Bandung (ANTARA News) - PT Indonesia Power berencana melakukan pemboran sumur pertama di Gunung Tangkuban Perahu Bandung pada 2009 dalam rangka pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di kawasan itu. "Pemboran sumur pertama akan dilakukan tahun 2009 ini, hal itu untuk memastikan langkah pembangunan PLTP di sana. Potensi geotermal Gunung Tangkuban Perahu sangat besar," kata Direktur Utama PT Indonesia Power, Tony Agus Mulyantono di sela-sela Press Tour di PLTP Gunung Salak Kabupaten Sukabumi, Kamis. PT Indonesia Power sebagai pemenang tender pembangunan PTPT Gunung Tangkuban Perahu saat ini tengah mempersiapkan kelengkapan dan persyaratan untuk segera melakukan ekplorasi panas bumi di gunung yang berlokasi di perbatasan Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Subang itu. Menurut Tony, ditargetkan sumur pertama itu tuntas dibor pada 2009 ini. Sumur pertama itu akan menentukan langkha berikutnya dari pembangunan PLTP yang nantinya akan mendukung pasokan listrik ke jaringan interkoneksi Jawa - Bali. "Indonesia Power sudah melakukan langkah-langkah untuk segera merealisasikan PLTP di sana. Kita sudah siap bangun di sana," katanya. Pembangunan PLTP di Gunung Tangkuban Parahu itu, merupakan salah satu program pemanfaatan geotermal di wilayah Jawa Barat. Selain di Gunung Tangkuban Parahu, pembangunan lokasi PLTP lainnya juga akan dilakukan di Gunung Halimun Sukabumi dan Gunung Tampomas Sumedang. "Kebijakan energi ke depan mengoptimalkan sumber-sumber energi yang murah dan mengurangi ketergantungan kepada BBM. Potensi geothermal dikedepankan untuk energi masa depan," katanya. Dirut Indonesia Power itu menyebutkan , Geothermal di Indonesia merupakan yang terbesar di dunia dengan cadangan enthalpy tinggi setara 27.000 MW atau setara 40 persen dari cadangan panas bumi dunia. Namun saat ini baru dimanfaatkan untuk membangkitkan tenaga listrik dengan kapasitas total 1025 MW atau kurang dari 4 persen dari energy mix Indonesia. Ia menyebutkan, Indonesia Power saat ini fokus kepada operational dan maintenance. Salah satunya mengupayakan pengalihan bahan bakar minyak dengan gas seperti yang dilakukan di PLTU Grati dan Tanjung Priok. Terkait penghematan BBM, Dirut PT Indonesia Power menyebutkan tahun 2009, pihaknya menargetkan penurunan penggunaan BBM sehingga mengurangi biaya operasi sekitar Rp7 triliun. "Sebagian pembangkit sudah dimaintenance salah satunya merubah penggunaan BBM solar ke gas. Sehingga ke depan bisa melakukan penghematan biaya bahan bakar daro Rp37 triliun menjadi Rp30 triliun pada 2009 ini," katanya. Tony menyebutkan, penggunaan BBM untuk seluruh pembangkit Indonesia Power pada 2008 sebanyak 2,7 juta kiloliter solar dan 700 ribu kiloliter MFO. Namun pada 2009 itu, penggunaan solar turun menjadi 1,66 juta kiloliter dan MFO sebanyak 500 ribu kiloliter. "Biaya pembelian solar memang paling menyita biaya operasional. Upaya mengganti dengan energi lain dilakukan, namun tidak sekaligus. Maintenance dari solar ke gas atau batubara tidak bisa sekaligus, untuk sementara dialihkan menggunakan minyak bakar (MFO) yang harganya lebih murah," katanya. Pasalnya, kata Tony, pembangkit yang eksisting saat ini dirancang untuk menggunakan BBM jenis solar, sehingga maintenance ke gas harus dilakukan bertahap. "Tahun lalu difokuskan pembangunan pembangkit dengan batu bara, namun ke depan akan dioptimalkan dengan geothermal," katanya. Dengan diterbitkannya UU No.27 Tahun 2003, tentang panas bumi, pemerintah telah menerbitkan blue print pengembangan industri panas bumi tahun 2003-2020 dengan target 6000 MW. "Sedangkan Kebijakan Energi Nasional mengamanatkan tahun 2025 panas bumi bisa memasok 9.500 MW atau sebesar 5 persen dari kebutuhan total energi nasional," kata Tony Agus Mulyantono menambahkan.(*)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2009