Denpasar (ANTARA News) - LSM lingkungan, Walhi, menyatakan bahwa konflik pemekaran Desa Pekraman Tamblingan, Kabupaten Buleleng, Bali, yang berujung kerusuhan terjadi karena akumulasi kekecewaan warga atas ketidakcermatan keputusan Majelis Utama Desa Pekraman (MUDP).

Kerusuhan yang diwarnai perusakan dan pembakaran rumah warga, mobil, dan lainnya itu terkait masalah investasi bisnis pariwisata di Pekraman, kata Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Bali, Agung Wardana, di Denpasar, Rabu.

Kerusuhan yang diikuti pengrusakan, pembakaran rumah warga dan kendaraan bermotor di Pekraman meletus hari ini.

Walhi Bali melihat konflik yang terjadi dalam aspek yang lebih luas tidak hanya permasalahan pemekaran desa adat belaka. Konflik itu terjadi berkaitan erat dengan tren investasi yang sedang mengarah ke kawasan hulu Bali.

"Dalam mengeluarkan SK, MUDP tidak mempertimbangkan aspek yang lebih luas, yakni tren investasi pariwisata yang sedang mengarah ke kawasan hulu. Pemekaran desa adat bertujuan membentuk kepengurusan desa adat yang mau mengikuti kehendak investor," ungkap Agung Wardana.

Selama ini, katanya, Catur Desa Adat Dalem Tamblingan yang melingkupi kawasan Hutan Dasong Danau Buyan dan Danau Tamblingan, dikenal tidak mau dikendalikan oleh investor. Catur Desa bersama Walhi Bali belum lama ini menolak investasi PT Nusa Bali Abadi dan PT Anantara.

Sikap kritis dari Catur Desa (tingkatan perangkat desa), telah menyulitkan investasi untuk masuk di kawasan tersebut. Sehingga investasi membutuhkan jalur cepat agar terwujud dan bisa mengeruk keuntungan pariwisata alam di hutan dan danau yang paling alami di Bali yang berada di daerah itu.

"Saya khawatir ada sebuah skenario divide et impera agar investor lebih mudah masuk dan menguasai kawasan Tamblingan. Jadi sebenarnya masyarakat di kedua belah pihak adalah sama-sama korban dari rakusnya investasi," tegas Agung.

Ia mengingatkan agar konflik tersebut segara diselesaikan dengan cepat sebelum meluas menjadi lebih parah dan kompleks. "Kami juga berharap konflik yang terjadi jangan sampai menggusur penghidupan masyarakat, khususnya nelayan Danau Tamblingan," pintanya.
(*)

Pewarta:
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2009