Budi Karya: Virus COVID-19 tidak masuk Indonesia karena "nasi kucing"

Budi Karya: Virus COVID-19 tidak masuk Indonesia karena "nasi kucing"

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyampaikan pidato ilmiah dalam acara peringatan Hari Pendidikan Tinggi Teknik (HPTT) ke-74 di Grha Sabha Pramana, UGM, Yogyakarta, Senin. (FOTO ANTARA/Luqman Hakim).

Dengan keadaan ini kita harus bangga Indonesia itu tiga tahun berturut-turut 'growth' (pertumbuhan ekonomi)-nya lima persen,
Yogyakarta (ANTARA) - Menteri Perhubungan (Menhub) RI. Budi Karya Sumadi berkelakar bahwa tidak ditemukannya virus COVID-19 di Indonesia hingga saat ini karena masyarakatnya memiliki kekebalan tubuh lantaran setiap hari gemar makan nasi kucing.

"Tapi (ini) guyonan sama Pak Presiden ya, insya Allah ya, (virus) COVID-19 tidak masuk ke Indonesia karena setiap hari kita makan nasi kucing, jadi kebal," kata Budi Karya saat menyampaikan pidato ilmiah dalam acara peringatan Hari Pendidikan Tinggi Teknik (HPTT) ke-74 di Grha Sabha Pramana, UGM, Yogyakarta, Senin.

Nasi kucing adalah nasi dengan porsi kecil dan lauk yang sangat sederhana seperti sambal ikan teri, telur, tempe dan beragam variasi lainnya. Nasi yang biasa dibungkus dengan daun pisang ini populer di Yogyakarta, Surakarta, dan Semarang.

Baca juga: Sumsel siapkan lima rumah sakit rujukan terkait Covid-19

Meski demikian, ia melanjutkan bahwa hingga saat ini faktanya memang belum ada laporan pasien terjangkit virus COVID-19 di Tanah Air.

Dengan merujuk laporan Bank Dunia 2020, Budi Karya kemudian menyebutkan bahwa virus yang pertama kali ditemukan di Kota Wuhan, China itu menjadi salah satu penyebab ketidakpastian ekonomi global saat ini.

Selain itu, kata dia, gejolak ekonomi global itu masih diperparah dengan perang dagang Amerika Serikat dengan China, konflik di Timur Tengah, hingga keluarnya Inggris dari Uni Eropa atau Brexit.

Baca juga: Mahasiswa Aceh dari China akan kuliah secara daring

"Dengan keadaan ini kita harus bangga Indonesia itu tiga tahun berturut-turut 'growth' (pertumbuhan ekonomi)-nya lima persen. Kita nomor dua di dunia setelah China," kata dia.

Sebelumnya, Medical Officer dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk wilayah Indonesia Vinod Kumar Bura mengatakan Indonesia mampu mendeteksi virus novel COVID-19 2019 dengan fasilitas yang memadai dan sesuai dengan standar WHO.

"Mereka (Kementerian Kesehatan RI) baru saja menguji semua spesimen dari 60 kasus dalam beberapa minggu terakhir dan telah mengonfirmasi bahwa tidak satu pun dari kasus itu positif virus corona. Kami sepenuhnya yakin bahwa laboratorium ini mampu untuk mendeteksi virus COVID-19 ini," terang Vinod di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan usai mengunjungi fasilitas deteksi virus di kantor badan itu di Jakarta.

Baca juga: Bima Arya imbau warga tak khawatir dialog dengan WNI negatif corona

Pewarta: Luqman Hakim
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Ini penjelasan juru bicara terkait menyebaran virus corona melalui udara

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar