Pemerintah dorong pembuatan database sumber daya hayati Indonesia

Pemerintah dorong pembuatan database sumber daya hayati Indonesia

Pemandangan alam Raja Ampat. ANTARA/Ernes/pri (Ernes)

bagaimana membuat Indonesia jadi tuan rumah untuk urusan sumber daya hayati
Tangerang (ANTARA) - Pelaksana tugas Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman yang juga Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa, Agung Kuswandono mendorong pembuatan database sumber daya hayati Indonesia yang komprehensif.

"Bagaimana kita mengumpulkan atau membuat database sudah Indonesia yang bisa kita angkat skala nasional dan internasional misalnya apa saja yang dari lautan, pertanian dan bisa kita kembangkan ke depan seperti apa," kata Agung dalam Seminar Nasional Pencegahan Pencurian Sumber Daya Hayati Indonesia di Hotel Sheraton, Tangerang, Banten, Senin.

Database tersebut sangat penting untuk hasil identifikasi dan penemuan kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia, yang kemudian penemuan itu bisa dilindungi dan dikembangkan untuk kesejahteraan bangsa Indonesia dan menjawab permasalahan di negara Indonesia seperti sumber daya hayati yang dimanfaatkan untuk kesehatan dan obat-obatan.

Baca juga: Pemerintah dorong pengembangan industri baru basis sumber daya hayati

Agung menuturkan Indonesia dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati dunia (megabiodiversity) dan tergolong negara yang memiliki tingkat endemisme tertinggi di dunia. Indonesia memiliki setidaknya 47 ekosistem alami yang berbeda.

Keanekaragaman hayati Indonesia tersebut merupakan potensi dan aset nasional dan basis peningkatan kesejahteraan masyarakat di masa yang akan datang atau dikenal sebagai emas hijau. Keanekaragaman hayati berpotensi untuk sebagai bahan pangan, papan, obat obatan dan kosmetika.

Ia juga menginginkan penguatan koordinasi dari kementerian, lembaga, swasta, pemerintah pusat hingga pemerintah daerah dalam melindungi dan menjaga sumber daya hayati Indonesia dari pencurian sumber daya genetik atau biopiracy.

Dia menuturkan ada beberapa sumber daya hayati Indonesia yang diklaim milik pihak negara asing padahal jalur murninya ada di Indonesia. Hal ini tentu harus diatasi, dan pemerintah berupaya memperkuat perlindungan terhadap sumber daya hayati.

"PR (pekerjaan rumah) kita adalah bagaimana membuat Indonesia jadi tuan rumah untuk urusan sumber daya hayati. Kita belum tahu sumber daya hayati kita secara utuh, jumlah dan ada di mana. Ke depan mengidentifikasi produk sumber daya hayati di Indonesia yang bisa kita kembangkan jadi industri untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat," tuturnya.

Ia mengatakan ada pisang terbesar di dunia yang ditemukan di Papua, dan itu dapat dikembangkan untuk menjadi ikon Indonesia. Itu hanya satu dari sekian banyak keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia, maka perlu ditemukan dan dikembangkan serta dilindungi agar tidak dicuri negara lain atau pihak asing kemudian diklaim sebagai milik mereka.

Mantan wakil ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Endang Sukara mengatakan masih banyak potensi kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia yang harus ditemukan dan dilindungi.

"Keanekaragaman hayati yang sudah kita ketahui sangat sedikit biasanya yang sudah dibudidayakan, tapi keanekaragaman hayati di alam kita nyaris tidak tahu ada kalaupun tahu baru sampai ke penamaan spesies sekarang, alhamdullilah kita bisa baca genom sekarang," tuturnya.

Anggota dari Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia itu mengatakan Indonesia masih belum optimal memanfaatkan fungsi gen untuk kepentingan bangsa Indonesia.

Dia mencontohkan di Indonesia ada tumbuhan tapak liman yang baik untuk anti kanker payurdara dan prostat, namun di China jenis tumbuhan ini sudah ada 26 paten. Namun, tumbuhan itu belum dikembangkan untuk jadi obat anti kanker di Indonesia.

Dia juga mengatakan eksplorasi dan penemuan keanekaragaman hayati masih jauh dari mencatat semua sumber daya hayati yang ada di seluruh wilayah Indonesia. Bahkan, pembukaan lahan perkebunan dan kebakaran hutan dan lahan telah menyebabkan hilangnya bagian dari keanekaragaman hayati sebelum tercatat dan ditemukan.

Baca juga: Pemerintah dorong perlindungan dan pengembangan sumber daya hayati
 

Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar