Kemendikbud: Konten pendidikan harus selaras dengan kearifan lokal

Kemendikbud: Konten pendidikan harus selaras dengan kearifan lokal

Tampilan media sains Akademi Edukreator di internet yang diakses melalui telepon pintar. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)

harus mengakomodasi kearifan lokal sebagai khazanah kekayaan bangsa kita
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI mengatakan konten pendidikan yang ingin dihasilkan oleh berbagai pihak terutama Akademi Edukreator guna menunjang sektor ilmu pengetahuan di Tanah Air harus selaras dan memerhatikan kearifan lokal.

"Kami punya etika, norma atau keindonesiaan yaitu kearifan lokal yang tidak bisa kita lepaskan terutama dalam pembuatan konten pendidikan," kata Plt Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi Kemendikbud M Hasan Chabibie melalui konferensi video di Jakarta, Selasa.

Ia mengatakan konten yang ingin dihasilkan oleh Akademi Edukreator harus bisa mengadopsi atau selaras dengan kearifan lokal sehingga memiliki kualitas baik bagi anak didik dalam proses pembelajaran.

"Jadi di samping teknis kualitas konten juga harus mengakomodasi kearifan lokal sebagai khazanah kekayaan bangsa kita," katanya.

Dalam upaya mendukung peluncuran Akademi Edukreator sebagai salah satu media penyedia konten edukasi di Tanah Air, Kemendikbud akan mendukung dari sisi pengajar atau sumber daya manusia.

Baca juga: Literacy Cloud temani pembelajaran di rumah agar menyenangkan

Baca juga: Tips belajar di rumah pakai Google Earth


Selain itu, kata Hasan, Kemendikbud juga akan mendukung Akademi Edukreator dalam hal kurasi dan kualitas konten yang dihasilkan tersebut.

Untuk menghasilkan sebuah konten pendidikan, ujar dia, memiliki tantangan tersendiri terutama menghubungkannya dengan substansi materi sehingga mudah dicerna oleh anak didik. Selain itu, jangan sampai konten yang dihasilkan terlalu banyak hiburan namun minim substansi materi.

Secara global rata-rata penayangan harian video dengan kata kunci "homeschool" dalam judul di YouTube meningkat lebih dari 120 persen sejak 13 Maret 2020 bila dibandingkan penayangan harian rata-rata hingga sisa akhir tahun.

Sementara itu, Co-founder Kok Bisa media sains dan edukasi yang memperkenalkan Akademi Edukreator Ketut Yoga Yudistira berharap gerakan tersebut dapat menginspirasi, melatih dan mengapresiasi para kreator, guru termasuk profesional untuk mempelajari cara terbaik membagikan ilmu dengan membuat konten video edukasi.

Ia menyakini dengan kemampuan menjadi kreator konten edukasi maka akan semakin banyak ilmu yang dapat dipelajari, disebarkan dan diakses di internet serta memerdekakan pelajar dan membantu merevolusi proses belajar secara dalam jaringan.

Baca juga: Selama pandemi COVID-19, Kemendikbud akui konten pendidikan terbatas

Pewarta: Muhammad Zulfikar
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Masyarakat Kampung Bano menjaga hutan Papua

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar