Pembangunan kilang peluang kemandirian manufaktur nasional

Pembangunan kilang peluang kemandirian manufaktur nasional

(Dari kiri ke kanan) Dirut Krakatau Steel Silmy Salim, Dirut Barata Indonesia Fajar Harry Sampurno, Dirut Pertamina Nicke Widyawati, Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kementrian Perindustrian Harjanto dan Direktur Komersil Rekayasa Industri Qomaruzzaman saling menyatukan tangan seusai penandatangan komitmen bersama di Workshop Barata Indonesia, Gresik, Jawa Timur, Senin (20/1/2020). ANTARA FOTO/Zabur Karuru/hp/pri.

Dalam setiap pengembangan dan pembangunan proyek kilang, Pertamina memastikan adanya penggunaan produk atau jasa dari dalam negeri dengan persentase yang bervariasi untuk tiap lokasi proyek
Gresik, Jawa Timur (ANTARA) - PT Pertamina (Persero) menyampaikan bahwa pembangunan kilang yang tersebar di beberapa lokasi dengan nilai investasi sekitar Rp800 triliun merupakan peluang besar bagi kemandirian industri manufaktur nasional.

"Kesempatan ini harus ditangkap karena proyek sebesar ini tidak akan pernah terjadi lagi kapan pun dan di belahan dunia mana pun," ujar Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati dalam sambutan penandatanganan kerja sama program percepatan pembangunan kilang PT Pertamina di Gresik, Jawa Timur, Senin.

Pihaknya terus mempercepat pembangunan kilang sekaligus mengoptimalkan keterlibatan industri dalam negeri pada proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) dan Grass Root Refinery (GRR) melalui pembentukan Tim Percepatan Pembangunan Kilang PT Pertamina (Persero) (TP2KP).

Sesuai Keputusan Menteri BUMN No. 284 tanggal 22 November 2019, TP2KP beranggotakan empat BUMN, yaitu Pertamina sebagai ketua tim dan PT Barata Indonesia, PT Rekayasa Industri (Rekind) dan PT Krakatau Steel.

Nicke memaparkan proyek RDMP dan GRR Pertamina itu tersebar di beberapa lokasi, yakni Dumai, Plaju, Cilacap, Balongan, Balikpapan, Tuban, dan wilayah lainnya di Indonesia timur sudah berjalan sampai 2027.

Baca juga: Pertamina: Kolaborasi BUMN pada pembangunan kilang bakal dongkrak TKDN

Ia menambahkan proyek itu memerlukan pembangunan fasilitas penunjang lainnya, seperti storage dan kapal.

"Hal itu menjadi kesempatan langka bagi industri dalam negeri karena menciptakan kebutuhan yang banyak," ucapnya.

Menurut Nicke, pengadaan peralatan merupakan salah satu porsi terbesar yang berpengaruh pada percepatan pembangunan kilang Pertamina sehingga diperlukan peningkatan peran industri manufaktur dalam negeri.

Menurut dia, meningkatnya peran serta industri manufaktur dalam negeri secara tidak langsung akan mendukung program Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang dicanangkan pemerintah.

Ia mengemukakan pada RDMP Balikpapan persentase TKDN akan mencapai 35 persen, sedangkan pada RDMP Cilacap, GRR Tuban, dan Integrated Refinery and Petchem Balongan mencapai 50 persen.

Bahkan, lanjut dia, pada RDMP Balongan Tahap II, TKDN hingga 60 persen, RDMP Balongan Tahap I dan RDMP dan GRR di wilayah Indonesia timur persentasenya antara 70-90 persen.

"Dalam setiap pengembangan dan pembangunan proyek kilang, Pertamina memastikan adanya penggunaan produk atau jasa dari dalam negeri dengan persentase yang bervariasi untuk tiap lokasi proyek," katanya.

Untuk mengoptimalkan pelibatan industri, Nicke mengatakan, melalui TP2KP, Pertamina akan bersinergi dengan PT Barata Indonesia selaku Ketua Tim Percepatan Pengembangan Industri Manufaktur dan didukung PT Rekayasa Industri, PT Krakatau Steel, dan terutama Asosiasi Fabrikator Indonesia (AFABI).

Baca juga: Inalum dukung Pertamina bangun kilang minyak di Kuala Tanjung
Baca juga: UEA jajaki investasi pengembangan kilang Pertamina di Balikpapan
Baca juga: Pertamina-Adnoc kembangkan kilang Petrokimia Balongan

Pewarta: Zubi Mahrofi
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Pembangunan sistem digital 700 SPBU di Sumut ditargetkan selesai April

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar