Solo (ANTARA News) - Kesulitan dalam mendapatkan generasi penerus menjadi permasalahan yang dihadapi kalangan musik keroncong dalam upaya melestarikan kesenian tersebut.

"Kesulitan dalam regenerasi tersebut menghambat upaya kami dalam melestarikan kesenian musik keroncong," kata Ketua Dewan Perwakilan Pusat (DPP) Himpunan Artis Musik Keroncong Indonesia (Hamkri), Iwan Kresna, di Solo, Sabtu.

Dia mengatakan, kalangan anak muda sekarang ini lebih tertarik pada musik-musik aliran lain.

"Hal tersebut menjadi tantangan kami untuk menarik minat kalangan anak muda agar dapat ikut serta dalam melestarikan musik keroncong ini," katanya dalam pelantikan pengurus Dewan Perwakilan Cabang (DPC) Hamkri Surakarta di rumah dinas Wali Kota Solo.

Selain itu, menurutnya, pelestarian musik keroncong juga bisa dilakukan pada anak-anak melalui memasukkan kesenian tersebut dalam materi pembelajaran di sekolah.

"Namun, hal tersebut rupanya belum bisa diterapkan karena belum ada ketertarikan dari pihak sekolah untuk memasukkan ke dalam materi pembelajaran. Peran kalangan musik keroncong diharapkan dapat mendorong minat sekolah tersebut," katanya.

Mengenai upaya DPP Hamkri dalam beberapa waktu ke depan, dia mengatakan, langkah pertama yang dilakukan pihaknya adalah mendapatkan pengakuan secara nasional mengenai musik keroncong sebagai warisan budaya nasional.

"Hal tersebut tidak mudah karena masyarakat sekarang lebih menyukai jenis musik lain. Selain itu, kondisi tersebut juga terjadi pada produser rekaman," katanya.

Dia mengatakan, dalam kondisi tersebut diperlukan upaya mengemas secara lebih baik pada musik keroncong ini.

Peran serta pemerintah dalam melestarikan kesenian ini, lanjutnya, juga tidak bisa dikatakan sedikit.

"Yang terpenting sekarang ini adalah kalangan musik keroncong dapat menginformasikan kepada semua kalangan bahwa kesenian ini layak untuk dilestarikan sebagai warisan budaya nasional," katanya.

Jika pengakuan secara nasional tersebut berhasil dicapai, Iwan Kresna mengatakan, pihaknya akan mendaftarkan kesenian musik keroncong ini ke United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco) sebagai warisan budaya asli Indonesia.

Sementara itu, seorang seniman musik keroncong, Waldjinah mengatakan, dia tidak mempermasalahkan modifikasi pada musik keroncong, seperti adanya aliran keroncong pop, keroncong rock dan keroncong dangdut.

"Modifikasi tersebut berperan dalam melestarikan kesenian musik keroncong ini. Hal tersebut juga dilakukan untuk membuat musik keroncong ini lebih menjual di masyarakat," katanya.

Mengenai rencana memasukkan musik keroncong sebagai materi pembelajaran di sekolah, menurutnya, hal tersebut efektif untuk melstarikan kesenian ini.

"Hal tersebut dibuktikan di Yogyakarta yang terlebih dulu melakukan upaya tersebut. Musik keroncong di Solo kurang maju dibanding Yogyakarta karena belum menjadikan musik keroncong sebagai salah satu materi di sekolah," kata Waldjinah. ***5***

Pewarta:
Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2009