Kandahar (ANTARA News/Reuters) - Pasukan NATO dan AS menyatakan melancarkan serangan udara di Afghanistan selatan namun membantah tuduhan penduduk desa pada Rabu bahwa empat orang yang tewas dalam serangan itu adalah warga sipil yang sedang tertidur.

Penduduk desa yang marah membawa mayat mereka ke ibukota provinsi Kandahar, yang merupakan pusat kegiatan gerilyawan, untuk menunjukkan korban-korban tewas itu kepada para pejabat. Insiden itu bisa menyulut ketidakstabilan dua pekan sebelum pemilihan presiden Afghanistan.

Orang-orang desa mengidentifikasi korban-korban tewas itu sebagai warga sipil -- tiga anak laki-laki dan seorang pria dari satu keluarga yang tewas pada Selasa malam.

"Mereka orang sipil yang tewas dalam serangan udara ketika sedang tertidur lelap," kata Jan Mohammad, seorang sesepuh desa dan salah satu kelompok yang membawa mayat mereka ke Kandahar.

Berita mengenai serangan itu tersiar ketika pemimpin baru NATO Anders Fogh Rasmussen tiba di Afghanistan untuk berunding dengan para pemimpin politik dan militer.

"Saya memastikan kepada anda bahwa kami akan melakukan segala sesuatu yang bisa kami lakukan untuk mengurangi jumlah kematian sipil," kata Rasmussen pada jumpa pers bersama Presiden Afghanistan Hamid Karzai.

"Kami tidak bisa menerima kematian orang yang tidak berdosa," katanya.

Pasukan ISAF pimpinan NATO mengatakan sebelumnya, mereka mengidentifikasi empat gerilyawan di Arghandab yang "membawa senjata dan wadah plastik dan diketahui mungkin sedang memasang bahan peledak improvisasi".

Mereka mengatakan dalam sebuah pernyataan, pasukan NATO menyerang gerilyawan itu dan "ledakan kedua teramati di titik serangan yang menunjukkan bahwa bahan peledak dimiliki oleh kelompok gerilyawan itu". Penyelidikan mengenai hal itu sedang dilakukan.

Serangan itu merupakan bagian dari kekerasan yang berkobar menjelang pemilihan presiden 20 Agustus, dimana Taliban telah berjanji akan mengacaukannya.

Pasukan Afghanistan dan internasional meningkatkan operasi terhadap sarang-sarang gerilyawan menjelang pemilihan presiden Afghanistan yang baru dua kali dilaksanakan itu.

Serangan-serangan Taliban meningkat dan puncak kekerasan terjadi hanya beberapa pekan menjelang pemilu Agustus.

Terdapat sekitar 100.000 prajurit internasional, terutama dari AS, Inggris dan Kanada, yang ditempatkan di Afghanistan untuk membantu pemerintah Presiden Hamid Karzai mengatasi pemberontakan yang dikobarkan sisa-sisa Taliban.

Taliban, yang memerintah Afghanistan sejak 1996, mengobarkan pemberontakan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh invasi pimpinan AS pada 2001 karena menolak menyerahkan pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan di wilayah Amerika yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11 September 2001.

Gerilyawan Taliban sangat bergantung pada penggunaan bom pinggir jalan dan serangan bunuh diri untuk melawan pemerintah Afghanistan dan pasukan asing yang ditempatkan di negara tersebut.

Dalam salah satu serangan paling berani, gerilyawan tersebut menggunakan penyerang-penyerang bom bunuh diri untuk menjebol penjara Kandahar pada pertengahan Juni tahun lalu, membuat lebih dari 1.000 tahanan yang separuh di antaranya militan berhasil kabur.

Bom rakitan yang dikenal sebagai IED (peledak improvisasi) mengakibatkan 70-80 persen korban di pihak pasukan asing di Afghanistan, menurut militer.

Antara 8.000 dan 10.000 prajurit internasional akan bergabung dengan pasukan militer pimpinan NATO yang mencakup sekitar 60.000 personel di Afghanistan untuk mengamankan pemilihan presiden Afghanistan pada 20 Agustus, kata aliansi itu.

Pemilu yang akan menetapkan presiden dan dewan provinsi itu dipandang sebagai ujian bagi upaya internasional untuk membantu menciptakan demokrasi di Afghanistan, namun pemungutan suara tersebut dilakukan ketika kekerasan yang dipimpin Taliban mencapai tingkat tertinggi.(*)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2009