PMR Garut ciptakan replika pendeteksi longsor dan banjir

PMR Garut ciptakan replika pendeteksi longsor dan banjir

Anggota PMR Kontingen Garut, Jabar menampilkan replika alat deteksi banjir dan longsor dalam Jumbara PMR tingkat Provinsi Jabar di Sumedang. (ANTARA/HO/Humas PMI)

salah satu bentuk kepedulian PMR terhadap siaga bencana di masyarakat dan di lingkungan sekolah yang rentan terjadi bencana
Sumedang, Jabar (ANTARA) - Palang Merah Remaja (PMR) Kontingen Garut menciptakan replika alat pendeteksi longsor dan banjir yang saat ini masih terus disempurnakan dan dikembangkan supaya bisa digunakan dalam antisipasi bencana.

"Kami menampilkan alat pendeteksi longsor dan banjir dalam ajang pameran mini di Jumpa, Bakti, Gembira (Jumbara) tingkat Jabar karena Garut merupakan salah satu daerah rawan terjadi longsor dan banjir," kata peserta PMR Wira Garut yang juga pelajar Kelas XI SMKN 2 Garut, Ahmad , di Sumedang, Minggu.

Alat itu diciptakan untuk mengaplikasikan ilmu yang didapatnya di sekolah, untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya siaga bencana di lingkungan sekolah dan masyarakat.

Proses pembuatan alat deteksi banjir dan longsor itu dibantu rekannya sesama PMR dan guru, serta sudah mulai diujicobakan untuk menyempurnakan alat tersebut, agar bisa digunakan di wilayah sekolah maupun masyarakat.

Baca juga: Banjarnegara pasang pendeteksi longsor di 13 area rawan

Alat itu akan berfungsi saat terjadi longsor maupun banjir dengan mengeluarkan suara seperti sirine sebagai tanda terjadi bencana.

Meskipun terlihat sederhana, karyanya itu patut diapresiasi dan harus mendapatkan dukungan dari semua pihak guna proses penyempurnaannya.

Ia dan rekannya memilih membuat alat deteksi banjir dan longsor sebagai bentuk kepedulian terhadap tingginya kejadian bencana di wilayah Garut.

Ia menyebut ciptaannya itu sumbangsih pemuda untuk meminimalisasi dampak atas terjadinya bencana alam.

"Di Garut longsor sangat sering terjadi, alat ini hanya salah satu bentuk kepedulian PMR terhadap siaga bencana di masyarakat dan di lingkungan sekolah yang rentan terjadi bencana," kata dia.

Ahmad mengatakan biaya untuk menciptakan alat deteksi banjir dan longsor dibantu guru dan rekannya di sekolah.

Ia pun berharap, alat hasil karya anak bangsa itu bisa bermanfaat di masyarakat. 

Baca juga: Dosen UGM buat pendeteksi longsor mudah dioperasikan
Baca juga: Pendeteksi banjir wilayah intensitas hujan tinggi disiapkan BPPT
Baca juga: Jakarta dan Semarang miliki pendeteksi banjir pesisir

Pewarta: Aditia Aulia Rohman
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

JK: Idealnya dua persen dari penduduk jadi pendonor darah

Komentar