Surabaya (ANTARA News) - Wartawan Duta Masyarakat, Riadi Ngasiran dan LKBN ANTARA, Masuki M. Astro terpilih sebagai juara pertama dan kedua lomba penulisan tentang pelukis Jansen Jasien yang diumumkan di Surabaya, Kamis. Ketua dewan juri lomba bertajuk "Jansen Jasien Art Writing Competition" itu, Sirikit Syah mengemukakan, sebetulnya panitia menyediakan tiga hadiah, namun yang memenuhi kriteria nilai minimal hanya dua karya. "Karya Riadi Ngasiran mendapat nilai 980, sedangkan karya Masuki M. Astro 765. Kami menentukan bahwa karya peserta yang layak menjadi juara minimal nilainya 500 dari nilai tertinggi hingga 1.500 poin," katanya. Riadi dalam lomba itu menulis karya berjudul "Di Manakah Jansen Jasien dalam Identitas Surabaya?", sedangkan Masuki menulis karya berjudul "Jansen Jasien; Menyelamatkan Pusaka di Oedjoeng Doepa" yang bersambung dengan tulisan "Dari M. Yasin ke Jansen Jasien". Juara pertema mendapatkan lukisan Jansen Jasien seharga Rp15 juta, sedangkan juara kedua mendapat lukisan seharga Rp10 juta. Kedua hadiah itu adalah karya terakhir Jansen Jasien berupa sketsa di atas warna coklat. Sirikit mengemukakan, pada lomba yang untuk pertama kalinya di Surabaya menyediakan hadiah berupa lukisan itu sangat menyedihkan karena pesertanya hanya diikuti 10 orang. Padahal panitia membuka peserta untuk masyarakat lewat media blog atau website. "Mungkin tidak banyak orang yang punya blog atau memang tidak banyak orang suka menulis yang sifatnya apresiatif. Padahal kalau ada lomba karya cerpen, jumlahnya bisa ratusan orang," kata mantan wartawan yang juga penulis cerpen itu. Sirikit Syah yang juga praktisi media di Surabaya mengemukakan, lomba semacam ini menjadi simbiosis bagi Jansen Jasien, wartawan dan masyarakat umum yang memiliki kepedulian bagi seni rupa. "Tahun 1980 hingga 1990-an, meskipun karyanya banyak yang tidak laku, kritik seni rupa sangat hidup. Sekarang, karyanya banyak yang laku, tapi kritiknya sepi. Melalui kompetisi seperti ini saya kira sangat positif," katanya. Sementara Jansen Jasien mengemukakan, lomba dengan hadiah lukisan itu memang bertujuan memberi kesempatan kepada masyarakat untuk mengoleksi karya pelukis dengan menggunakan karya intelektual, bukan dengan membeli. "Karya seni itu tidak melulu hanya ditukar dengan uang, tapi dengan kecerdasan," kata pelukis asal Sidoarjo yang karyanya banyak dimiliki kolektor terkemuka, termasuk yang disimpan di sebuah museum di Belanda.(*)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2009