Purbalingga kembangkan industri gula semut Desa Sindang dan Tangkisan

Purbalingga kembangkan industri gula semut Desa Sindang dan Tangkisan

Sekretaris Dinperindag Kabupaten Purbalingga Johan Arifin (berdiri) saat membuka pelatihan pembuatan gula kristal bagi 30 penderes dari Desa Sindang dan Tangkisan di Balai Desa Sindang, Kecamatan Mrebet, Purbalingga, Rabu (13/11/2019). ANTARA/HO-Dinkominfo Purbalingga.

Potensi gula semut atau gula kristal di Desa Sindang dan Tangkisan sangat besar karena memiliki ratusan penderes nira kelapa
Purbalingga (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) setempat fokus untuk mengembangkan industri gula semut di Desa Sindang dan Tangkisan.

"Potensi gula semut atau gula kristal di Desa Sindang dan Tangkisan sangat besar karena memiliki ratusan penderes nira kelapa," kata Sekretaris Dinperindag Kabupaten Purbalingga Johan Arifin.saat membuka pelatihan pembuatan gula kristal bagi 30 penderes dari Desa Sindang dan Tangkisan di Balai Desa Sindang, Mrebet, Purbalingga, Rabu.

Oleh karena itu, kata dia, keberadaan sentra gula kelapa di Desa Sindang dan Tangkisan mendapat perhatian khusus dari Dinperindag Kabupaten Purbalingga untuk dikembangkan menjadi sentra industri gula semut.

Baca juga: Ekspor gula semut naik 27 persen

Menurut dia, wujud kepedulian Pemkab Purbalingga terhadap pelaku usaha gula kelapa telah ditunjukkan oleh Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi melalui penandatanganan nota kesepahaman dengan pengusaha di Moskow saat berkunjung ke Rusia bersama Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo beberapa waktu lalu.

Dalam hal ini, kata dia, pengusaha di Moskow siap menampung gula semut asal Purbalingga berapa pun jumlahnya.

"Pada bulan November ini, Ibu Bupati akan kembali melawat ke luar negeri, tepatnya ke Jepang untuk kepentingan yang sama. Ini merupakan wujud nyata kepedulian Bu Bupati untuk mengangkat nama gula kelapa Purbalingga khususnya bagi penderes agar lebih berdaya lagi," katanya.

Ia mengatakan hal tersebut disebabkan kompetitor gula kristal atau gula semut tidak hanya berasal dari dalam negeri, juga dari luar negeri seperti Malaysia dan Vietnam.

Baca juga: Bali belajar "Gula Semut" ke Kulon Progo

Terkait dengan hal itu, Johan mengimbau pelaku usaha gula kelapa khususnya gula semut untuk meningkatkan kualitas mulai dari kemasan, tampilan gula kristalnya, izin produksi, dan sertifikat halal.

Sementara itu instruktur pelatihan, Muhaimin mengatakan dalam pembuatan gula kristal juga bisa ditambah dengan varian rasa seperti kunyit dan jahe karena makin diminati oleh konsumen.

"Oleh karena itu, saya menekankan kepada para pelaku usaha gula semut untuk terus berinovasi agar konsumen selalu memiliki pilihan yang berimbas pada makin dikenalnya produk mereka," katanya.

Baca juga: Koperasi Nira Satria maniskan pasar gula organik dunia

Pewarta: Sumarwoto
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pasar Lelang GKR buka akses usaha mikro

Komentar