Srinagar, India (ANTARA News/AFP) - Hampir selusin orang luka di Kashmir India pada Rabu akibat bentrok antara polisi dengan penduduk, yang marah karena kematian seorang pengunjukrasa muda Muslim, kata polisi dan saksi.

Ratusan warga Kashmir turun ke jalan untuk hari kedua di ibukota musim panas Srinagar untuk mengecam kematian Arif Ayub, yang berusia 22 tahun.

Ayub luka parah pada Jumat ketika kepalanya terhantam pecahan gas airmata, yang ditembakkan polisi untuk membubarkan pengunjukrasa penentang India.

Ia meninggal di rumahsakit pada Selasa malam, memicu unjukrasa keras langsung, yang melukai 20 orang.

Pada Rabu, polisi kerusuhan menggunakan gas airmata dan tongkat untuk membubarkan penentang, yang melemparkan batu.

Pada tahun lalu, lembah berpenduduk sebagian besar Muslim di Kashmir itu dilanda unjukrasa terbesar menentang India sejak pemberontakan dimulai pada 1989.

Tiga orang diperkirakan gerilyawan Muslim tewas pada pekan lalu akibat bakutembak dengan pasukan India di dekat perbatasan, yang memisahkan Kashmir India dengan Kashmir Pakistan, kata tentara.

Bakutembak itu terjadi di bagian Tangdhar di dekat Garis Kendali," kata jurubicara tentara India Uma Maheshwar.

Ia menyatakan gerilyawan itu tewas ketika berusaha melintasi daerah dijaga ketat tentara tersebut.

"Operasi masih dilakukan di daerah itu," kata jurubicara tersebut.

Bentrok senjata dengan gerilyawan mereda setelah India dan Pakistan mulai melakukan perundingan perdamaian pada 2004, tapi dalam beberapa bulan terkini meningkat dalam usaha penyusupan, kata tentara India.

Pakistan membantah tuduhan India mempersenjatai dan mendanai gerilyawan, yang melancarkan pemberontakan terhadap India di Kashmir sejak 1989.

Kashmir India pada awal Mei melakukan pemungutan suara di bawah keamanan ketat, di tengah pemogokan kelompok pejuang dan imbauan pemboikotan dari garis keras.

Ribuan polisi dan pasukan pemerintah pusat dikerahkan di Srinagar, tempat ke-1.400 tempat pemungutan suara dinyatakan "sangat rawan" oleh petugas pemilihan umum.

Pemogokan dua hari oleh kelompok pejuang untuk mendukung imbauan mereka bagi pemboikotan pemilihan umum itu melumpuhkan kota tersebut untuk hari kedua.

Tokoh pejuang kemerdekaan, yang menyatakan ikut dalam pemilihan umum itu berarti mensahkan kekuasaan India, dikenai tahanan rumah.

Kelompok garis keras Lashkar-e-Taiba (LeT), yang berpangkalan di Pakistan, ikut menyeru pemboikotan itu.

"Rakyat harus menggagalkan rencana India itu dengan memboikot pemungutan suara," kata jurubicara Lashkar Abdullah Gaznavi, dengan menambahkan bahwa perjuangan bagi kemerdekaan akan berhasil dan India akan mundur dari Kashmir.

Kelompok itu dituduh India terlibat dalam serangan di Mumbai, India, pada tahun lalu, yang menewaskan 166 orang dan lebih 300 lagi cedera.

Lima orang tewas dan tujuh lagi cedera akibat ledakan bom di Kashmir India pada akhir April, saat wilayah itu menyiapkan pemungutan suara tahap kedua dalam pemilihan umum, kata polisi.

Serangan itu terjadi di daerah selatan Poonch di dekat satu pikep, yang membawa warga dan anggota panitia pertahanan desa (VDC), kata jurubicara polisi.

"Lima polisi, termasuk tiga anggota VDC, tewas akibat ledakan itu dan tujuh lagi luka parah," kata jurubicara polisi tersebut.

Panitia semacam itu dibentuk pada pertengahan 1990-an oleh pemerintah untuk melindungi daerah sekitar dan menutup desa dari serangan gerilyawan.
(*)

Pewarta:
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2009