Laporan dari Tokyo

Festival Film Anak Kineko di Tokyo, santai dan menggemaskan

Festival Film Anak Kineko di Tokyo, santai dan menggemaskan

Suasana Festival Film Anak Kineko 2019 di Tokyo, Jepang. ANTARA/Nanien Yuniar/am.

Tokyo (ANTARA) - Festival Film Anak Kineko di Tokyo, Jepang menguarkan nuansa menggemaskan, mulai dari suasana di sekitar tempat pemutaran hingga ke detil kecil seperti pengaturan tempat duduk di dalam bioskop.

Bertempat di Futako Tamagawa, Tokyo, dekat sebuah pusat perbelanjaan, suasana festival terasa dari banyak aktivitas yang menyenangkan untuk anak-anak.

Anak-anak dan orangtuanya berbondong-bondong datang ke sana. Ada yang menggambar, berfoto di studio mini yang membuat mereka bisa berpose dalam seragam berbagai profesi, melihat pertunjukan badut dan penampilan menghibur lainnya.

"Program penayangan dipersiapkan untuk berbagai rentang usia anak," kata Direktur Jenderal Festival Film Anak Kineko Keiko Toda dalam keterangan resmi.

"Meski budaya dan kebiasaan akan berbeda bila bahasa berbeda, film-film di Kineko tak cuma seru ditonton, tapi juga memberikan kejutan, hiburan, kesedihan, dan kadang rasa takut, sebuah kesempatan untuk merasakan emosi yang kaya."

Festival yang kini menginjak usia ke-27 itu memiliki maskot kucing hitam dengan topi merah dan dasi kupu-kupu berwarna kuning. Maskot itu juga muncul di sela pemutaran yang pada satu sesi terdiri dari beberapa film pendek.

Sesi pemutaran film yang berlangsung pada Sabtu petang (2/11) di iTSCOM Studio & Hall, Tokyo berlangsung meriah. Kursi-kursinya tidak seperti bioskop kebanyakan. Dalam aula itu, terdapat sofa-sofa empuk dan bean bag sehingga anak-anak bisa menonton sambil berbaring senyaman mungkin.
 
Festival Film Anak Kineko 2019 di Tokyo, Jepang. (ANTARA/Nanien Yuniar)
Festival Film Anak Kineko 2019 di Tokyo, Jepang. (ANTARA/Nanien Yuniar)


Sebelum dibuka dengan film stop motion "Ailin on the Moon" berdurasi lima menit dari Argentina, seorang badut dan pembawa acara mengajak anak-anak untuk menari koreografi sederhana yang identik dengan gerakan kucing.

Setelah beberapa kali berlatih, di mana anak-anak kecil ikut menari secara antusias, sang maskot keluar dan mereka menari bersama.

"Tokyo jauh sekali dari rumah saya, tapi saya senang bisa melihat senyum-senyum penonton setelah menyaksikan film ini," kata Claudia Ruiz, sutradara "Ailin on the Moon" di atas panggung, Sabtu (2/11).

Selanjutnya, film animasi "To Me You Are Beautiful" dari Belanda. Film berdurasi 12 menit ini mengisahkan tentang nenek yang menantikan kedatangan cucunya, namun tak sengaja merusak mainan, membuat cucunya merajuk.

Bukan cuma film animasi, festival ini juga menayangkan film panjang dari berbagai negara yang uniknya langsung disulih suara secara langsung.

Di sebelah layar, berjejer para pengisi suara yang langsung menerjemahkan dialog ke dalam bahasa Jepang agar anak-anak kecil yang belum bisa membaca terjemahan dapat ikut menikmati.

Film yang ditayangkan petang itu adalah "Paper Kite" dari Qatar, berkisah tentang seorang anak baru bernama Zayn di sekolah katolik yang ketat. Ia mendorong temannya untuk mewujudkan keinginan membuat sebuah layangan. Suster di sekolah memergoki dan memarahi mereka. Namun persahabatan ini semakin erat ketika layanan itu berhasil melayang di angkasa.

Film berdurasi tujuh menit ini terinspirasi dari kehidupan sekolah sutradaranya, Nada Bedair, yang menganut sistem pendidikan ketat di mana para murid harus tunduk dan sulit untuk bersenang-senang.

Ada pula film "3feet" dari Kolombia, juga disulih suara langsung, mengenai bocah 10 tahun bernama Gonzalo yang bermain bola sepanjang perjalanan ke sekolah.

Ia diomeli guru karena sepatunya kotor dan diancam guru akan dilarang bermain bola lagi bila ia kelak datang dengan sepatu belepotan lumpur.

Gonzalo mencari cara ketika tak sengaja sepatu yang sudah ia jauhkan dari lumpur pada akhirnya menjadi kotor lagi.

Para pemain film "3feet" juga hadir dan diundang ke atas panggung untuk memberikan salam pada para penonton.

Festival Film Anak Internasional Kineko dihelat hingga 5 November 2019.

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Gundala, tembus festival film internasional

Komentar