Poso (ANTARA News) - Seorang bayi perempuan di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, dilaporkan meninggal dunia beberapa hari setelah mendapatkan imunisasi dari sebuah Puskesmas setempat.

Kesia Salarupa yang baru berusia dua tahun, meninggal dunia 23 Juni 2009 atau 13 hari setelah diberikan vaksin Hepatitis B di Puskesmas Mapane, pinggiran selatan kota Poso.

Diana Dapea (34), ibu sang bayi, kepada wartawan di Poso, Kamis, menceritakan ketika membawa ke Puskesmas Mapane untuk menjalani imunisasi pada 10 Juni lalu, kondisi fisik anaknya itu masih sehat.

"Kami sekeluarga mencurigai ada sesuatu yang tidak beres dalam proses imunisasi, sehingga kondisi kesehatan Kesia terus memburuk sebelum akhirnya meninggal dunia 13 hari kemudian," tuturnya.

Diana menjelaskan, sehari setelah mendapatkan imunisasi yang diberikan oleh seorang petugas medis, suhu tubuh Kesia mengalami panas tinggi dan tidak turun-turun sampai ajal menjemput.

Selain itu, katanya, kedua kaki balita malang ini membengkak serta warna kulit tubuhnya berubah menjadi kekuning-kuningan.

"Kami sangat kehilangan dia, padahal anak itu sebelum di bawa ke Puskesmas begitu lincah dan menjadi hiburan orang se isi rumah," tuturnya dengan nada sedih.

Kepala Puskesmas Mapane, drg. Piping Alifah, yang dikonfirmasi secara terpisah, membantah dugaan telah terjadi tindakan "malpraktik" yang dilakukan petugas medis setempat terhadap balita Kesia Salarupa.

"Tidak ada prosedur (tindakan medis) yang dilanggar," katanya.

Menurut dokter Piping, kemungkinkan munculnya efek samping setelah pemberian imunisasi kepada Kesia, karena vaksin Hepatitis yang diberikan sudah rusak akibat lemari pendingin yang menjadi tempat penyimpanannya tidak berfungsi dengan baik.

"Bisa jadi demikian, sebab dalam beberapa pekan terakhir ini PLN seringkali melakukan pemadaman aliran listrik secara bergilir di wilayah Kabupaten Poso, termasuk di Mapane," ujarnya.

Tapi, lanjut dokter Piping, untuk membuktikan apakah vaksin untuk imunisasi yang ada di Puskesmas Mapane masih layak digunakan atau tidak, itu masih memerlukan pengujian laboratorium yang hanya bisa dilakukan di rumah sakit atau tempat-tempat lain di perkotaan.

Bukan alasan

Sementara itu, Direktur Lembaga Penguatan Masyarakat Sipil (LPMS) Poso, Budiman Maliki, mengatakan seharusnya pihak Puskesmas Mapane tidak menjadikan alasan kalau pemadaman listrik bergilir yang dilakukan oleh PLN sebagai penyebab meninggalnya Kesia, anak dari pasangan Berles Salarupa dan Diana Dapea.

Yang perlu diklarifikasi Kepala Puskesmas dan Dinas Kesehatan, lanjut dia, yaitu apakah pelayanan medik yang diberikan oleh Puskesmas Mapane serta Puskesmas lain yang ada di Kabupaten Poso selama ini, telah sesuai dengan standar pelayanan minimal.

"Ini yang sangat penting, agar ada jaminan kenyamanan bagi masyarakat luas ketika berobat," tuturnya.

Mengenai kasus kematian Kesia, Budiman Maliki mendorong perlunya dibentuk tim investigasi yang melibatkan Ikatan Dokter Indonesia, analis kimia, serta dari unsur lembaga swadaya masyarakat.

"Tim investigasi ini sangat diperlukan, guna mengetahui penyebab kematian pasien, sekaligus mengakhiri kecurigaan yang berkembang di tengah masyarakat Poso saat ini," katanya.(*)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2009