Abuja (ANTARA News/Reuters) - Presiden Nigeria Umaru Yar`Adua mengatakan, Kamis, ia akan mengumumkan sebuah program amnesti bagi orang-orang bersenjata di Delta Niger dalam waktu dua pekan, kebijakan yang dianggap sebagai langkah penting untuk menciptakan stabilitas di kawasan industri gas dan minyak terbesar Afrika itu.

"Saya mendesak semua militan di kawasan itu memanfaatkan tawaran ini, dan meletakkan senjata mereka serta menghentikan segala aksi ketidakpatuhan pada hukum dan ketertiban," kata Yar`Adua setelah menerima laporan mengenai masalah amnesti itu dari Menteri Dalam Negeri Godwin Abbe.

Gerakan bagi Emansipasi Delta Niger (MEND), yang bertanggung jawab atas serangan-serangan yang telah membuat produksi minyak negara anggota OPEC itu berkurang hingga seperlima dalam tiga tahun, mengatakan pekan lalu, mereka hanya akan mempertimbangkan amnesti yang diatur dengan baik antara kedua pihak. Namun, MEND tidak memainkan peran dalam perancangan program amnesti yang akan ditawarkan itu.

MEND juga enggan meletakkan senjata setelah militer melancarkan ofensif terbesar di kawasan itu dalam beberapa tahun ini pada bulan lalu, dengan membom kamp-kamp militan dari udara dan laut dan mengirim tiga batalyon pasukan untuk memburu pemberontak.

Kelompok itu mendeklarasikan perang habis-habisan terhadap militer dan membom sebuah pipa minyak Chevron (CVX.N) pekan lalu yang menghentikan produksi 100.000 barel per hari. Namun, pertempuran antara kedua pihak mereda dalam sepekan ini.

Sebuah komite federal yang menangani perancangan program amnesti itu menyampaikan laporan akhir kepada Yar`Adua pada Kamis pagi.

"Dalam waktu dua pekan mendatang, pemerintah akan mengumumkan kebijakan mengenai kondisi dan mekanisme pasti bagi tawaran amnesti ini," kata Yar`Adua.

Presiden Nigeria itu membentuk komite federal tersebut sebulan lalu, tak lama setelah mengumumkan ia siap memberikan amnesti kepada gerilyawan Delta Niger jika mereka setuju meletakkan senjata.

Kelompok MEND mengakhiri gencatan senjata pada 31 Januari setelah serangan militer terhadap salah satu kamp mereka di Delta Niger, dan memperingatkan mengenai serangan besar-besaran terhadap industri minyak.

MEND mengumumkan gencatan senjata pada September namun berulang kali mengancam akan memulai lagi serangan jika "diprovokasi" oleh militer Nigeria.

Kekerasan melanda negara Afrika tersebut dalam beberapa tahun terakhir ini.

Keadaan tidak aman di Delta Niger, daerah penghasil minyak Nigeria, telah membuat produksi minyak Nigeria berkurang hingga seperlima sejak awal 2006.

Keamanan di Delta Niger memburuk secara dramatis pada awal 2006 ketika militan, yang menyatakan berjuang untuk mencapai kendali lokal lebih besar atas kekayaan minyak di wilayah yang berpenduduk miskin itu, mulai meledakkan pipa-pipa minyak dan menculik pekerja asing.

Kelompok gerilya MEND pada 14 Januari mengancam akan mengakhiri gencatan senjata dengan menyerang militer setelah seorang pemimpin geng tewas dibunuh oleh pasukan sehari sebelumnya.

MEND mengumumkan gencatan senjata pada 21 September tahun lalu setelah serangan-serangan sepekan terhadap fasilitas industri minyak setelah peluncuran "perang minyak" yang dimaksudkan untuk membalas serangan militer terhadap posisi-posisi mereka.

Geng-geng kriminal juga memanfaatkan keadaan kacau dalam penegakan hukum dan ketertiban di wilayah itu. Lebih dari 200 warga asing diculik di kawasan delta tersebut dalam dua tahun terakhir. Hampir semuanya dari orang-orang itu dibebaskan tanpa cedera.

Nigeria adalah produsen minyak terbesar Afrika namun posisi tersebut kemudian digantikan oleh Angola pada April tahun lalu, menurut Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC).(*)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2009