Legislator: Gaji guru honorer tidak hanya dari BOS

Legislator: Gaji guru honorer tidak hanya dari BOS

Ilustrasi - Sejumlah mahasiswa Fakultas Keguruan Untirta (Universitas Negeri Tirtayasa) Banten berunjuk rasa mendesak pemerintah memperbaiki nasib para guru honorer di Alun-Alun Serang, Banten. ANTARA FOTO/ASEP FATHULRAHMAN

Komisi X masih terus mengkaji permasalahan guru honorer ini
Jakarta (ANTARA) - Ketua Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Syaiful Huda mengatakan sumber pendanaan untuk gaji guru honorer tidak hanya berasal dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS) melainkan juga dari pemerintah daerah.

"Adapun honorer, selain dari dana BOS gaji dapat diberikan oleh pejabat yang berwenang, seperti pemerintah daerah (pemda). Hal ini dimungkinkan karena ke depan pemerintah akan menata kembali tenaga honorer," ujar dia di Jakarta, Kamis.

Ia menambahkan keberadaan guru honorer memang masih menjadi permasalahan, khususnya terkait dengan tenaga honorer yang tidak diangkat menjadi PNS atau PPPK.

"Komisi X masih terus mengkaji permasalahan guru honorer ini," kata politikus Partai Kebangkitan Bangsa itu.

Dalam kebijakan "Merdeka Belajar" episode III disebutkan tentang perubahan dana BOS yang diperkenankan duntuk gaji guru honorer, maksimum 50 persen dari dana BOS.

Persentase itu meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya diperbolehkan 15 persen (untuk sekolah negeri) dan 30 persen (untuk sekolah swasta).

Syarat utama mendapatkan gaji dari dana BOS tersebut, harus memiliki NUPTK sebelum 31 Desember 2019, kemudian belum memiliki sertifikasi pendidik dan sudah tercatat di Dapodik sebelum 31 Desember 2019.

Baca juga: IGI: BOS seharusnya bukan untuk gaji guru
Baca juga: 53 persen guru honorer belum punya NUPTK
Baca juga: Mendikbud: Gaji guru honorer minimal setara UMR

 

Pewarta: Indriani
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar