(ANTARA News) - Ratusan orang berkerumun, saling berdesakan agar memperoleh tempat terbaik untuk menatap liuk tubuh di atas panggung. Hembusan angin estetika menjadi bahasa pemersatu ratusan pasang mata dalam mengabadikan awal sejarah perhelatan seni tari internasional, tepat di titik nol kilometer kota Manila, Filipina.

Open Air Auditorium di taman Luneta, Manila, menjadi saksi perhelatan seni tari bertajuk "Dance Xchange: 1st Philippine International Dance Workshop and Festival".

Hajat seni internasional ini baru saja lahir dan pertama kali digelar di Filipina. Karena usia yang masih muda itu pula, para penyelenggara dibanjiri gagasan untuk menggelarnya di taman Luneta, titik awal perhitungan segala jenis jarak di Filipina.

Taman Luneta adalah penanda kota Manila. Taman itu adalah ruang publik yang bisa dinikmati oleh masyarakat setempat dengan mudah dan murah. Lokasinya strategis, berada di pesisir barat kota Manila, tepat menghadap laut.

Sebagai awal peradaban masyarakat Manila, kawasan itu kini menjadi semacam kota tua lengkap dengan berbagai penanda peradaban yang yang masih tegak berdiri. Tidak hanya tegak berdiri, tapi juga benar-benar terawat.

Taman Luneta adalah salah satu penanda tersebut. Salah satu tempat berpengaruh di taman itu adalah tugu kilometer nol. Tugu itu menjadi titik awal perhitungan jarak di Filipina. Ribuan kolimeter jarak di negeri itu berawal dari taman Luneta.

Sintesis

"Dance Xchange: 1st Philippine International Dance Workshop and Festival" digelar atas kerjasama Komite Tari Nasional. Komite itu berada di bawah koordinasi Komisi Nasional Seni Budaya Filipina.

Pagelaran tari internasional didedikasikan untuk memperingati Hari Tari Internasional yang jatuh setiap tanggal 29 April. Pagelaran tersebut juga merupakan tindaklanjut dari suskes yang diraih dalam Kongres Tari Internasional pada 2008 silam.

Secara umum, festival tari internasional pertama di Filipina itu bertujuan untuk menyediakan tempat bagi penari, koreografer, guru tari, dan akademisi untuk saling memfasilitasi dan belajar.

Sealin itu, pihak penyelenggara juga berharap forum itu bisa memunculkan berbagai gagasan kreatif tentang tari, menciptakan pemahaman bersama dalam bidang seni tari, dan membina jaringan di antara para penggiat seni tari.

Akram Khan, koreografer sekaligus penggiat pagelaran tari internasional tersebut menyatakan, pagelaran itu laksana sintesis dari berbagai perbedaan dan batasan antar bangsa.

"Hari yang spesial ini ditujukan untuk satu bahasa yang bisa diucapkan oleh semua orang, bahasa yang menjadi satu dengan tubuh dan jiwa kita, dengan leluhur dan anak-anak kita," kata Khan dalam pesan Hari Tari Internasional 2009.

Khan menyatakan, pagelaran itu dipersembahkan untuk para guru dan penggiat seni tari, terutama seni tari tradisi, atas segala daya upaya dalam mengembangkan seni olah tubuh tersebut.

Menurut dia, seni tari tradisi adalah adalah media komunikasi budaya di masa silam, masa kini, dan masa depan.

"Warna dan budaya membawa tradisi dari masa lalu ke dalam cerita masa kini dan impian untuk masa depan," kata Khan.

Rencananya, "Dance Xchange: 1st Philippine International Dance Workshop and Festival" akan diselenggarakan pada 28 April 2009 sampai 1 Mei 2009 di Dumaguete City, Filipina. Namun, untuk menggelorakan semangat lintas budaya, pihak penyelenggara membuat pagelaran serupa di taman Luneta sehari sebelum dibuka secara resmi. Pagelaran itu gratis.

Seni tradisi

Open Air Auditorium di taman Luneta menjadi episentrum letupan gairah seni budaya dalam bentuk olah dan gerak tubuh. Ratusan penari dari berbagai negara turut memeriahkan acara tersebut.

Di depan panggung, ratusan pengunjung berjubel memadati sejumlah tempat duduk terbuat dari batu yang tertata membentuk setengah lingkaran yang semakin meninggi di bagian belakang.

Sorot mata, pancaran antusiasme pengunjung, serta energi gerak tubuh para penari bersintesis menjadi sebuah suguhan seni lintas budaya.

Sejumlah kelompok tari dari berbagai negara saling unjuk kemampuan. Puluhan penari anak yang tergabung dalam PNU Kislap Sining Dance Troupe menghentak di awal pertunjukan, bersamaan dengan tenggelamnya matahari. Kelompok tari asal Filipina itu menyuguhkan konsep tari tradisi Afrika yang sarat dengan gerak cepat tanpa henti.

Berbalut berbagai ornamen khas Afrika dan cat hitam yang melumuri tubuh, para penari cilik itu mampu menguasai panggung seluas hampir 20 meter x 10 meter.

Mereka melompat, berguling, dan berlari serempak dengan tabuhan genderang bertalu-talu. Rumbai-rumbai kain dan bulu unggas warna-warni yang menghiasi tubuh mereka menimbulkan efek gerakan yang semakin menawan.

Decak kagum tak bisa disembunyikan dari sorot mata para penonton. Riuh tepuk tangan dan siulan mengiringi setiap gerakan yang menghentak karya koreografer Larry Gabao itu.

Tari tradisi juga disajikan oleh empat kelompok tari secara berurutan, yaitu Aswara Dancer dari Kuala Lumpur, Malaysia; Persadaku Seni Dancers dari Singapura; Badan Budaya Universiti Sarawak, Malaysia; dan Dance Mode Studio Hong Kong.

Kemudian, berbagai kelompok tari lain juga menyajikan berbagai bentuk seni tradisi. Mereka adalah Senju Dance Company dari Jepang; The Dance Academy dari Kuching, Malaysia; Quezon City Ballet dari Filipina; Hunan Chinese Dance Company dari China; Sri Lankan Dance Troupe; serta Bayanihan, The Philippine National Folkdance.

Dari berbagai eksotisme seni tari tradisi, The Big Dance Company dari Inggris tampil berbeda dengan mengusung tari kontemporer.

Empat penari asal Inggris memasuki panggung dengan mengenakan topeng serta baju terusan berwarna putih. Hentakan kaki dan gerakan kaku keempat penari itu serempak dengan iringan musik masa kini. Musik tersebut dirangkai sedemikian rupa hingga menjadi gabungan musik yang serba "meledak" dan menghentak.

Keberanian untuk tampil beda dan keseragaman dalam gerak kelompok tari asal Inggris itu mengundang gelombang tepuk tangan dari para penonton.

Secara umum, pagelaran itu mampu menghadirkan dan menggabungkan seni tari, baik tradisi maupun kontemporer, dalam satu panggung. Seni tari tradisi memberikan warna tersendiri dalam pementasan tersebut. Tiap negara saling berbagi dan belajar tentang gerak tari tradisi masing-masing.

Tiada yang salah dalam pagelaran itu. Hanya ada satu kekurangan; tidak ada satupun penari dari ratusan atau bahkan ribuan maestro tari dari Indonesia yang tampil dalam pagelaran itu. Negeri yang kaya seni tari tradisi ini tidak unjuk gigi. (*)

Oleh Oleh F.X. Lilik Dwi Mardjianto
Editor: Anton Santoso
Copyright © ANTARA 2009