Perayaan Hari Internasional Al-Quds masif bermakna bagi Palestina

Perayaan Hari Internasional Al-Quds masif bermakna bagi Palestina

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (tengah) bersama Menteri Luar Negeri Palestina Riyad al-Malki (tengah kiri) berjalan bersama dalam kegiatan "Walk for Peace and Humanity" . ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/ama

Bekasi (ANTARA) - Perayaan Hari Internasional Al-Quds secara masif dan inovatif sangatlah bermakna bagi masyarakat Palestina yang tertindas.

Karena Hari Internasional Al-Quds adalah refleksi dan peran dunia Islam dalam upaya pembebasan Palestina secara nyata, demikian menurut pernyataan tertulis dari Kedutaan Besar Iran di Jakarta, Rabu.

Pada saat berbagai perkembangan di dunia antara lain isu terorisme, krisis ekonomi, pandemi COVID-19 dan lain-lain, telah mengalihkan perhatian komunitas internasional dari isu Palestina dan menguntungkan Zionisme global dan Israel.

Hari Internasional Al-Quds adalah momentum komunitas dunia untuk mengutuk tindakan ilegal memindahkan kedutaan besar Amerika ke Al-Quds dan mengakuinya sebagai ibukota rezim Zionis seraya menuntut pembebasan Al-Quds dan mendukung rakyat tertindas Palestina tetap menjadi prioritas pertama dunia Islam serta mengecam setiap aksi yang ingin mengesampingkan prioritas ini dan upaya mengalihkan pikiran umat Islam.

Baca juga: Solidaritas Muslim Indonesia dan Rusia untuk Palestina
Baca juga: Ratusan umat muslim aksi solidaritas Palestina peringati Hari Al-Quds


Hari Internasional Al-Quds tahun ini pun begitu penting dikarenakan AS bersama dengan rezim zionis Israel memaksakan kehendak keji mereka kepada masyarakat Palestina melalui Kesepakatan Abad alias Konspirasi Abad.

Berdasarkan konspirasi ini Al-Quds akan diserahkan kepada rezim Zionis Israel, pengungsi Palestina di luar negeri tidak berhak kembali ke tanah airnya, dan Palestina hanya terdiri dari wilayah yang tersisa di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Ide ini merupakan sebuah fitnah besar oleh kekuatan hegemoni untuk menghapus hak-hak rakyat Palestina secara permanen. Dengan kata lain hanya dengan pembayaran sejumlah uang, Palestina akan diduduki selamanya.

Republik Islam Iran percaya bahwa Kesepakatan Abad adalah Pengkhianatan Abad terhadap masyarakat Palestina karena ini merupakan kesepakatan antara rezim Zionis Israel dan Amerika tanpa melibatkan pihak Palestina sehingga hanya dapat dikategorikan sebagai rencana pemaksaan kehendak yang akan menemui kegagalan.

Republik Islam Iran menganggap solusi demokratis dan politik untuk isu Palestina adalah memberikan hak menentukan nasib sendiri kepada rakyat Palestina yaitu dengan kembalinya seluruh pengungsi Palestina ke tanah air mereka dan penyelenggaraan referendum komprehensif dan bebas di seluruh wilayah Palestina yang diikuti oleh semua penduduk asli Palestina di hadapan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Ini merupakan solusi dan penyelesaian secara adil atas hak rakyat tertindas Palestina.

Secara umum solusi usulan Republik Islam Iran yang telah terkomunikasikan ke Sekretaris Jenderal PBB mencakup beberapa hal sebagai berikut: Seluruh pengungsi Palestina memiliki hak untuk kembali ke tanah air mereka; Seluruh masyarakat Palestina, penganut agama apa pun (Islam, Kristen, Yahudi) harus menentukan nasib, masa depan dan sistem politik negara mereka melalui proses referendum yang adil dan demokratis; Berdirinya sistem politik pilihan mayoritas rakyat Palestina; Sistem politik pilihan mayoritas masyarakat Palestina akan memutuskan tentang nasib pihak-pihak pendatang ke wilayah Palestina.

Baca juga: Dukung Palestina, Iran tetapkan "Hari Internasional Al-Quds"
Baca juga: Fadli Zon ajak peserta Konferensi Al-Quds tolak usulan Trump

 

Pewarta: Azis Kurmala
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar