Beijing (ANTARA News) - Jumlah kematian akibat kekerasan di Urumqi, ibukota wilayah Xinjiang, China, meningkat menjadi 184, kata kantor berita resmi Xinhua, Sabtu.

"Diantara mereka yang tewas, 137 adalah orang Han, yang mencakup 111 pria dan 26 wanita. Empatpuluh-enam korban adalah warga Uighur, yang terdiri dari 45 pria dan satu wanita. Seorang pria Hui juga tewas," kata kantor berita itu mengutip pemerintah daerah setempat.

China sebelumnya menyatakan jumlah korban tewas 156 dan lebih dari 1.000 lain cedera ketika muslim Uighur melakukan protes yang berbuntut kekacauan pada Minggu di wilayah barat yang bergolak itu.

Jumat, ribuan orang berusaha meninggalkan Urumqi setelah kerusuhan etnik mematikan itu dan banyak masjid ditutup sehingga umat Islam tidak bisa melakukan sholat Jumat.

Pihak berwenang menyatakan menyediakan pelayanan bis tambahan untuk perjalanan keluar dari Urumqi, namun permintaan karcis telah melampaui jumlah tempat duduk yang ada. Makelar mengatakan kepada AFP bahwa mereka menjual karcis dengan harga lima kali lipat dari ongkos biasanya.

"Terlalu berisiko tinggal di sini. Kami takut akan kekerasan," kata Xu Qiugen, pekerja bangunan berusia 23 tahun asal China tengah yang lima tahun tinggal di Urumqi dan telah membeli karcis untuk pergi bersama istrinya.

"Pemerintah mengatakan tidak akan ada sholat Jumat," kata seorang pria Uighur bernama Tursun di luar masjid Hantagri, salah satu masjid tertua di kota itu, sementara 100 polisi yang membawa senapan mesin dan pentungan bersiaga.

Kekerasan yang dialami orang Uighur itu telah menimbulkan gelombang pawai protes Jumat di berbagai kota dunia seperti Ankara, Berlin, Canberra dan Istanbul.

Orang Uighur berbicara bahasa Turki dan Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan adalah yang paling keras melontarkan kecaman dan menyebut apa yang terjadi di Xinjiang sebagai "semacam pembantaian".

Bersama-sama Tibet, Xinjiang merupakan salah satu kawasan paling rawan politik dan di kedua wilayah itu, pemerintah China berusaha mengendalikan kehidupan beragama dan kebudayaan sambil menjanjikan petumbuhan ekonomi dan kemakmuran.

Namun, penduduk minoritas telah lama mengeluhkan bahwa orang China Han mengeruk sebagian besar keuntungan dari subsidi pemerintah, sambil membuat warga setempat merasa seperti orang luar di negeri mereka sendiri.

Beijing mengatakan bahwa kerusuhan itu, yang paling buruk di kawasan tersebut dalam beberapa tahun ini, merupakan pekerjaan dari kelompok-kelompok separatis di luar negeri, yang ingin menciptakan wilayah merdeka bagi minoritas muslim Uighur.

Kelompok-kelompok itu membantah mengatur kekerasan tersebut dan mengatakan, kerusuhan itu merupakan hasil dari amarah yang menumpuk terhadap kebijakan pemerintah dan dominasi ekonomi China Han. (*)

Pewarta:
Editor: Bambang
Copyright © ANTARA 2009