Empat kebutuhan pokok justru turun saat Ramadhan di Sumsel

Empat kebutuhan pokok justru turun saat Ramadhan di Sumsel

Pedagang ayam potong di Pasar Perumnas Palembang. ANTARA/Dolly Rosana

Terjadi anomali, biasanya saat Ramadhan justru naik, tapi ini justru turun. Penyebabnya, karena sebagian besar sedang panen dan pemberlakuan pembatasan sosial di masyarakat
Palembang (ANTARA) - Empat kebutuhan pokok di Sumatera Selatan justru mengalami penurunan harga saat Ramadhan karena dipengaruhi penyebaran virus corona (COVID-19).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan Hari Widodo di Palembang, Sabtu, mengatakan, empat kebutuhan pokok itu yakni cabai merah, daging ayam ras, telur ayam ras dan beras.

“Terjadi anomali, biasanya saat Ramadhan justru naik, tapi ini justru turun. Penyebabnya, karena sebagian besar sedang panen dan pemberlakuan pembatasan sosial di masyarakat,” kata Hari.

Ia mengatakan anjloknya harga ayam ras sangat berpengaruh pada pergerakan inflasi di Sumsel. Dampaknya, pada April 2020, Sumsel mengalami deflasi 0,15 persen, selain dipicu juga penurunan harga cabai merah dan tarif angkutan udara.

Padahal pada Januari, Februari hingga Maret 2020 mencatatkan inflasi yakni masing-masing 0,60 persen, 0,27 persen dan 0,04 persen.

Akan tetapi, ada juga sejumlah kebutuhan pokok yang tetap bertahan di harga tinggi atau malah naik selama Ramadhan ini, seperti gula pasir di kisaran Rp17.000-Rp18.000/Kg. Selain itu, ada juga bawang merah, jeruk, anggur, dan emas perhiasan.

“Khusus emas, harganya naik karena dipicu dengan kenaikan harga emas dunia,” kata dia.

Di tengah pandemi COVID-19 ini, Hari menambahkan, Bank Indonesia sebagai Koordinator Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) menekankan pentingnya pengendalian harga-harga kebutuhan pokok ini.

BI mengingatkan ke pemerintahan di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota berupaya mengendalikan inflasi dengan menjaga ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi dan berkomunikasi efektif dengan masyarakat, salah satunya imbauan agar tidak ‘panic buying’.

Walau sejauh ini, inflasi Sumsel masih terkendali yakni 2,48 persen (year to year) atau lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 2,67 persen, tapi ancaman terhadap kestabilan ekonomi akan semakin menguat pada bulan-bulan mendatang jika pandemi ini belum berakhir.

“Sumsel itu base ekonominya pada komoditas ekspor, selain itu 65 persen ekonominya ditopang oleh konsumsi rumaht tangga. Di tengah krisis seperti ini, tak ada cara lain selain mengoptimalkan bantuan sosial, untuk itu pemkab/pemkot harus memastikan bantuan tersebut tepat sasaran,” kata dia.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Sumsel terkoreksi dari 5,69 pada triwulan IV 2019 menjadi 4,98 persen pada triwulan I 2020 karena dipengaruhi penyebaran virus corona. BI memperkirakan pada triwulan II 2020 akan turun lagi hingga berada di kisaran 3,4 persen.

Berdasarkan pantauan ANTARA di sejumlah pasar tradisional Sabtu (9/5), harga telur ayam ras Rp18.000/kg atau turun dari biasanya Rp21.000/kg, ayam ras Rp28.000/kg atau bergerak naik karena sebelumnya sempat anjlok Rp20.000/kg, dan cabai merah bergerak turun dari Rp30.000/kg menjadi Rp25.000/kg.


Baca juga: BI: layanan mobil kas keliling ditiadakan

Baca juga: Gugus Tugas Sumsel ingatkan zona hijau COVID-19 tidak lengah


 

Pewarta: Dolly Rosana
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Bulog Ternate pastikan stok beras dan gula aman

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar