Artikel

Gerakan memulihkan kembali kawasan Pegunungan Ijen pascakebakaran

Oleh Andi Jauhary

Gerakan memulihkan kembali kawasan Pegunungan Ijen pascakebakaran

Salah satu mahasiswa menanam pohon cemara gunung (Casuarina Junghuniana) di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (16/12/2019). Kawasan itu sempat mengalami kebakaran hutan hebat pada Oktober 2019 dan saat ini sedang dipulihkan kembali ekosistemnya. (FOTO ANTARA/HO-Humas DTFL).

Kaki Gunung Ijen (ANTARA) - "Kita tidak sekadar menanam, tetapi juga memulihkan dan mengembalikan ekosistem di Pegunungan Ijen seperti sebelum kebakaran, dan jika dilakukan bersama, kita yakni pasti bisa,".

Penegasan itu disampaikan Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur Nandang Prihadi di sela-sela penanaman 500 pohon cemara gunung (Casuarina Junghuniana) pada kawasan hutan seluas 1,1 hektare di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Ijen, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (16/12).

BBKSDA Jatim adalah salah satu unit pelaksana teknis (UPT) di bawah Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Kawasan di Pegunungan Ijen -- yang secara administratif pemerintahan berada dalam dua wilayah, yaitu Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso -- pada 19 Oktober 2019 terbakar, yang banyak mengakibatkan ribuan pohon hangus.

Dampak dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) itu bermuara pada diberlakukannya status darurat karhutla dan menyebabkan kawasan TWA Gunung Ijen ditutup bagi publik sejak 20 Oktober hingga 6 November 2019.

Saat ini, pada beberapa titik di TWA Gunung Ijen pemandangan pohon yang menghitam akibat terbakar masih mendominasi kawasan tersebut.

Demikian pula onggokan pepohonan yang roboh juga menghiasi sepanjang jalan menuju kawasan TWA tersebut. Pohon yang tumbang itu, bukan disebabkan karhutla, namun pada saat bersamaan terjadi angin puting beliung.

"Hampir bersamaan dengan karhutla saat itu juga terjadi angin puting beliung yang besar yang menyebabkan pepohonan tumbang di beberapa tempat kawasan Cagar Alam (CA) dan TWA Kawah Ijen," kata Nandang Prihadi.

Penanaman kembali sebanyak 500 pohon cemara gunung pada area lahan seluas 1,1 hektare (ha) yang dilakukan ratusan mahasiswa melalui program Siap Sadar Lingkungan (Siap Darling) yang digagas oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), BBKSDA Jawa Timur, dan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi itu disambut gembira.

Kegiatan itu juga menghadirkan grup band Barasuara, yang sedang digandrungi generasi milenial.
Grup band Barasuara saat tampil di panggung di sela-sela aksi menanam pohon cemara gunung (Casuarina Junghuniana) di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (16/12/2019). (FOTO ANTARA/HO-Humas DTFL).


Ia menyebut dukungan "Darling Squad" -- sebutan bagi mahasiswa yang ikut dalam gerakan menanam pohon -- untuk ikut memulihkan ekosistem di Pegunungan Ijen yang terbakar itu "sudah terwujud".

"Mudah-mudahan program 'Siap Darling' tidak hanya sekali ini saja, 500 batang tanaman cemara gunung yang kita tanam di sekitar 1,2 hektare. Ke depan area tanam masih ada 800 hektare lagi," katanya.


Langkah kecil

Sebagai penggagas program "Siap Darling", bagi Vice President Director Djarum Foundation FX Supandji, apa yang dilakukan dengan mengajak ratusan mahasiswa generasi milenial untuk ikut memberikan sumbangsih bagi pemulihan ekosistem di Pegunungan Ijen itu belumlah sesuatu yang maksimal.

"Untuk jangka panjang, program ini barulah langkah kecil menuju terciptanya ekosistem lingkungan yang seimbang," katanya usai bersama 257 mahasiswa dari 27 perguruan tinggi di Pulau Jawa menanam cemara gunung di TWA Kawah Ijen.

Pak Panji, panggilan karib FX Supanji, ikut dalam aksi penanaman itu bersama Kepala BBKSDA Jatim Nandang Prihadi, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyuwangi Chusnul Khotimah mewakili Bupati Abdullah Azwar Anas, serta Dandim 0825 Banyuwangi Letkol (Inf) Yuli Eko Purwanto, dan Group Band Barasuara, yang saat ini digemari kalangan milenial.

Ia mengaku bahwa pada Desember 2015, pihaknya pernah datang ke lokasi itu yang kala itu juga mengalami kebakaran.

Saat ini, kondisinya juga terbakar lagi, yang luasannya mencapai lebih dari 900 ha sehingga tergerak untuk ikut berkontribusi dalam gerakan pemulihan ekosistemnya.

"Usaha kita masih kecil kalau dibandingkan dengan kerusakan itu, maka tidak boleh berhenti di sini. Kami selalu meminta setiap anggota masyarakat membantu dan sadar lingkungan. Kalau kawasan hutan rusak berapa nyawa satwa yang harus menderita, bahkan mati karena habitatnya rusak. Ini bukan untuk kita saja, tapi juga termasuk anak cucu kita," katanya.

Karena itulah, pihaknya berterima kasih kepada pemerintah yang mendukung gerakan "Siap Darling" itu, sekaligus apresi kepada kaum milenial yang semangatnya seperti baja, dan akan terus menularkan kecintaan lingkungan, karena kehidupan semua makhluk tergantung dengan lingkungan, misalnya butuh oksigen.


Tanaman pionir

Dalam tinjauan pustaka (http://eprints.umm.ac.id/39336/3/BAB%20II.pdf), yang merujuk pada (Pinyopusarerk dan Boland, 1995) disebutkan bahwa cemara gunung merupakan jenis tanaman pionir dari lahan deforestasi hutan seperti daerah miring berbatu, daerah yang tidak terganggu serta areal padang rumput.

Sedangkan World Agroforestry Center (WAC) menyebutkan cemara gunung merupakan jenis yang toleran terhadap musim kering, kemungkinan besar dapat bertahan pada kondisi "waterlog" dan mampu mengatasi keadaan kekurangan oksigen.

Pada saat pohon cemara gunung tumbuh beberapa meter pohon tersebut tahan terhadap kebakaran.

WAC menyatakan tanaman ini merupakan jenis dari Indonesia yang sudah menyebar ke Australia, China, India, Kenya, Tanzania dan Thailand. Cemara Gunung di Indonesia dikenal dengan beberapa nama antara lain cemara gunung, kayu angin, dan casuari.

Lembaga Penelitian Kehutanan di Jawa memperkenalkan kayu ini ke Tanzania dan Kenya pada tahun 1955. Tahun 1900 tanaman hibridnya dikenalkan di Thailand dan hasil progeninya selanjutnya dikenalkan di India pada awal tahun lima puluhan.

Dalam laman Taman Nasional Aketajawe Lolobata (https://aketajawe.com/tumbuhan) disebutkan cemara gunung berukuran tinggi dan berbentuk kerucut.

Daunnya berbentuk ramping dan runcing yang berguna untuk mengurangi penguapan. Bentuk daun tersebut juga merupakan adaptasi pohon cemara terhadap lingkungan yang panas.

Baca juga: Kebakaran di Kawah Ijen dan Ranti capai 1.000-an hektare

Warna daun pohon cemara biasanya hijau gelap, tetapi ada beberapa spesies yang berwarna hijau terang.

Pada saat pohon cemara masih muda, kulit kayunya halus, berwarna coklat kehijauan, dan belum mempunyai retakan.

Kulit kayu pohon cemara dewasa terbilang tebal dan warnanya coklat gelap dan biasanya terdapat retakan-retakan di sekujur pohon cemara. Tebalnya kulit kayu pohon cemara membuatnya dapat bertahan di segala kondisi cuaca.

Baca juga: Kawah Ijen ditutup sementara

Pohon cemara tidak menghasilkan buah melainkan pinecone atau runjung cemara. Runjung cemara adalah semacam pucuk yang membawa biji dan juga menjadi organ reproduksi pohon cemara untuk berkembang biak.

Manfaat lainnya, cemara Gunung merupakan tanaman yang dapat digunakan dalam kegiatan reklamasi dan rehabilitasi hutan. Secara khusus, tanaman ini sangat cocok untuk tanaman pionir pada daerah longsor.

Selama ini penggunaan kayu cemara gunung masih terbatas secara lokal hanya untuk bahan bakar atau sebagai sumber energi di mana kayu cemara gunung cocok untuk produksi kayu bakar dan kayu arang.

Baca juga: 1,1 hektare lahan di Gunung Ijen dipulihkan ratusan cemara gunung

Pada kondisi berat jenis dari kayu tersebut 900-1000 kg/m3 dan kerapatan dari kayu arang adalah 650 kg/m3

Energi yang dihasilkan dari kayu arang sebesar 34.500 kJ/kg. Nilai tersebut merupakan nilai energi tertinggi bila dibandingkan dengan jenis kayu bakar lainnya. Kayu Cemara Gunung ini di Thailand populer digunakan untuk sumber konstruksi penyangga dan untuk penjerat ikan serta galah atau tiang.

Selain itu dapat digunakan untuk campuran kayu dipterocarpus untuk membuat hardboard.

Menurut WAC, fungsi lain dari tanaman ini yaitu sebagai tanaman peneduh dan tanaman pembatas karena sesuai dengan fungsinya sebagai tanaman penahan angin. Tanaman ini terkadang juga digunakan untuk tanaman hias.

Dalam upaya memulihkan kembali eksoistem hutan terbakar di Pegunungan Ijen, Kepala BBKSDA Jatim Nandang Prihadi mengakui butuh waktu yang tidak sebentar.

"Untuk tumbuh saja bisa puluhan tahun," katanya.

Namun, harapannya tidak hanya dari menanam saja, tapi juga dari "pemulihan alami", karena ada mekanisme tumbuhan cemara gunung itu secara alami bmampu "merehabilitasi dirinya sendiri.
Baca juga: Kawah Ijen akan segera dibuka kembali

Oleh Andi Jauhary
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

7 warga negara Singapura terjebak kebakaran Gunung Raung

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar