PUNA MALE bisa untuk misi TMC, pemantauan karhutla hingga kombatan

PUNA MALE bisa untuk misi TMC, pemantauan karhutla hingga kombatan

Pengunjung melihat Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) jenis Medium Altitude Long Endurance (MALE) saat pengenalan perdana di hanggar PT Dirgantara Indonesia (Persero), Bandung, Jawa Barat, Senin (30/12/2019). . ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/wsj.

Kita harus siramilah lahan gambut itu agar tidak muncul kebakaran hutan ataupun tidak muncul hotspot itu,
Bandung (ANTARA) - Pesawat udara nir awak (PUNA) atau drone tipe medium altitude long endurance (MALE) ditargetkan mampu mendukung berbagai misi mulai dari upaya melakukan teknologi modifikasi cuaca untuk membuat hujan buatan, pemantauan titik panas atau kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga misi kombatan.

"Salah satu aplikasi dari PUNA MALE ini yang saya harapkan sudah bisa langsung nanti pada saat dia terbang adalah untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan. Kebakaran hutan dan lahan itu setiap tahun terjadi itu kan memang pengawasan yang terus-menerus terhadap awan terhadap cuaca terhadap hotspot terhadap tinggi muka air dari lahan gambut," kata Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza di dalam acara Roll Out Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) atau Dronetipe Medium Altitude Long Endurance (MALE) di PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Jawa Barat, Senin.

PUNA MALE ini dapat membawa 300 kilogram muatan termasuk bahan seperti garam untuk proses penyemaian hujan.

Baca juga: BPPT-PT DI buat tiga lagi prototipe pesawat nirawak MALE hingga 2024

PUNA MALE akan dilengkapi dengan synthetic aperture radar (SAR), suatu radar yang berguna untuk membuat gambar objek dua atau tiga dimensi, seperti lanskap. SAR memberikan resolusi spasial yang lebih baik daripada radar pemindaian sinar konvensional. PUNA MALE juga akan dilengkapi dengan kamera untuk memotret untuk pemetaan areal.

Radar dan kamera ini akan mendukung kegiatan intelijen, pengawasan, pengintaian dan penargetan (Intelligence, Surveillance, Reconnaissance and Targeting).

Synthetic aperture radar dapat memindai tanah sampai kurang lebih 30 cm dari batas permukaan tanah sehingga dapat diketahui banyaknya air yang dikandung.

Jika dari hasil pemindaian, permukaan tanah atau laham gambut didapati kering, maka pembasahan harus segera dilakukan untuk mencegah karhutla.

Baca juga: Pesawat udara nirawak "Elang Hitam" diluncurkan

"Kita harus siramilah lahan gambut itu agar tidak muncul kebakaran hutan ataupun tidak muncul hotspot itu," ujar Hammam.

PUNA dengan berat maksimum saat lepas landas sebesar 1.115 kg ini dilengkapi dengan kamera Sony Alpha 6000 beresolusi 24 megapixels (6000x4000 pixels) seberat 344 gram dan lensa Sony E-Mount Lens 20 mm.

Penggunaan kamera ini mendukung kegiatan pengambilan gamar dengan resolusi yang baik. Dengan kamera ini, dalam penginderaan jauh didapatkan foto jarak sampel tanah atau ground sampling distance 9 cm per pixel pada ketinggian 1.500 kaki sebagai hasil paling bagus untuk standar pemetaan areal.

Baca juga: PTDI kenalkan pesawat nirawak untuk menangkal ancaman teritorial

Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

PT DI dan BPPT kembangkan pesawat tanpa awak Black Eagle

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar