerika Serikat juga mengenakan kenaikan tarif bea masuk sebesar 10 persen untuk produsen pesawat Airbus, dan 25 persen untuk kopi, minuman anggur, keju dan daging babi dari Uni Eropa berlaku efektif 18 Oktober 2019.

Pada kuartal kedua tahun ini, lanjut dia, pertumbuhan industri China hanya tumbuh 4,8 persen, paling rendah sejak 17 tahun terakhir.

Begitu juga dengan Jerman, negara manufaktur yang disebut paling stabil juga mencatatkan kontraksi pertumbuhan ekonomi minus 0,1 persen.

Di Asia, Mendag menuturkan tensi perdagangan antara Jepang dan Korea Selatan juga meningkat.

Hal itu ditandai langkah negeri kaisar yang membatasi ekspor bahan utama chip dan telepon seluler serta mengeluarkan negeri ginseng dari daftar putih ekspor.

Menurut Mendag, kondisi itu akan menurunkan jaringan produksi regional dan berdampak kepada krisis produk elektronik dunia.

Di tengah perang dagang dan ekonomi dunia yang suram, kata dia, pemerintah Indonesia dibawah kendali Presiden Joko Widodo menekankan pertumbuhan ekonomi Tanah Air harus berdasarkan pada investasi dan ekspor.

"Kami optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,2 persen tahun ini dan tiga tahun mendatang. Target ini di atas proyeksi rata-rata negara berkembang sebesar 4,4 persen," katanya.

Selain mendorong diversifikasi pasar, Mendag mengatakan pemerintah juga meningkatkan diversifikasi produk ekspor dari produk primer menjadi olahan.

Strategi lainnya, lanjut Mendag, meningkatkan manajemen impor, mengadakan perjanjian dagang dengan negara utama dan negara potensial, promosi dagang hingga mendorong iklim perdagangan yang kondusif.

Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Karbon hitam Cilegon mampu tekan impor Rp1,5 triliun

Komentar