Rupiah Rabu sore loyo, dipicu data defisit neraca perdagangan

Rupiah Rabu sore loyo, dipicu data defisit neraca perdagangan

ILUSTRASI: Lembaran mata uang rupiah dan dolar AS. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/am.

Realisasi ini lebih baik ketimbang ekspektasi dari para analis
Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu sore ditutup melemah setelah pengumuman defisit neraca perdagangan Desember sekitar 30 juta dolar AS dan defisit sepanjang 2019 sebesar 3,2 miliar dolar AS.

Rupiah ditutup melemah 15 poin atau 0,11 persen di level Rp13.695 per dolar AS dibandingkan posisi hari sebelumnya Rp13.680 per dolar AS.

"Realisasi ini lebih baik ketimbang ekspektasi dari para analis," kata Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Rabu.

Sementara itu dari eksternal, pelaku pasar tetap berhati-hati menjelang penandatanganan kesepakatan perdagangan fase satu hari ini, karena Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan tarif barang-barang China akan diberlakukan sampai selesainya perjanjian fase dua.

Negosiasi fase dua kemungkinan tidak akan dimulai sampai setelah pemilihan presiden Amerika pada November mendatang.

Rupiah pada pagi hari dibuka melemah Rp13.684 per dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp13.684 per dolar AS hingga Rp13.720 per dolar AS.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Rabu menunjukkan, rupiah menguat menjadi Rp13.706 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp13.654 per dolar AS.

Baca juga: Defisit neraca perdagangan 2019 turun tajam

Baca juga: Standard Chartered perkirakan ekonomi RI tumbuh lebih tinggi tahun ini



 

Pewarta: Citro Atmoko
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Gubernur BI sebut penguatan rupiah berdampak positif

Komentar