Jakarta (ANTARA News) - Selasa tanggal 2 Desember 2008, Mahkamah Konstitusi Thailand memvonis partai-partai pendukung pemerintah, Partai Chart Thai, Partai Kuasa Rakyat (PPP) dan aliansi partai gurem Matchima Thipatayaharus, dibubarkan sekaligus melarang para pejabat terasnya berada lagi di gelanggang politik negeri itu selama lima tahun karena terbukti berbuat curang pada pemilu 23 Desember 2007.

Keputusan Mahkamah Konstitusi itu membuat Keluarga Silapa-archa, terutama Banharn Silapa-archa, yang menjadi pemimpin Partai Chart Thai, beserta dua anaknya yang menjadi eksekutif partai itu, Kanchana dan Varawut, terasing selama lima tahun dari gelanggang politik.

Banharn memang berjanji akan kembali ke dunia politik segera setelah melewati masa lima tahun "pengasingannya," tapi saat itu ia sudah terlalu renta untuk menjadi seorang politisi, 81 tahun.

Banyak orang Thailand bagian tengah khawatir "dinasti Kennedy atau keluarga Gandhi versi Thailand" yang selama 30 tahun mendominasi perpolitikan Negara Gajah itu, berakhir, apalagi itu sudah tersirat saat upacara pembubaran partai itu.

Selama upacara pembubaran partai berumur 34 tahun itu, di depan para pendukungnya, secara emosional Banharn berorasi, "Ini semua salah saya. Maafkan saya karena tidak bisa mempertahankan partai untuk tetap bersatu."

Semua pejabat dan anggota Partai Chart Thai menghadiri upacara itu dengan mengenakan busana serba hitam dan banyak dari mereka membawa serta kamera untuk mengabadikan kesempatan bersejarah itu.

Tapi kemudian dengan penuh khidmat mereka bersama-sama menutup pelat nama partainya dengan pakaian hitam begitu Banharn menyampaikan pidato perpisahannya yang agak menyayat dan melankolik.

Suasana segera berubah menjadi sangat emosional setelah para mantan anggota partai tengah Thailand itu saling berbalas selamat tinggal disertai linangan air mata.

Banharn berkata, ia menerima keputusan Mahkamah Konstitusi itu dengan sepenuh hati, apalagi ia mengetahui keputusan itu berbuah manis dengan berakhirnya pendudukan bandara internasional Suvarnabhumi dan Don Mueang oleh Aliansi Rakyat untuk Demokrasi.

Setelah itu, giliran mantan kandidat Ketua Partai Chart Thai, Chuwit Kamolvisit, maju ke podium sambil membawa satu karangan bunga untuk dipersembahkan kepada Banharn dan mengungkapkan penyesalannya bahwa partai mereka harus dibubarkan.

Dia berpesan pada pemimpinnya yang beranjak sepuh ini agar menggunakan waktu lima tahun ke depan untuk beristirahat.

Chuwit juga menasihati Banharn untuk tidak mencalonkan saudaranya sebagai pemimpin Partai Chart Thai Pattana, pengganti partai yang dibubarkan, karena banyak orang di provinsi Suphan Buri yang pantas memimpin "partai baru tapi lama" ini.

Selicin Belut

Nama Silapa-archa senantiasa diasosiasikan dengan Partai Chart Thai. Di samping kepala dinasti keluarga, Banharn (75) adalah sekretaris jenderal partai itu selama 15 tahun dan menjadi ketuanya sepanjang 15 tahun berikutnya.

Politisi veteran yang basis pendukungnya ada di provinsi Suphan Buri, Thailand tengah ini, adalah perdana menteri Thailand dari Juli 1995 sampai November 1996.

Partai ini dicap media massa sebagai "partai belut" karena kelihaiannya bermanuver politik dan sangat pragmatis hingga bisa berkawan dengan siapa pun, termasuk dengan Thaksin Shinawatra yang dianggap banyak orang Thai arogan dan sering menghalalkan segala cara.

Generasi kedua dinasti politik Silapa-archa diwakili oleh anak lelakinya Varawut dan anak perempuannya Kanchana. Sayang, kedua orang ini pun dilarang bertingkah lagi di dunia politik selama lima tahun ke depan.

"Saya yakin ayahku akan terus berjuang. Dia telah melewati masa-masa sulit sebelum ini. Mungkin tempo ini bukan milik kami, namun dalam lima tahun ke depan semuanya bisa berubah radikal," kata Kanchana.

Mungkin dia tak akan pernah menyerah, namun pembubaran ini menjadi momen paling menyakitkan dalam hidup Banharn karena harus menyaksikan partai yang didirikan pada 1974 oleh Grup Rajakru pimpinan Jenderal polisi Pramarn Adireksarn ini bubar, justru saat dalam kepemimpinannya.

Pada 15 November 2008, kepada para anggota partai dalam perayaan hari jadi ke-34 Partai Chart Thai, Banharn pernah mengungkapkan kekhawatirannya bahwa partai itu bakal dibubarkan. Saat itu dia mengaku telah mendatangi berbagai wihara untuk berdoa demi keselamatan partainya.

Kini di bawah cekikan keputusan MK, Banharn merasa berada dalam tekanan yang demikian kuat untuk memulai mencari penerus perjuangan politiknya.

Mengingat dua anaknya juga dilarang berpolitik selama lima tahun, kandidat terkuat kemudian jatuh pada istrinya sendiri Khunying Jamsai dan adik bungsu perempuannya, Parichat.

Sayang, kedua perempuan ini jauh-jauh hari sudah menyatakan tidak berminat terjun ke dunia politik.

Jamsai mungkin menjadi pendukung paling setia Banharn sepanjang karir politik pria ini, namun perempuan tersebut sangat low profile, tidak seperti Pojaman Shinawatra, istri mantan PM Shinawatra, atau Yaowabha Wongsawat, istri PM yang dipaksa mengundurkan diri oleh MK, Somchai Wongsawat.

Sementara Parichat tidak bisa diganggu gugat karena ia asyik berlatih yoga dan ogah mengikuti jejak abangnya.

Banharn pusing tujuh keliling, bukan hanya oleh hal-hal itu, tetapi juga harus berpikir bagaimana membangun partai baru pasca pembubaran Partai Chart Thai, di samping juga bagaimana memanfaatkan 15 kursi partainya di pemerintahan supaya tidak sia-sia. (*)


Sumber: The Nation dan Daily Express

Pewarta: Jafar M. Sidik
Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2008