Jakarta, (ANTARA News) - Kapal kelompok pecinta lingkungan "Greenpeace" akan mengunjungi Indonesia pada 6 Oktober sampai 15 November 2008 untuk mengkampanyekan "Stop Penghancuran Hutan, Stop Penghancuran Iklim". Menurut Juru Kampanye Media "Greenpeace" Nabiha Shahab dalam surat elektronik yang diterima di Jakarta, Sabtu, kapal "Esperanza" (bahasa Spanyol berarti harapan) akan tiba di Jayapura, Papua pada tanggal 6 Oktober untuk menyoroti masalah pertahanan hutan alam asli terakhir di Indonesia. "Hutan alam asli terakhir membentang dari Asia Tenggara, melalui Papua Nugini dan Kepulauan Solomon di Pasifik," katanya. Hutan alam asli terakhir, katanya, terdiri atas hutan hujan tropis, hutan bakau, hutan pesisir, dan hutan gambut. Di dalamnya terdapat spesies tumbuhan dan hewan yang luar biasa jumlahnya dan sebagian besar diantaranya tidak terdapat di bagian lain di dunia ini. Dalam hutan ini juga terdapat ratusan adat dan kebudayaan asli, katanya. "Hutan Indonesia makin menyusut dengan kecepatan yang luar biasa. Penghancuran hutan merusak masyarakat, kebudayaan dan keanekaragaman hayati. Deforestasi juga melepas sekitar 20 persen dari emisi gas rumah kaca dunia tiap tahunnya dan menyumbang ke memburuknya perubahan iklim," kata Bustar Maitar, Juru Kampanye Hutan "Greenpeace" Asia Tenggara. Jumlah ini lebih banyak dari emisi dari mobil, truk, kereta api, kapal laut dan kapal terbang di seluruh dunia pada tahun 2004. Di Indonesia, hutan gambut dihabisi oleh pembalakan, pengeringan dan pembakaran untuk memberi tempat bagi perkebunan kepala sawit. Di beberapa tempat, hutan gambut ini kedalamannya mencapai lebih dari 12 meter. Saat hutan gambut dibuka dan dibakar, hal ini bagaikan mengaktifkan bom karbon, dengan melepas hamper dua miliar ton karbondioksida yang berbahaya tiap tahunnya. "Esperanza hadir di Indonesia untuk menyerukan pada pemerintah Indonesian untuk menerapkan moratorium secepatnya bagi semua bentuk konversi hutan, termasuk untuk penebangan industrial, ekspansi perkebunan kelapa sawit dan berbagai penyebab deforestasi," katanya. Hal ini dibutuhkan untuk membantu mengurangi emisi gas rumah kaca, melindungi kekayaan keanekaragaman hayati tropis dan melindungi kehidupan jutaan orang yang hidup dan bergantung pada hutan di seluruh Indonesia, kata Shailendra Yashwant, Direktur Kampanye "Greenpeace" Asia Tenggara. "Esperanza" adalah kapal terbesar dalam armada "Greenpeace" yang diluncurkan pertama kali pada Februari 2002 saat kampanye penyelamatan hutan alam asli "Ancient Forests Save or Delete". Dengan panjang 72 meter dan kecepatan maksimum mencapai 16 knot serta dalam perjalanannya di Indonesia, kapal ini dinakhodai oleh Kapten Madeline Habib.

Editor: AA Ariwibowo
Copyright © ANTARA 2008