AS desak penyelidikan penggunaan kekuatan 'berlebihan ' di Irak

AS desak penyelidikan penggunaan kekuatan 'berlebihan ' di Irak

Kendaraan pasukan keamanan Irak yang terbakar terlihat setelah bentrok dengan pengunjuk rasa saat protes anti-pemerintah yang terus berlangsung di Nassiriya, Irak, Jumat (29/11/2019). ANTARA FOTO/REUTERS/Stringer/aww/cfo

Washington (ANTARA) - Amerika Serikat pada Senin menyebut kekerasan baru-baru ini di Nassiriya, Irak yang menewaskan sedikitnya 29 orang "mengejutkan sekaligus menjijikan," meminta pemerintah Irak menyelidiki dan juga menghukum mereka yang bertanggung jawab atas penggunaan kekuatan "berlebihan".

Pasukan keamanan Irak menembaki demonstran yang memblokade jembatan dan kemudian menggelar aksi di depan kantor polisi di kota selatan tersebut, menewaskan sedikitnya 29 orang. Sumber medis dan Kepolisian menyebutkan puluhan orang lainnya terluka.
Baca juga: Kedubes AS di Irak kecam kekerasan terhadap pemrotes
Pasukan Irak menewaskan lebih dari 400 orang, yang kebanyakan demonstran muda dan tak bersenjata, sejak massa protes aksi pemerintah meletus pada 1 Oktober. Lebih dari belasan anggota pasukan keamanan juga ikut tewas dalam bentrokan tersebut.
Baca juga: Pengunjuk rasa Irak bakar pintu masuk tempat suci

"Penggunaan kekuatan berlebihan selama akhir pekan di Nassiriya mengejutkan dan menjijikan," kata David Schenker, asisten sekretaris negara untuk urusan Timur Dekat, kepada wartawan.
Baca juga: Rakyat Irak berunjuk rasa lagi setelah 40 orang tewas dalam kekerasan
"Kami meminta Pemerintah Irak agar menghormati hak rakyat Irak dan mendesak pemerintah supaya menyelidiki dan meminta pertanggungjawaban mereka yang secara brutal berusaha membungkam demonstran damai," tambahnya.

Kerusuhan tersebut menjadi tantangan terbesar Irak sejak kelompok ISIS merebut petak-petak wilayah Irak dan Suriah pada 2014.

Sumber: Reuters
Baca juga: Seorang terbunuh dalam pawai protes warga Irak menuju Baghdad

Penerjemah: Asri Mayang Sari
Editor: Maria D Andriana
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Polres Jakarta Utara gagalkan penyebaran Dolar AS palsu

Komentar