Artikel

Sensus burung air di Ancol untuk pelestarian keanekaragaman hayati

Oleh Martha Herlinawati S

Sensus burung air di Ancol untuk pelestarian keanekaragaman hayati

Ilustrasi - Burung residen Cangak Abu (Ardea cinerea) dan Cangak Merah (Ardea purpurea) berada di kawasan Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta, Sabtu (11/5/2019). Komunitas anak muda Yayasan KEHATI Biodiversity Warriors bersama Accenture melakukan pengamatan serta membarui data temuan burung air dalam rangka Hari Migrasi Burung Sedunia dengan mengangkat tema “Lindungi Burung: Jadi Solusi Terhadap Polusi Plastik”. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/hp.

Jakarta (ANTARA) - Dalam rangka memperingati Asian Waterbird Census (AWC) 2020, Biodiversity Warriors Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) melakukan pengamatan dan sensus dan mendapati empat jenis burung air di kawasan wisata Ancol.

Empat jenis burung air yang disesnsus sebagai upaya pelestarian keanekaragaman hayati tersebut adalah pecuk ular asia, blekok sawah, kokokan laut, kareo padi, yang dipantau di EcoPark Ancol.

Biodiversity Warriors (BW) Yayasan KEHATI pertama kali melakukan upaya pelestarian keanekaragaman hayati melalui pengamatan burung di kawasan wisata Ancol, Jakarta Utara, bersama-sama dengan beberapa anggota BW yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia, seperti Aceh, Medan, Purwokerto, Bali dan Jakarta.

Sensus itu dilakukan untuk mengetahui jenis-jenis burung air yang hidup di kawasan wisata itu, sekaligus meningkatkan kesadaran akan kekayaan keanekaragaman hayati serta mendukung upaya pelestariannya.

Pegiat kehati yang juga staf Edukasi Outreach Yayasan KEHATI Ahmad Baihaqi mengatakan jumlah burung air di Ancol lebih sedikit daripada di Hutan Lindung Angke Kapuk karena vegetasi di EcoPark Ancol lebih kepada taman perkotaan, sementara kawasan pesisir di Muara Angke itu memiliki ekosistem alami, yakni kawasan mangrove yang lebih banyak mengandung makanan yang menarik bagi burung air untuk singgah.

"Memang kondisi pada ruang terbuka hijau dari tutupan vegetasi tanaman lebih perkotaan beda dengan kawasan pesisir yang kawasan mangrove yang lebih banyak disinggahi burung air," kata Baihaqi kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.

Karena vegetasi di Ancol berupa taman perkotaan, maka lebih cocok burung hutan kota atau taman kota. Sementara Hutan Lindung Angke Kapuk memiliki ekosistem mangrove dan hutan hujan di kawasan pesisir yang lebih diminati burung air karena banyak makanan di sana. Ekosistem ini menyediakan makan, tempat istirahat dan bertengger bagi jenis burung tersebut.

"Karena di Ancol ini unsur perairannya danau buatan, berbeda dengan kawasan mangrove alami sehingga potensi pakan untuk jenis burung air lebih sedikit di sini," tuturnya.

Asian Waterbird Census (AWC) adalah kegiatan kesukarelawanan untuk memantau burung air yang dilakukan setiap tahun di setiap minggu ke-2 dan ke-3 di bulan Januari. Kegiatan tersebut dilakukan serentak secara internasional, meliputi wilayah Afrika, Amerika, dan Eropa, dan Australasia (Australia, Selandia Baru, Kepulauan Papua New Guinea, dan Kepulauan Pasifik).

Hasil pengamatan tersebut akan diberikan kepada Wetland International Indonesia yang secara nasional mengoordinir kegiatan Asian Waterbird Census (AWC), pengelola kawasan wisata Ancol dan Pemerintah DKI Jakarta. Hasil pengamatan itu dapat menjadi pengayaan data keanekaragaman hayati Pemerintah DKI Jakarta.

Dengan hasil pengamatan itu, Baihaqi berharap pemerintah DKI Jakarta dan masyarakat bisa lebih sadar terhadap potensi keanekaragaman hayati di wilayah tersebut sehingga dapat memelihara dan melestarikannya.

"Sehingga apabila ingin melakukan pembangunan, seperti membangun jalan, pencakar langit dan mal, memikirkan pertimbangan unsur ekologi burung liar dan burung air," tuturnya.

Baihaqi merekomendasikan penelitian lebih lanjut dan terstruktur untuk penambahan burung air di kawasan Ancol.

Kegiatan Asian Waterbird Census bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap pentingnya menjaga burung air beserta ekosistem sehingga tidak melakukan kegiatan yang merusak lingkungan dan mencemari habitat air karena jika habitatnya tercemar maka dapat mengancam kelangsungan hidup burung air.

Pencemaran lingkungan, termasuk pencemaran air, tidak hanya berdampak pada kualitas air, tapi juga individu yang hidup di dalamnya, termasuk ikan yang menjadi makanan bagi burung air. Jika ikan-ikan mati karena tercemar, maka burung air juga akan kekurangan makanan sehingga dapat terancam mati.

Karena itu, katanya, kegiatan Asian Waterbirds Cencus juga sebagai bagian dari kampanye untuk melestarikan burung air beserta habitatnya.

Biodiversity Warriors adalah gerakan anak muda yang bertujuan memopulerkan keanekaragaman hayati, baik dari sisi keunikan, pelestarian, dan pemanfaatan secara berkelanjutan. Didirikan sejak 2014, BW sudah memiliki lebih dari 2.000 anggota dari beberapa universitas di Indonesia.

Dengan keterlibatan anak muda dalam kegiatan pengamatan burung di Ancol untuk Asian Waterbird Census, maka diharapkan akan memotivasi anak-anak muda untuk lebih mencintai dan melindungi keanekaragaman hayati. Kesadartahuan harus semakin ditingkatkan di tengah masyarakat, terkhusus generasi muda, sehingga bersama-sama menjaga keanekaragaman hayati.

Manajer PR dan Education Outreach Yayasan KEHATI Muhammad Syarifullah mengatakan pihaknya terus menyosialisasikan pentingnya menjaga dan melestarikan keanekaragaman hayati di Indonesia kepada masyarakat, termasuk anak-anak sekolah, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat melindungi sumber daya hayati.

Menurut Syarifullah, kawasan wisata Ancol dapat dimanfaatkan menjadi sarana pembelajaran burung-burung air dan burung liar. Sebagai pengelola kawasan wisata Pantai Jakarta, Ancol juga diharapkan semakin memberikan perhatian terhadap keberlanjutan hidup keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya.

Dia juga berharap ruang terbuka hijau semakin bertambah di wilayah Jakarta, dan tumbuhan serta pepohonan yang akan ditanam di ruang terbuka hijau bukan sekadar untuk unsur estetika, tapi juga untuk menyediakan pakan buah-buahan bagi burung.

Edukasi dan sosialiasi menjadi penting untuk pengarusutamaan pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan. Pola kegiatan manusia juga harus berubah menjadi lebih peduli dan merawat lingkungan, seperti tidak berburu burung dan satwa yang dilindungi, mengelola sampah dengan bijak serta tidak mencemari lingkungan.

Sebelumnya, Biodiversity Warriors Yayasan KEHATI telah melakukan kegiatan Asian Waterbirds Cencus di Hutan Lindung Angke Kapuk, dan berhasil mengindentifikasi sejumlah 132 ekor dari 14 jenis burung air.

Pada 2016, Biodiversity Warriors berhasil mendata 18 jenis burung air yang berada di kawasan tersebut.

Beberapa jenis itu, di antaranya burung kokokan laut (Butorides striatus), cangak abu (Ardea cinerea), pecuk-padi hitam (Phalacrocorax sulcirostris), pecuk ular asia (Anhinga melanogaster) dan beberapa jenis burung air lainnya.

Prof Hadi S Alikodra dalam bukunya yang berjudul "Konservasi Burung Air: Perjuangan Melawan Kepunahan" menyatakan kerusakan besar habitat akibat alih fungsi lahan gambut dan lahan basah telah mengancam kelestarian populasi burung air.

"Intinya kerusakan masif terjadi. Gambut atau lahan basah yang menjadi rumah bagi burung-burung air diubah sedemikian rupa. Karenanya pejabat perlu menyuarakan gambaran burung air yang semakin terancam," kata Prof. Hadi S. Alikodra.

Berdasarkan catatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), 17 persen spesies burung dunia ada di Indonesia. Namun masih ada yang mencintainya secara posesif dengan mengurung burung-burung air.

Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG) Nazir Foead mengatakan jalur-jalur migrasi burung air semakin berkurang karena tempat-tempat basah juga semakin berkurang.

Oleh Martha Herlinawati S
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Kementerian LHK dorong TNGM sebagai konservasi sumber daya alam

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar