Cilegon (ANTARA News) - Dua kwintal daging babi hutan (celeng) asal Lahat, Sumatera Selatan, disita polisi dan petugas Balai Karantina Pertanian Kelas II cilegon, Banten dari bagasi bus ALS dengan nomor kendaraan BK 7336 DH di Pelabuhan Penyeberangan Merak,Cilegon, Banten.

"Saat melakukan pemeriksaan anggota mencurigai beberapa paket besar yang di bungkus karung di dalam bagasi bus ALS dari Medan," kata Kapolres Cilegon Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Dwi Gunawan usai kegiatan razia, di Pelabuhan Penyeberangan Merak, Kamis (4/6) malam.

Dwi mengatakan, saat dilakukan pemeriksaan bersama petugas Balai Karantina Pertanian Kelas II Merak, ternyata paket besar itu berisi potongan daging celeng yang masih segar dengan berat mencapai 200 kilogram. Paket itu juga tidak dilengkapi dengan dokumen yang sah sesuai aturan mengenai peredaran dan pengangkutan ternak maupun hasil olahannya.

"Ini merupakan pola baru yang digunakan untuk para pemasok maupun pedagang daging celeng yang akan menjualnya di daerah Jakarta dan sekitarnya," katanya.

Ditegaskan Dwi, untuk mengatisipasi masuknya daging celeng dari wilayah Pulau Sumatera ke Jawa, pihak kepolisian bersama Balai Karantina Pertanian Kelas II Cilegon, akan terus meningkatkan pemeriksaan di Pelabuhan Penyeberangan Merak.

Dari tujuan yang tertera, paket tersebut di tujukan untuk Diana Ginting yang beralamat di sekitar Tangerang.

Informasi dari Kepolisian Pelaksana Pengamanan Pelabuhan (KPPP) Merak, dalam penyitaan daging celeng beberapa waktu lalu, nama tersebut tercatat juga sebagai penerima barang.

Pada hari yang sama, pihak Balai Karantina Pertanian Kelas II Cilegon memusnahkan setengah ton daging celeng yang tidak dilengkapi dokumen yang sah.

Bulan Januari sampai awal Juni 2009, tercatat tiga kasus upaya memasukan daging celeng melalui Pelabuhan Penyeberangan Merak.

Penyitaan terbesar terjadi beberapa waktu lau, dimana petugas gabungan berhasil menyita sebanyak dua ton daging celeng dari Sumatera yang akan di kirim ke Jakarta menggunakan kendaraan bak terbuka.(*)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2009