Dubes Jerman paparkan pengalaman Uni Eropa bentuk identitas masyarakat

Dubes Jerman paparkan pengalaman Uni Eropa bentuk identitas masyarakat

Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Timor Leste, dan ASEAN, Peter Schoof, saat berbicara dalam peluncuran '2020 Year of ASEAN Identity' di Sekretariat ASEAN di Jakarta, Selasa (21/1/2020). ANTARA/Aria Cindyara/am.

Contohnya dapat dilakukan melalui pertukaran pelatihan vokasi, beasiswa pendidikan, dan kerja sama antarkota,
Jakarta (ANTARA) - Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Timor Leste, dan ASEAN, Peter Schoof, memaparkan pengalaman Uni Eropa dalam membentuk identitas masyarakat yang dapat menjadi pertimbangan bagi ASEAN dalam upaya membangun kesadaran komunitas, terutama bagi generasi muda.

Dalam forum diskusi bertajuk 2020 Year of ASEAN Identity, yang digelar sebagai bagian dari peluncuran 2020 sebagai tahun identitas ASEAN di Jakarta, Selasa, Dubes Schoof mengatakan komunikasi merupakan salah satu bagian paling penting dalam membangun identitas, termasuk bagi ASEAN yang tengah berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat sebagai bagian dari komunitas Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara itu.

Organisasi antarnegara seperti Uni Eropa dan ASEAN, menurut dia, memiliki landasan yang sama, yakni untuk menghindari konflik dan hal tersebut merupakan bagian penting dari identitas, namun, seringkali generasi muda  tak memiliki pemahaman yang sama dengan generasi sebelumnya, karena tidak pernah mengalami berada di masa konflik dan akibat dari peperangan.

“Pertanyaannya adalah bagaimana kita membuat generasi muda ini mengerti sesuatu yang penting meski mereka belum pernah mengalami dan bahkan tidak menyadari pentingnya (organisasi antarnegara di kawasan),” kata Schoof.

Dia mengatakan perlu ada upaya komunikasi yang baik untuk menyampaikan nilai-nilai komunitas masyarakat kawasan, tak hanya melalui laman informasi digital, namun juga melalui pertemuan secara fisik antara berbagai kalangan masyarakat dari negara-negara anggota.

“Contohnya dapat dilakukan melalui pertukaran pelatihan vokasi, beasiswa pendidikan, dan kerja sama antarkota,” kata dia.

Baca juga: Luncurkan logo, ASEAN namai 2020 tahun identitas perhimpunan
Baca juga: Pejabat tinggi ASEAN dukung narasi identitas yang diusulkan Indonesia


Mengingat latar belakang negara-negara anggota ASEAN yang memiliki latar belakang yang beragam dari segi agama, sejarah, hingga geografi, fokus terhadap interaksi masyarakat sipil sangat dibutuhkan dalam membangun identitas karena merupakan dasar dari upaya-upaya yang dilakukan oleh pejabat maupun pemerintah.

“Bertolak dari pengalaman Uni Eropa, sebisa mungkin upayakan pertemuan antarmasyarakat agar mereka dapat menemukan persamaan dalam diri sesama dan mereka dapat melihat bahwa mereka adalah sesama bagian dari ASEAN. Pada saat yang bersamaan mereka juga bisa menjaga identitas sebagai warga negara masing-masing,” ujar dia.

Selain itu, dia juga menyebut integrasi ekonomi dan kesejahteraan sebagai faktor penentu yang tak kalah penting dalam membentuk identitas.

“Integrasi kerja sama menggarisbawahi ekonomi. Kemakmuran dan keamanan ekonomi adalah bagian dari insting,” kata dia.

Tahun 2020 disebut sebagai tahun identitas ASEAN, di mana para negara anggota, dengan dukungan dari Sekretariat ASEAN, akan melakukan aktivitas yang tersebar di berbagai area, termasuk budaya, seni, media, kegiatan anak muda, dan pendidikan. Penyelenggaraan 2020 Year of ASEAN Identity didukung oleh pemerintah Jerman melalui Deutsche Gesellschaft fur Internationale Zusammenarbeit GmbH atau GIZ.

Baca juga: Malaysia dukung narasi identitas ASEAN yang diusulkan Indonesia
Baca juga: Thailand sebut identitas ASEAN harus menyoroti keberagaman


Pewarta: Aria Cindyara
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Mendag terima pengusaha AS bahas hambatan perdagangan di e-commerce

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar