Sejarawan sebut Indonesia-AS perlu tingkatkan hubungan masyarakat

Sejarawan sebut Indonesia-AS perlu tingkatkan hubungan masyarakat

Sejarawan Universitas Sanata Dharma, Baskara T. Wardaya saat dijumpai usai acara diskusi sejarah bertajuk “Peran Amerika Serikat Sebelum dan Awal Kemerdekaan Indonesia” di Perpustakaan Nasional RI di Jakarta, Kamis (7/11/2019). ANTARA/Aria Cindyara/am.

Jakarta (ANTARA) - Indonesia dan Amerika Serikat perlu memperkuat hubungan antar-masyarakat, atau people-to-people contact dalam hubungan bilateral, karena menjadi bagian penting dari diplomasi kedua negara, kata Baskara T. Wardaya, sejarawan dari Universitas Sanata Dharma.

Pernyataan tersebut disampaikan pria yang kerap disapa Romo Baskara itu saat dijumpai usai acara diskusi sejarah bertajuk “Peran Amerika Serikat Sebelum dan Awal Kemerdekaan Indonesia” di Perpustakaan Nasional RI di Jakarta, Kamis.

Dia menjelaskan bahwa hubungan antar masyarakat kedua negara telah berjalan baik sejak awal terbentuk 70 tahun silam.

“Pada awal kemerdekaan Indonesia, hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat itu sangat bagus. AS sangat suportif (atas kemerdekaan Indonesia), terutama masyarakat AS,” jelasnya.

Sebagai contoh, dia menjelaskan dalam paparannya bahwa selama masa kepemimpinan Presiden Harry S Truman, dari tabun 1945 hingga 1953, rakyat Amerika Serikat sangat bersimpati pada perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Simpati tersebut disalurkan melalui berbagai jalur, salah satunya melalui ilmu pengetahuan, saat sejumlah profesor asal AS membuat buku tentang Indonesia, seperti George Kahin dari Universitas​​​​​​​ Cornell dengan buku berjudul "Nationalism and Revolution in Indonesia" pada 1952.

Dia juga menyebut seorang warga kota Savannah, Georgia, yang mengirim sepucuk surat pribadi pada Presiden Truman pada 1950, satu tahun setelah Amerika Serikat menunjuk Merle Cochran sebagai Dubes AS yang pertama untuk Indonesia, dan menyatakan dukungan kepada Indonesia. Dia bahkan mengusulkan bendera baru untuk Indonesia.

“Broom juga tercatat meminta Presiden supaya salah seorang staf Gedung Putih mencarikan alamat resmi pemerintahan baru. Dia mengatakan mungkin akan mengirimkan duplikat bendera itu,” jelas dosen pascasarjana di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta itu.

Meski hubungan Indonesia dan AS terus terjalin dengan baik selama 70 tahun, Romo Baskara meyakini antar masyarakat kedua negara masih terus dapat ditingkatkan.

“Jangan hanya pentingkan hubungan pemerintah dengan pemerintah saja. Antar masyarakat penting untuk didekatkan. Menurut saya selama ini belum cukup banyak,” jelasnya.

Baca juga: Indonesia-Amerika Serikat peringati 70 tahun hubungan diplomatik

​​​​​​​Dia pun menyebut sektor pertukaran budaya, pendidikan, bahkan olahraga, sebagai contoh bidang-bidang kerja sama yang dapat mempererat hubungan tersebut.

“Sekarang sudah dilakukan sebenarnya, tapi (lebih banyak lagi) anak-anak Amerika tinggal dengan keluarga-keluarga Indonesia dan sebaliknya. Jadi sampai level itu menurut saya,” ujar dia.

Dia pun mengutip Presiden RI pertama, Soekarno, yang pernah mengatakan bahwa hubungan internasional adalah hubungan antar masyarakat.

Acara diskusi sejarah bertajuk “Peran Amerika Serikat Sebelum dan Awal Kemerdekaan Indonesia” merupakan bagian dari rangkaian acara peringatan hubungan Indonesia dan Amerika Serikat yang ke-70, bersamaan dengan pameran fotografi bertajuk "Capturing US-Indonesia Relations through a Journalistic Lens" yang digelar oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, bekerjasama dengan Kantor Berita Antara.

Baca juga: Indonesia- Amerika Serikat pamerkan 70 foto bersejarah di Perpusnas
​​​​​​​

Baca juga: RI-AS terbitkan prangko peringatan 70 tahun hubungan diplomatik


Pewarta: Aria Cindyara
Editor: Yuni Arisandy Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Indonesia tentang AS soal permukiman Israel di Tepi Barat

Komentar