Pakar : Belum ada riset disinfektan biasa bisa matikan COVID-19

Pakar : Belum ada riset disinfektan biasa bisa matikan COVID-19

Guru Besar Ilmu Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dra Wega Trisunaryanti MS PhD Eng (ANTARA/HO- Dok pri)

Disinyalir bisa mati dengan campuran alkohol dan hidrogen peroksida
Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Ilmu Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dra Wega Trisunaryanti MS PhD Eng mengatakan belum ada riset yang mengatakan bahwa disinfektan biasa yang disemprotkan pada lingkungan sekitar ampuh dalam membunuh virus corona jenis baru atau COVID-19.

"Selama ini belum ada riset yang mengatakan bahwa penyemprotan disinfektan biasa bisa membunuh COVID-19. Untuk itu butuh riset yang seksama juga untuk memastikan virus ini mati atau tidak," ujar Wega saat dihubungi dari Jakarta, Minggu.

Meski demikian, disinfektan biasa ampuh dalam membunuh bakteri baik bakteri baik maupun bakteri jahat. Dengan catatan, disinfektan yang digunakan yang mengandung alkohol 70 persen.

Bakteri dan virus memiliki perbedaan ukuran, yang ukuran bakteri jauh lebih besar dan dapat dilihat dengan mikroskop cahaya. Sedangkan virus biasanya ukurannya lebih kecil dan membutuhkan mikroskop elektron untuk melihatnya.

Baca juga: LIPI-Danone kerja sama produksi disinfektan bantu cegah COVID-19

Baca juga: Guru besar ingatkan penyemprotan disinfektan bisa matikan bakteri baik

Wega menambahkan untuk membunuh virus COVID-19 sebenarnya bisa dengan disinfektan dengan kandungan alkohol yang lebih tinggi maupun penyanitasi tangan yang sesuai standar WHO dan BPOM.

"Teman saya mempublikasi jurnal di jurnal internasional, tapi bukan yang bereputasi internasional. Dia mengatakan COVID-19 bisa mati dengan campuran alkohol sekitar 80 persen, 1,33 persen hidrogen peroksida, dan air. Itu kandungan yang terdapat pada disinfektan atau penyanitasi tangan sesuai standar BPOM dan WHO. Disinyalir bisa mati dengan campuran alkohol dan hidrogen peroksida," terang dia lagi.

Penelitian mengenai COVID-19, lanjut dia, terutama di jurnal internasional bereputasi belum terlalu banyak karena COVID-19 merupakan pandemi baru di dunia.

Dia juga menyarankan agar penyemprotan disinfektan tidak dilakukan secara berlebihan, karena akan membunuh bakteri baik di alam. Penyemprotan disinfektan, kata dia, lebih kepada aspek psikologis, yakni untuk menenangkan masyarakat pada saat merebaknya pandemi global COVID-19.

Baca juga: KSAD kerahkan armada bantu PMI disinfektan di Jakarta
 

Pewarta: Indriani
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar