Jakarta (ANTARA News) - Ketua Disaster Victim Identification (DVI, identifikasi korban kecelakaan) Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Brigadir Jendral Eddy Saparwoko, Rabu, mengonfirmasikan bahwa jenazah tersangka teroris "Mr. X" yang tewas dalam pengepungan di Temanggung, Jawa Tengah, bukan Noordin M. Top.

"Jenazah yang kita dapatkan di TKP di Temanggung adalah Ibrohim," kata Eddy Saparwoko kepada wartawan dalam jumpa pers di RS Polri dr. Soekanto, Kramatjati, Jakarta Timur.

Eddy menjelaskan panjang lebar mengenai proses identifikasi mayat yang disebutnya ditempuh melalui dua metode, yaitu metode primer dan metode sekunder.

Metode primer ditempuh melalui identifikasi sidik jari, data rekaman gigi, dan tes DNA, yang jika salah satunya memenuhi maka dipastikan cocok dengan identitas mayat.

Sedangkan metode sekunder ditempuh jika tidak ada data primer dan dilakukan melalui pencocokan data sekunder seperti kepemilikan dan jejak lain seperti pakaian, dompet dan sejenisnya yang dimiliki orang yang sudah menjadi mayat.

Berdasarkan metode-metode itu, ternyata identitas Mr. X lebih cocok dengan Ibrahim, ketimbang Noordin M. Top yang selama ini disebut luas oleh media massa.

Sementara Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Inspektur Jendral Polisi Nanan Sukarna, menyatakan polisi telah menangkap dan menahan 8 tersangka pelaku Bom Mega Kuningan, sedangkan 4-5 lainnya dinyatakan buron.

Kedelapan orang teroris yang berhasil ditangani polisi adalah Amir Abdullah, Dani Dwi Permana pelaku bom bunuh di Hotel JW Marriot, Nana pelaku bom bunuh diri di Ritz Carlton, kemudian Ibrohim, Air Setiawan, Eko Sujono, Aris Sutanto, dan Hendra atau Indra.

Pada 8 Agustus 2009, polisi dari Detasemen Khusus 88 Antiteror, mengakhiri 17 jam pengepungan sebuah rumah di Desa Beji, Temanggung, Jawa Tengah, yang disangka sebagai tempat persembunyian teroris paling dicari Indonesia, Noordin M. Top.

Dalam operasi anti teror itu, Densus 88 menewaskan orang yang diduga Noordin M. Top, yang kemudian mendatangkan kritik sejumlah kalangan karena polisi tidak memanfaatkan peluang untuk menangkap hidup-hidup tersangka teroris itu kendati posisi orang itu terpojok dan sendirian. (*)

Pewarta:
Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2009