Jakarta (ANTARA News) - Hukuman mati terhadap tiga pelaku bom Bali, yakni Imam Samudra 38 tahun, Ali Ghufron alias Mukhlas 48 tahun dan Amrozi 46 tahun, pada Minggu dini hari di Nusakambangan, mendapat liputan luas media-media transnasional. Kantor berita DPA mengatakan, tak satupun pelaku bom Bali tersebut yang menunjukkan penyesalan atas serangan-serangan yang menewaskan 202 orang dan justru memperingatkan akan adanya pembalasan dari kelompok garis keras Islam lainnya jika mereka dieksekusi. Di desa Tenggulun, tempat jenazah Amrozi dan Mukhlas dimakamkan disambut ratusan pendukung kelompok garis keras yang meneriakkan 'Allahu Akbar' dengan membawa poster-poster yang memuji mereka sebagai 'pahlawan.' Kejadian yang sama juga terlihat di kediaman Imam Samudra di Serang, Jawa Barat. Poster besar 'Selamat Datang Martir' dipasang di jalan menuju desanya. Menurut laporan DPA, Indonesia kini dalam waspada tinggi, sejumlah polisi tambahan dikirimkan ke kedutaan-kedutaan, tempat-tempat perbelanjaan dan perkantoran. AFP dalam laporannya dari Desa Tenggulun, tempat tinggal kakak beradik Amrozi dan Mukhlas, eksekusi terhadap mereka memicu bentrokan antara polisi dan para pendukung ketiga terpidana mati yang diliputi emosi. Ratusan pendukung bentrok dengan polisi saat jenazah Mukhlas dan Amrozi, yang disebut sebagai 'pembunuh yang selalu tersenyum' tiba dengan helikopter ke desa mereka, Tenggulun, di Jawa Timur. Bentrokan pecah dan polisi meninggalkan jalan saat mereka meneriakkan 'jihad' dan 'keluar'. Para wartawan Barat di kedua desa dikata-katai sebagai 'kafir.' Tetapi sebagian besar rakyat Indonesia yang Muslim hanya mempunyai sedikit simpati kepada mereka itu. Kantor berita ini juga mencatat diperketatnya keamanan di sekitar daerah-daerah sensitif seperti kedutaan-kedutaan, tempat-tempat tujuan wisata, perbelanjaan, dan pelabuhan-pelabuhan. Di Bali sendiri, yang mayoritas penduduknya memeluk Hindu, dikerahkan 3.500 polisi di jalan-jalan untuk memperkuat keamanan. Australia menyerukan warganya mempertimbangkan kembali untuk berkunjung ke Indonesia dan AS - yang kehilangan tujuh warganya dalam serangan tersebut - mengingatkan warga Amerika untuk bersikap rendah-hati dan menghindari demonstrasi-demonstrasi. Perdana Menteri Australia Kevin Rudd, yang pemerintahnya menentang hukuman mati, mengatakan bahwa hal itu saat untuk mengenang kembali para korban dan mereka yang selamat dari serangan berdarah itu. Sementara itu, Reuters melaporkan dari Serang Jawa Barat, bahwa jenazah Imam Samudra di bawah pengawalan ketat dibawa ke sebuah mesjid untuk disembahyangkan, dan beberapa di antara pelayat berusaha menyentuh jenazah atau berebut membantu mengusung kerandanya. Pada saat itu, sekitar seratus orang Bali, termasuk beberapa yang selamat dari serangan itu, melakukan persembahyangan di dekat memorial tempat ledakan itu di Kuta. Satuan anti teror Indonesia, Detasemen 88, menurut laporan kantor berita ini, turut terlibat dalam serangkaian serangan mengepung pimpinan JI dan sayap bersenjatanya. Polisi saat ini masih mencari Noordin Top, pria berkebangsaan Malaysia yang dipandang sebagai tokoh utama di balik serangkaian pemboman tersebut, termasuk ledakan-ledakan di Bali pada 2005 yang menewaskan lebih dari 20 orang. (*)

Pewarta:
Copyright © ANTARA 2008