Pemberdayaan masyarakat terpencil tujuan teknologi yang dibuat LIPI

Pemberdayaan masyarakat terpencil tujuan teknologi yang dibuat LIPI

Kepala Pusat TTG LIPI Pramono Nugroho (kiri), Kepala LIPI Laksana Tri Handoko (kedua kiri), Deputi Bidang Jasa Ilmiah LIPI Mego Pinandito dan Kepala Pusat Penelitian Kebijakan Manajemen IPTEK dan Inovasi LIPI Dudi Hidayat (kedua kanan) berfoto bersama dalam Diskusi Pemanfaatan Teknologi untuk Masyarakat Jauh dan Terpencil di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang digelar di Jakarta, Rabu (11/12/2019). (FOTO ANTARA/Katriana)

Pemanfaatan teknologi yang dibahas dalam acara itu adalah teknologi yang dimanfaatkan untuk memberdayakan masyarakat di daerah terpencil, terutama di Kabupaten Belu, Kabupaten Alor dan Kabupaten Sumba Barat Daya di Provinsi NTT
Jakarta (ANTARA) - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan pemanfaatan teknologi-teknologi yang telah dikembangkan LIPI bertujuan untuk memanfaatkan potensi sumber daya alam lokal dan memberdayakan kemampuan masyarakat sehingga meningkatkan kesejahteraan mereka, terutama masyarakat yang berada di daerah terpencil.

"Jadi forum ini adalah kesempatan untuk menyampaikan apa yang telah dilakukan oleh para peneliti (LIPI) untuk pemberdayaan masyarakat dan ekonomi masyarakat di Belu, Alor dan Sumba Barat Daya," kata Kepala LIPI Laksana Tri Handoko dalam Diskusi Pemanfaatan Teknologi untuk Masyarakat Jauh dan Terpencil di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang digelar di Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan pemanfaatan teknologi yang dibahas dalam acara itu adalah teknologi yang dimanfaatkan untuk memberdayakan masyarakat di daerah terpencil, terutama di Kabupaten Belu, Kabupaten Alor dan Kabupaten Sumba Barat Daya di Provinsi NTT.

Teknologi yang dimanfaatkan di tiga kabupaten tersebut adalah teknologi pengolahan kopi yang dikembangkan di Kabupaten Sumba Barat Daya, teknologi untuk pengolahan jagung bose di Kabupaten Belu dan teknologi yang dikembangkan untuk meningkatkan nilai tambah jambu mete di Kabupaten Alor.

"Jadi itu sesuai dengan potensi sumber daya alam lokal yang memang cukup banyak ada di situ untuk bisa dikembangkan sehingga memiliki nilai ekonomi," katanya.

Kepala Pusat Teknologi Tepat Guna (TTG) LIPI Pramono Nugroho menambahkan bahwa LIPI memilih untuk mengembangkan teknologi yang berkaitan dengan pengolahan kopi karena kopi merupakan sumber daya unggulan yang banyak dibudidayakan masyarakat di Kabupaten Sumba Barat Daya.

Teknologi yang dikembangkan dalam pemanfaatan kopi itu berupa alat yang dibuat baik secara manual maupun digital, contohnya penyangrai kopi digital.

Kemudian, LIPI juga mengembangkan teknologi yang dirancang khusus untuk meningkatkan nilai tambah terhadap jagung bose di Kabupaten Belu dan jambu mete di Kabupaten Alor.

"Yang di Alor itu mete, itu kita bikin kukis dan kita bikin semacam bentuk makanan lainnya," katanya.

Dalam pemanfaatan teknologi tersebut, LIPI melibatkan usaha kecil menengah (UKM) serta masyarakat dengan melakukan banyak pelatihan yang diupayakan agar masyarakat dapat menggunakan teknologi secara tepat.

"Kita justru melibatkan masyarakat. Jadi kita panggil UKM yang sudah ada karena itu salah satu target yang kita harapkan," ujarnya.

"Jadi salah satu targetnya adalah UKM terbina di masing-masing daerah. Jadi kita latih mereka untuk menularkan keahlian ke yang lainnya dan pada akhirnya dapat memberi nilai tambah dan meningkatkan ekonomi masyarakat," demikian Pramono Nugroho.

Baca juga: LIPI kembangkan pangan rumput laut dan teh cegah stunting dan obesitas

Baca juga: 55 peneliti temukan potensi alam pulau kecil terluar di Indonesia

Baca juga: LIPI tegaskan etika penelitian penting

Pewarta: Katriana
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

LIPI minta pembangunan infrastruktur pikirkan aspek ekologi

Komentar