Tanggulangi penyebaran corona, negara-negara Afrika tutup perbatasan

Tanggulangi penyebaran corona, negara-negara Afrika tutup perbatasan

Seorang pria berdiri di sampaing poster ucapan Selamat Tahun Baru China selama konferensi pers soal virus corona di Abuja, Nigeria, 3/2/2020. ANTARA/REUTERS/Afolabi Sotunde/tm (REUTERS/AFOLABI SOTUNDE)

Setiap warga negara asing yang telah mengunjungi negara-negara berisiko tinggi virus corona dalam 20 hari terakhir akan ditolak visanya
Nairobi (ANTARA) - Beberapa negara Afrika pada Minggu menutup perbatasan, membatalkan penerbangan dan memberlakukan persyaratan masuk dan karantina yang ketat untuk menahan penyebaran virus corona jenis baru, COVID-19.

Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa mengumumkan bencana nasional dan memperingatkan wabah itu memberikan dampak kepada perekonomian negara-negara berkembang di benua Afrika terutama yang sudah dalam kondisi resesi.

Langkah-langkah yang harus diambil oleh negara-negara Afrika termasuk melarang perjalanan ke dan dari negara-negara seperti Italia, Jerman, China dan Amerika Serikat.

"Setiap warga negara asing yang telah mengunjungi negara-negara berisiko tinggi virus corona dalam 20 hari terakhir akan ditolak visanya," katanya, seraya menambahkan bahwa orang Afrika Selatan yang mengunjungi negara-negara itu diharuskan menjalani tes dan karantina ketika kembali ke rumah.

Afrika Selatan, yang telah mencatat 61 kasus, juga akan melarang pertemuan lebih dari 100 orang, kata Ramaphosa.

Baca juga: Kualifikasi Piala Afrika 2021 juga terdampak pandemik COVID-19
Baca juga: Republik Afrika Tengah laporkan kasus pertama corona


Presiden Kenya Uhuru Kenyatta mengatakan pemerintahnya menangguhkan perjalanan dari negara mana pun dengan yang melaporkan kasus COVID-19.

"Hanya warga negara Kenya, dan orang asing yang memiliki izin tinggal yang sah akan diizinkan masuk, asalkan mereka melanjutkan untuk melakukan karantina sendiri," katanya dalam pidato yang disiarkan televisi.

Larangan itu mulai berlaku dalam waktu 48 jam dan tetap berlaku setidaknya selama 30 hari, katanya.

Sekolah-sekolah harus segera ditutup dan universitas pada akhir pekan, tambahnya. Warga akan didorong untuk melakukan transaksi tanpa uang tunai untuk mengurangi risiko penanganan uang yang terkontaminasi.

Kenya dan Ethiopia sekarang masing-masing telah mencatat tiga dan empat kasus, kata pihak berwenang di masing-masing negara pada hari Minggu, dua hari setelah mereka melaporkan kasus pertama.

Sementara itu, mulai hari Selasa, Ghana akan melarang masuk siapa pun yang pernah berkunjung ke negara dengan lebih dari 200 kasus virus corona dalam 14 hari terakhir, kecuali mereka adalah penduduk resmi atau warga negara Ghana. Ghana telah mencatat enam kasus.

Presiden Nana Akufo-Addo mengatakan dalam pidato Minggu malam yang disiarkan televisi bahwa universitas dan sekolah akan ditutup mulai Senin hingga pemberitahuan lebih lanjut. Pertemuan publik akan dilarang selama empat minggu, katanya.

Pemakaman pribadi boleh dihadiri kurang dari 25 orang.

Di Afrika bagian selatan, Namibia memerintahkan sekolah untuk tutup selama sebulan setelah melaporkan dua kasus pertamanya pada hari Sabtu.

Selain itu, Djibouti, yang tidak memiliki kasus COVID-19 yang dikonfirmasi, menangguhkan semua penerbangan internasional. Tanzania, yang juga belum memiliki kasus, membatalkan penerbangan ke India dan menangguhkan aktivitas sekolah.

Negara-negara lain juga telah menutup sekolah, membatalkan festival keagamaan dan acara olahraga untuk meminimalkan risiko penularan. Sekitar 156.500 orang di seluruh dunia telah terinfeksi dan hampir 6.000 orang meninggal.

Sumber : Reuters

Baca juga: Ghana, Gabon konfirmasi kasus pertama virus corona
Baca juga: Afrika Selatan konfirmasi penularan lokal COVID-19 pertama

 

Penerjemah: Azis Kurmala
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Kantor pos salurkan dana BST di Pekanbaru

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar