Teheran (ANTARA News) - Iran, Senin, mengatakan bahwa Korea Utara bisa dibenarkan dalam peluncuran roketnya yang kontroversial akhir pekan lalu, dan membantah adanya kaitan-kaitan antara kedua negara dalam hal program rudal.

"Kami selalu berpendapat bahwa ruang angkasa bisa digunakan untuk berbagai keperluan damai sesuai dengan hukum internasional," kata jurubicara kementerian luar negeri Iran, Hassan Ghashghavi kepada para wartawan, ketika ditanya mengenai peluncuran roket Korea Utara Ahad yang kontroversial.

"Itu adalah hak kita untuk melakukannya, kami juga berpendapat bahwa yang lain juga berhak untuk itu," katanya seperti diberitakan AFP.

Dia juga mengatakan, bahwa program rudal Iran berbeda dengan Korea Utara, meskipun mereka juga dicemaskan oleh internasional.

"Program rudal Republik Islam itu berbeda dan bebas dibanding Korea Utara. Program mereka dimulai beberapa tahun lalu dan peluncuran yang mereka lakukan bukanlah yang pertama," katanya.

Para analis internasional meyakini bahwa Iran dan Korea Utara berkolaborasi erat dalam peluncuran roket terakhir, dan menyatakan muatan mereka tampaknya sama seperti yang dilakukan peluncuran Iran pada februari lalu.

Berbagai kekuatan dunia mengecam peluncuran Korea Utara Ahad sebagai tindakan provokatif yang mengancam keamanan global.

Korea Utara mengatakan, bahwa pihaknya telah meluncurkan suatu satelit komunikasi eksperimen sebagai bagian dari program kedirgantaraan untuk kepentingan damai mereka.

Pada Februari silam, Iran juga berhasil meluncurkan satelit bikinan sendiri untuk pertama kalinya.

Peluncuran satelit Omid (Harapan) itu mengirimkan bel-bel alarm kepada masyarakat internasional, yang menyuarakan kekhawatiran terhadap perkembangan teknologi Iran, yang juga digunakan untuk keperluan militer.

Iran membantah bahwa program kedirgantaraannya bertujuan militer, dan menegaskan bahwa program nuklirnya sepenuhnya untuk kepentingan damai, meskipun negara-negara Barat khawatir hal itu hanyalah kedok untuk ambisinya membangun persenjataan nuklir. (*)

Pewarta:
Editor: Bambang
Copyright © ANTARA 2009