Artikel

Rumdani, mengubah masyarakat buta aksara menjadi wirausaha

Oleh Afut Syafril Nursyirwan

Rumdani, mengubah masyarakat buta aksara menjadi wirausaha

Seorang anggota kelompok Patra Asri, memeriksa hasil budidaya jamur tiram di Kampung Ekonomi Kreatif Untuk Masyarakat Mandiri, di Kelurahan Tegalkamulyan, Cilacap Selatan, Cilacap, Jateng, Rabu (23/10/2019). Pertamina RU IV Cilacap mengembangkan budidaya jamur tiram zero waste melalui program CSR, dengan konsep memanfaatkan limbah baglog sisa budidaya jamur tiram, sebagai media semai cacing, pupuk organik dan pakan ternak. ANTARA FOTO/Idhad Zakaria/ama. (ANTARA FOTO/IDHAD ZAKARIA)

masyarakat sudah lazim "chating" satu dengan yang lainnya menginformasikan resep masakan, dengan begitu secara otomatis mereka belajar baca dan tulis
Jakarta (ANTARA) - Desa Kemiren Asri, di Kampung Tegalkamulyan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah barangkali menjadi salah satu desa yang cukup sibuk belakangan ini. Pasalnya, desa ini sekarang memiliki 13 kelompok kegiatan produktif melalui beragam jenis usaha telah digulirkan yang diharapkan meningkatkan perekonomian di wilayah Tegalkamulyan ini.

Sebelumnya, desa Kemiren Asri (Kampung Ekonomi Kreatif untuk Masyarakat Mandiri) ini identik dengan desa tertinggal, amat kumuh dan banyak warganya menderita gizi buruk.

Bahkan, desa yang berada di Kelurahan Tegalkamulyan tersebut, sempat dikenal dengan tempat pembuangan sampah yang menyebabkan memiliki angka gizi buruk yang cukup tinggi, dibandingkan dengan desa-desa lain di Kabupaten Cilacap.

Sebelumnya, masyarakat di desa Kemiern menganggap lazim penduduknya menderita buta aksara. Akibatnya tingkat pendidikan yang amat rendah mengakibatkan wilayah ini semakin tertinggal di banding daerah lainnya.

Melihat fakta tersebut, salah seorang warga tergerak untuk mengentaskan berbagai ketertinggalan di wilayah tersebut.

Rumdani Prapti Sumiwi, salah satu warga Desa Kemiren Asri tergerak memberikan perubahan. Di mulai dengan keinginannya mengentaskan buta aksara melalui Posyandu yang ada di desa tersebut.

Rumdani yang berusia lebih dari 50 tahun, memiliki semangat memajukan lingkungannya dengan mengajak masyarakat khususnya ibu rumah tangga untuk memberantas buta aksara melalui pendekatan Posyandu .

Tidak hanya masyarakat paruh baya, namun perlahan semangat belajar tersebut menular pula kepada pemuda-pemudi di wilayah tersebut. Tidak mudah tentu bagi Rumdani pada awal 2009 mengajarkan semangat tersebut untuk memberi perubahan bagi sekitar.

Metode Wirausaha

Melalui Posyandu, sebenarnya hanya digunakan sebagai media mengumpulkan masyarakat bagi Rumdani.

Metode yang ia terapkan dalam mengajarkan aksara adalah menyasar pada dampak ekonomi yang mereka peroleh. Peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat yang mau belajar adalah promosi yang ditawarkan untuk belajar baca-tulis.

Rumdani memperkenalkan aksara kepada para buta aksara dengan pendekatan wirausaha, melalui kegiatan masak-memasak. Dengan mengajarkan penulisan resep masakan ia mengajar masyarakat Kemiren Asri.

Resep yang ia ajarkan sebenarnya resep masakan dapur sederhana yang biasa diolah sehari-hari, namun esensi tukar menukar resep dengan cara menulis inilah yang dijadikan media pembelajaran.

Menurut, Rumdani bahkan masyarakat sudah lazim "chating" satu dengan yang lainnya menginformasikan resep masakan, dengan begitu secara otomatis mereka belajar baca dan tulis.

Sampai pada suatu ketika, Pertamina Refinery Unit IV Cilacap menawarkan program ekonomi kreatif dengan pembinaan budidaya jamur, mengingat masyarakat Kemiren Asri sudah aktif dalam wirausaha makanan dari program pembelajaran resep masakan tadi.

Olahan jamur itulah yang kini menjadi andalah dari wilayah tersebut, karena dinilai mudah menanamnya dan kemudahan olahan turunan dari jamur tersebut.

Awalnya, bantuan untuk meningkatkan fasilitas posyandu sebagai pendekatan pembelajaran saat itu juga turut berhasil membantu untuk memonitoring perkembangan anak, namun masih ada kebutuhan penunjang serta PMT (pemberian makanan tambahan) kepada balita yang dibutuhkan untuk dapat menurunkan angka gizi buruk dan kurang di Desa Kemiren Asri.

Akhirnya, dalam upaya agar program PMT dapat berkelanjutan, Pertamina memberikan bantuan budidaya Jamur yang hasilnya digunakan untuk bahan dasar olahan PMT setiap bulannya.

Selain itu, banyaknya masyarakat Kelurahan Tegalkamulyan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah yang masih buta aksara, mendorong salah seorang penggerak masyarakat Rumdani Prapti Sumiwi untuk memberantas buta aksara.

Rumdani menggagas sebuah program bersama Pertamina dengan membentuk Kelompok Keaksaraan Fungsional. Melalui metode belajar membaca dan menulis resep masakan, 21 ibu-ibu Kelompok Keaksaraan Fungsional tersebut kini sudah menjadi kepala kelompok kegiatan pemberdayaan Kemiren Asri.

Ada 13 kelompok kegiatan melalui beragam jenis usaha yang mampu meningkatkan perekonomian desa di wilayah Tegalkamulyan.

Kelompok kegiatan Kemiren Asri itu bergerak mulai dari Kelompok Posyandu dan Pos PAUD, Kelompok Budi Daya Jamur, Kelompok Budi Daya Cacing, Kelompok Budi Daya Lele, Kelompok Budi Daya Bebek, Kelompok Jamu Tradisional, Kelompok Pupuk Organik, Kelompok Produksi Telur Asin, Kelompok Kebun Gizi, Kelompok Keaksaraan Fungsional, Kelompok Patra Asri Handycraft, hingga mendirikan Koperasi Kemiren Asri Mandiri.

Ketua Pengurus Koperasi Asri Mandiri sendiri dipimpin langsung oleh Rumdani Prapti Sumiwi, ia mengatakan, pengembangan Kelompok Kemiren Asri melalui perjalanan yang panjang. Dalam perjalanan panjang itu lah muncul semangat masyarakat yang ingin mandiri dan sejahtera.

“Alhamdulillah saat ini kelompok kegiatan Kemiren Asri terus melalukan inovasi. Tahun ini kami sudah memiliki Koperasi sebagai bagian dari penggerak ekonomi masyarakat. Di tengah teknologi yang terus maju, kami mencoba memaksimalkan kreativitas untuk membuat produk yang dapat dinikmati masyarakat melalui beragam olahan budidaya yang dikelola, seperti olahan jamur,” kata Rumdani.

Produk yang dihasilkan dari kelompok tersebut memuaskan. Bahkan berkat jaringan pertemanan yang dia miliki, produk jamur krispi hasil olahan ibu-ibu Kelompok Kemiren Asri berhasil dijual hingga ke Hong Kong dan Malaysia.

“Dengan memanfaatkan koneksi yang dimiliki kita mencoba memasarkan produk kita secara online ke kota-kota besar di Indonesia, sudah hampir seluruh Indonesia. Dan saat ini pun produk kami sudah berhasil kami jual ke Hong Kong dan Malaysia,” ujarnya.

Tercatat, hingga saat ini Kemiren Asri dapat memberikan dampak positif pada peningkatan ekonomi. Rata-rata setiap kelompok kegiatan Kemiren Asri dapat menghasilkan omzet sekitar Rp7.000.000 per bulan.

Sementara itu, Unit Manager Communication dan CSR Refinery Unit IV Cilacap, Laode Syarifuddin Mursali mengatakan, kunci program Kemiren Asri hingga mampu menjadi desa mandiri yakni menerapkan sinergitas kelompok kegiatan yang punya mata rantai, dari mulai produksi hingga pemasaran yang saling berkaitan satu sama lain. Hal ini yang menjadikan masyarakat Tegalmulyan memiliki keunggulan kompetitif.

“Seperti dengan adanya Kelompok Budidaya Jamur yang memanfaatkan 180 Kg limbah Baglog per tahun, sekarang dengan pemanfaatan limbah tersebut bisa digunakan sebagai media untuk budidaya cacing sehingga kegiatan zero waste (tidak ada sisa terbuang) dapat 100 persen dimanfaatkan,” katanya.

Lebih lanjut Laode menjelaskan, proses sinergitas ini mampu menjawab permasalahan sosial dan ekonomi yang sebelumnya terjadinya pada masyarakat seperti terdapat masyarakat buta aksara yang sekarang berangsur sudah melek aksara.

Selain itu, dari 37 anak yang menderita baik gizi buruk dan gizi kurang sebelum adanya program, tahun ini sudah berhasil masuk kategori gizi baik melalui program Pemenuhan Makanan Tambahan yang berhasil dikembangkan oleh kelompok masyarakat secara mandiri.

Dengan adanya sinergi, diharapkan program Kemiren Asri ini mampu berlanjut dan berkembang, sehingga lebih banyak lagi manfaat yang berdampak positif bagi masyarakat.


 

Oleh Afut Syafril Nursyirwan
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kemenkop-UKM dorong UMKM tingkatkan pasar ekspor

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar