Citeureup, Bogor (ANTARA News) - PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, salah satu perusahaan semen terbesar di Indonesia, meraih dua penghargaan sekaligus atas perannya dalam tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility).

Indocement meraih "Penghargaan Emas" dan "Penghargaan Terbaik 1" untuk Sektor Industri dan Manufaktur pada Bidang Sosial dan Lingkungan.

Kepala Departemen Humas dan Komunikasi Indocement Aldo Yuliardy kepada ANTARA di Citeureup, Kabupaten Bogor, Rabu, menjelaskan bahwa "Indonesian CSR Awards 2008" diselenggarakan oleh Departemen Sosial (Depsos) dan Corporate Forum of Community Development (CFCD) dengan pelaksana Latofi Enterprise.

Ia menjelaskan, Direktur Sumberdaya Manusia (SDM) Indocement Kuky Permana, berhasil meraih Penghargaan Terbaik 1 untuk kategori pimpinan perusahaan tipe perorangan.

"Keberhasilan tersebut merupakan komitmen dan keberhasilannya dalam upaya memajukan Corporate Social Responsibility (CSR), khususnya di Indocement," katanya.

Sedangkan "Penghargaan Emas", kata Aldo Yuliardy, diberikan kepada perusahaan itu pada program yang dinilai berhasil meraih nilai tertinggi, yakni Program Pengolahan Sampah Menjadi Energi.

Perusahaan itu, pada hari ulang tahun (HUT) ke-33 awal Agustus setelah melakukan program CSR dengan penanaman lahan bekas tambang dengan tanaman jarak pagar (Jathropa curcas) dan pemanfaatan sampah rumah

tangga untuk dijadikan kompos dan biomassa, mengembangkan proyek-percontohan konversi energi.

Peluncuran proyek percontohan berupa pemanfaatan kotoran sapi yang diubah menjadi biogas itu, dilaksanakan di Kampung Cigedong, Desa Lulut, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, bertepatan dengan HUT perusahaan itu.

Direktur SDM Indocement Kuky Permana secara simbolis menyerahkan satu set peralatan, yakni reaktor biogas, bak out-put serta, kompor biogas kepada Ali Irawan (38), warga setempat, mewakili empat rumah tangga yang sebulan terakhir telah memanfaatkan biogas itu.

Demonstrasi pemanfaatan biogas sejak dari kandang sapi hingga bisa digunakan untuk memasak itu juga disiarkan melalui "video conference", sehingga Direktur Utama (Dirut) Indocement, Daniel Lavalle dan karyawan yang berada di pabrik Citeureup bisa melihat dan berinteraksi langsung Kuky Permana dan warga yang berada di Desa Lulut.

Menurut Kuky Permana, program terbaru --meski masih proyek percontohan--berupa konversi energi dari kotoran ternak itu tidak lain adalah untuk pemberdayaan masyarakat, yang semuanya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan warga di sekitar pabrik, baik yang ada di Citeuereup, Palimanan, Cirebon, dan Tarjun, Kota Baru, Kalimantan Selatan (Kalsel).

Ia mengatakan, umumnya program "community development" itu selalu berbentuk membangun sarana jalan, tempat ibadah --yang selama ini juga masih dilakukan perusahaan itu--namun bentuk seperti itu umumnya tidak berkesinambungan, dan suatu saat bisa berhenti.

"Kami tidak ingin membuat kebiasaan masyarakat tergantung, yakni hanya bersifat meminta, sehingga perlu program pemberdayaan yang berkesinambungan," katanya.

Pada mulanya, saat dikenalkan program kebun jarak --yakni menanam pohon jarak di lahan bekas tambang dan juga di kebun-kebun masyarakat yang selama ini ditelantarkan-- ternyata bersinergi dengan adanya penelitian yang menunjukkan bahwa pemeliharaan jarak yang benar dan baik adalah menggunakan pupuk kandang.

"Akhirnya kami berpikir bagaimana mendapatkan pupuk kandang lebih baik, ternyata kita lihat masyarakat sekitar banyak punya ternak yang berkeliaran, namun tidak ditata rapi, padahal kita ketahui kotoran ternak itu mempunyai potensi untuk menjadi energi," katanya.

Apalagi masalah umum saat ini adalah soal minyak tanah yang harganya naik, sehingga pihanya terus mencari segala macam upaya dan kreativitas bagaimana ikut membantu menangani soal energi itu melalui jalur pemanfaatan kotoran ternak yang bisa dikonversi menjadi biogas.

Dengan proyek percontohan di Desa Lulut itu, kata dia, telah menunjukkan kepada masyarakat bahwa peternakan kalau dikelola dengan baik dan benar, bisa menghasilkan energi ramah lingkungan dan bisa membantu masyarakat soal krisis minyak tanah.

"Saya kira ini salah satu terobosan, dan proyek percontohan biogas ini akan kita jadikan pola dan kita lanjutkan ke tempat atau desa-desa lain," katanya.
(*)

Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2009