Jayapura (ANTARA News) - Sisi afektif sebagai salah satu materi yang tercantum dalam kurikulum baru atau kurikulum 2006 masih mendominasi penilaian para guru terhadap evaluasi belajar siswa di Papua.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, SMA Negeri 2 Jayapura, Basuki Rahmat,S.Pd di Jayapura, Kamis, mengatakan penilaian afektif yaitu berkaitan dengan sikap dan tingkah laku siswa di lingkungan sekolah menjadi penilaian yang lebih diperhatikan dibandingkan sisi kognitif atau pemahaman ilmu pengetahuan dan penilaian motorik.

"Seharusnya untuk menilai tingkat kemajuan siswa, penilaian kognitif, motorik dan afektif mestinya tidak dipisahkan satu sama lain, namun jika penilaian ideal tersebut diterapkan di Papua, hal tersebut belum sejalan dengan kondisi yang dihadapi di sini," ujarnya.

Fasilitas belajar serta kualitas dan kuantitas para pengajar yang masih minimal belum dapat menciptakan suasana dan budaya kompetitif di kalangan siswa untuk memacu dirinya dalam meraih prestasi belajar secara lebih optimal.

Sehingga siswa yang memperlihatkan keseriusan dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan hadir tepat waktu di sekolah dan di setiap jam pelajaran merupakan hal yang cukup signifikan untuk menjadi penilaian tersendiri bagi para guru.

Selain itu, tidak membuat pelanggaran atau keributan juga menjadi hal yang dapat dibanggakan dari para siswa.

Namun demikian, untuk memenuhi materi penilaian lainnya sesuai dengan target pendidikan, kemampuan kognitif dan motorik juga tetap diperhatikan dan senantiasa ditingkatkan.

Menurut Basuki, untuk mendongkrak kemampuan kognitif dan motorik siswa, para guru harus menerapkan metode belajar yang lebih kreatif dan inovatif sehingga belajar menjadi hal yang menyenangkan bagi siswa.

Di lain pihak, guru juga harus telaten membimbing anak didik dalam menekuni pelajaran. Bila perlu melakukan pengulangan atau remedial untuk meningkatkan hasil evaluasi belajar siswa pada mata pelajaran tertentu yang masih kurang.

Dengan demikian, target pendidikan untuk cerdas ilmu pengetahuan dan memiliki keahlian serta berbudi pekerti bagi siswa dapat terwujud secara simultan.(*)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2009